Minggu , Desember 17 2017
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Antara Ikhlas dan Syirik, bagian ke dua

Antara Ikhlas dan Syirik, bagian ke dua

[Tasawuf Modern, 1961, Prof. Hamka]

Buat bukti lagi ialah seketika orang-orang munafik datang kepada Rosululloh mengakui bahwa Rosululloh itu memang Rosululloh yang sejati, datanglah wahyu Tuhan:

clip_image002

Bilamana datang kepadamu orang-orang munafik, berkata: Kami naik saksi bahwa engkau Rosululloh. Sesungguhnya Alloh tahu bahwa engkau RasulNya, dan Alloh pun menyaksikan pula bahwa orang-orang munafik itu dusta adanya.

Disitu nyata bahwa yang berdusta, bukan mulut tetapi hati mereka tidak mengaku, atau pengakuan mereka tidak dari hati. Sesuai lidah dan hati, itulah ichlas! Lain dimulut lain dihati, bukanlah ichlas, tetapi culas.

Dalam bahasa kita, ichlas itu tidak dipisahkan dengan jujur, yang dalam bahasa halusnya „tulus”, sebab itu selalu orang berkata „tulus ichlas”. Dan ketulusan itu bukanlah di lidah saja, karena lidah mudah berputar, mudah mungkir. Karena lidah berkata atas kehendak hati. Yang penting ialah ketulusan hati:

clip_image004

Jangan terpedaya oleh seorang ahli pidato, lantaran pidatonya; sebelum kelihatan bukti pada perbuatannya.

Karena perkataan itu sumbernya ialah hati. Lidah hanya dijadikan sebagai tanda dari hati.

Cobalah pethatikan firman Tuhan tentang amal kebaikan, bagaimana luas lapangannya dan dari mana sumber lapangan yang luas itu. Tuhan berfirman:

clip_image006

Tidaklah jasa kebaikan itu, bahwa engkau palingkan mukamu ke Timur atau ke Barat. Tetapi jasa kebaikan ialah beriman dengan Alloh dan hari achirat, dengan malaikat dan Nabi; dan memberikan harta kepada yang berhak menerima dari kaum kerabat, anak yatim, orang miskin, orang yang tak tentu rumah tangganya[1], budak yang ada harapan akan dimerdekakan ; dan mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, dan orang-orang yang meneguhi perjanjian bilamana mereka berjanji; dan orang yang sabar diwaktu kesusahan dan kesempitan, serta kesusahan yang tiba-tiba. Mereka itulah orang-orang yang benar (tulus) dalam pengakuannya, dan mereka itulah orang yang muttaqin.

Banyak benar syarat2 dalam ayat ini untuk menentukan alamat orang2 yang bahagia. Kadang-kadang telah ada yang pertama, tinggal yang Ke dua, dan ada yang ke empat, kurang yang ke lima. tetapi disitu nyata dimana simpul perkara:

Iman jadi dasarnya,

Amal jadi buktinya,

Menolong sesama manusia jadi syi’arnya.

Sabar jadi sandarannya.

Setelah cukup semuanya, barulah bergelar orang yang “tulus”. Dari pada ketulusan, timbullah perasaan taqwa.

Dalam ayat itu terkandung 3 perhubungan:

1. Perhubungan dengan Tuhan, dengan iman dan Cabang-cabangnya.

2. Perhubungan dengan sesama machluk, dengan dasar bertolongtolongan, gotong-royong.

3. Perhubungan dengan diri sendiri, mendidiknya jadi Orang sabar dan jadi orang taqwa.

Sabda Rosululloh tentang ayat itu :

clip_image008

Barang siapa yang mengamalkan ayat ini, maka telah menyempumakan dia akan iman.

Sekian.


[1] Biasanja ditafsirkan orang ibnu sabil dengan orang dalam perjalanan (musafir). Sajid Rasjid Ridha mengatakan maksudnja. ialah orang Yang tak tentu rumah tangganja dirundung malang. Arti tepat dari Ibnis sabil ialah ”anak jalan-raja”.

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top