Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Apa kata para Ahli Hikmah tentang Bahagia?

Apa kata para Ahli Hikmah tentang Bahagia?

Pendapatan Budiman Tentang Bahagia

Ditanyakan orang kepada Yahya bin Chalid Albarmaky, seorang wazir yang masyhur didalam Daulat Bani Abbas: Apakah bahagia itu, tuanku?

Jawabnya: Sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud.

Kebahagiaan itu pernah dijanjikan oleh seorang ahli syair bernama Hutaiah, demikian:

image_thumb8

“Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpulkan harta benda; tetapi taqwa Alloh itulah dia bahagia.

Taqwa akan Alloh itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan. Pada sisi Alloh sahajalah kebahagian pada orang yang taqwa.”

Ahli syair yang lain, yang amat masyhur dalam perkembangan agama Islam, yaitu Zaid bin Tsabit, ahli syair Rasulullah, berkata:

image_thumb9

“Jika petang dan pagi seorang manusia telah beroleh aman sentosa dari gangguan manusia, itulah dia orang yang bahagia.”

Orang yang berpegang teguh dengan agama, kebahagiaannya ialah pada meninggalkan barang yang terlarang, mengikut yang tersuruh, menjauhi yang jahat, mendekati yang baik. Bahagianya ialah pada mengajarkan agama.

Ibnu Chaldun berpendapat: Bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikut garis-garis yang ditentukan Alloh dan peri kemanusiaan.

Abu Bakar Ar Razi tabib Arab yang masyur itu menerangkan, bahwa bahagia yang dirasa oleh seorang tabib, ialah jika dia dapat menyembukan orang yang sakit dengan tidak mempergunakan obat, cukup dengan mempergunakan aturan makanan saja.

Imam Al-Ghazali, orang tua dan ikutan dari segala tabib jiwa berpendapatan bahwa bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Alloh. Kata beliau:

Ketahuilah bahwa bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabi’at kejadian masing-masing, maka kelezatan maka ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain ditubuh manusia. Adapun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Alloh, karena hati itu dijadikan adalah buat pengingat Tuhan. Tiap-tiap barang yang dahulunya tiada dikenal oleh manusia, bukan buatan gembiranya jika telah dikenalnya. Tak ubahnya dengan orang yang baru pandai bermain catur, dia tak berhenti-henti bermain, meskipun telah dilarang berkali-kali, tidak sabar hatinya kalau tidak bertemu dengan buah dan papan catur itu. Demikianlah pulalah hati, yang dahulunya belum ada ma’rifatnya kepada Tuhannya, kemudian itu dia mendapat nikmat mengenal-Nya, sangatlah gembiranya dan tidak sabar dia menunggu masa akan bertemu dengan Tuhan itu, karena kelezatan mata memandang yang indah tadi. Tiap-tiap bertambah besar ma’rifat bertambah pula besar kelezatan.

Seorang hamba rakyat akan gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja perkenalan dengan Alloh, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Alloh. Bukankah segala kemuliaan alam itu hanya sebahagian dari anugerah Alloh? Bukankah segala keganjilan dalam alam itu hanya sebahagian yang sangat kecil dari keganjilan Maha Kuasa Alloh?

Oleh sebab itu tidaklah ada suatu ma’rifat yang lebih lezat dari pada ma’rifatullah. Tidak ada pula suatu pemandangan yang lebih indah dari pemandangan Alloh. Sebab segala kelezatan dan kegembiraan, kesenangan dan sukacita yang ada diatas dunia ini, semuanya hanya bertakluk kepada pertimbangan nafsu, timbul sebab pertimbangan nafsu, dan semuanya akan berhenti perjalanannya apabila telah sampai kebatas, yaitu kematian. Tetapi kelezatan ma’rifatullah bukan bertakluk dengan nafsu, dia bertakluk dengan hati. Maka perasaan hati tidak berhenti sehingga mati. Hati nuraini itu tidak rusak lantaran perpindahan hidup dari pada fana kepada baka. Bahkan bila tubuh kasar ini mati, bertambah suci dan bersihkan ma’rifat itu, karena tidak ada pengganggunya lagi, sebab kekuasaan iblis, hawa dan nafsu tidak sampai kesana. Hati nuraini itu telah keluar dari alam yang sempit, masuk kedaerah alam yang luas, keluar dari gelap gulita menuju terang benderang.

Sekian.

Oleh: Professor Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrulloh (HAMKA)

Tulisan ini dikutip dari Buku Tasawuf Modern karya Prof. Hamka, diterbitkan oleh Jayamurni Jakarta tahun 1961

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

One comment

  1. MELIHAT ALLOH ITU lebih nikmat daripada menikmati seluruh isi surga.
    ALLOH ITU LEBIH indah daripada indahnya surga.
    ALLOH BERFIRMAN : barang siapa melihat ALLOH. maka di beri nikmat kebahagiaan menurut bilangan makhluk( jumlah bahagianya makhluk (makhluk surgapun )di kumpulkanpun masih lebih bahagia dan lebih nikmat memandang ALLOH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top