Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Antara Ikhlas dan Syirik, bagian pertama

Antara Ikhlas dan Syirik, bagian pertama

Bismillahirrohmanirrohiim. Apa itu Ikhlas? Mari kita simak uraian Buya Hamka.

[Tasawuf Modern, 1961, Prof. Haji Abdul Malik Karim Amrulloh]

buya-hamka-dalam-dokumentasi-ed-zulverdi1Ichlas artinya bersih, tidak ada campuran, ibarat emas, emas tulen, tidak ada bercampur perak beberapa persenpun. Pekerjaan yang bersih terhadap sesuatu, bernama ichlas. Misalnya seorang mengerjakan upahan, semata-mata karena mengharapkan puji majikan, maka ichlas amalnya itu kepada majikannya; atau dia bekerja memburu harta dari pagi sampai sore, dengan tidak bosan-bosan, karena semata-mata memikirkan perut, maka ichlaslah dia kepada perutnya. Lawan ichlas ialah „isyrak”, artinya berserikat atau bercampur dengan yang lain. Antara ichlas dengan isyrak tidak dapat dipertemukan, sebagaimana tidak pula dapat dipertemukan diantara gerak dengan diam. Kalau ichlas telah bersarang dalam hati, isyrak tak kuasa masuk, kecuali bila ichlas telah terbongkar keluar. Demikian juga sebaliknya, keluar segala perasaan isyrak dahulu, baru ada tempat buat ichlas.

Tempat Ichlas dan isyrak ialah hati. Bilamana seorang berniat mengerjakan suatu pekerjaan, maka mulai melangkah sudah dapat ditentukan kemana tujuan dan bagaimana dasar. Ada orang yang berniat hendak menolong fakir dan miskin. Zat pekerjaan memberi pertolongan, adalah baik, tetapi belum tentu baik jika dasarnya tidak subur. Barulah akan baik dari zat sampai kepada sifatnya jika didasarkan kepada ichlas, yaitu menolong fakir dan miskin karena Alloh, bukan karena semata mengharap puji dan sanjung manusia. Oleh sebab itu, terpakailah perkataan ichlas itu terhadap Alloh semata-mata.

Ichlas tidak dapat dipisahkan dengan shiddiq (benar) tulus. Lurus dan benar niat dan sengaja, karena Alloh belaka, tidak mendustai diri dengan perkataan ”karena Alloh”, padahal didalam hati bersarang karena puji, karena mencari nama dan lain-lain. Orang yang mulutnya mengaku benar, dan perbuatannya sendiripun serupa benar, tetapi hatinya berdusta, masuk jugalah dia dalam golongan pendusta.

Untuk jadi perbandingan, disini kita salinkan hadits Rosululloh SAW:

,,Manusia Yang mula-mula akan kena pertanyaan di hari kiamat ialah 3 orang. Seorang ialah orang yang diberi Alloh ilmu pengetahuan. Pada waktu itu berfirmanlah Alloh: Apakah yang sudah engkau perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui itu? la menjawab: ,Ya Rabbi, dengan ilmu hamba itu hamba bangun tengah malam (sembahyang), hamba berjaga ditepi siang (menyiarkannya kepada orang yang perlu menerima)”. Tuhan bersabda: ,,Engkau dusta!” Malaikat yang ada pun berkata: ,,Engkau dusta! Maksud engkau hanyalah supaya disebut orang engkau alim.” Memang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.

Seorang lagi ialah laki-laki yang diberi Alloh harta benda. ‘Maka berfirmanlah Alloh: ,,Engkau telah Kami beri nikmat, apakah yang sudah engkau perbuat dengan nikmat Kami itu?” Dia menjawab: „Ya Rabbi, harta benda itu telah hamba sedekahkan tengah malam dan siang hari”, Tuhanpun berfirman: ..Engkau dusta!” Malaikatpun berkata pula: ,,Engkau dusta, maksud engkau hanyalah supaya engkau dikatakan orang seorang dermawan”. Memang demikianlah yang telah dikatakan orang terhadap dirinya.

Seorang lagi laki-laki yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Alloh, maka bersabda Tuhan kepadanya: „Apakah yang telah engkau kerjakan ? Dia menjawab: „Ya Rabbi, Engkau suruh hamba jihad pergilah hamba kemedan perang, dan hamba mati terbunuh”. Tuhanpun berfirman: ,,Engkau dusta!”. Dan Malaikat yang banyak berkata pula : ,,Engkau dusta, maksud engkau hanyalah supaya dikatakan orang suami gagah berani”. Memang demikianlah perkataan orang terhadap kepada dirinya.

Setelah berkata demikian, Nabi bersabda pula: „Hai Abu Hurairah. mereka itulah machluk yang mula-mula sekali akan menderita api neraka jahanam dihari kiamat”. Dari salinan hadis yang panjang itu terbuktilah perkataan kita diatas, bukan zat perbuatan itu yang dusta, tetapi dasar tempat tegak-nya. yaitu tidak ichlas menjadi pangkalnya.

[bersambung….]

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top