Jumat , Desember 15 2017
Breaking News
You are here: Home / Buletin Ad-Dakwah / Badal Haji dalam Tinjauan Fiqih

Badal Haji dalam Tinjauan Fiqih

oleh: Ustadz H. Imanan S.Ag. *)

Muqoddimah

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. [QS. an-Najm (53): 38-39]

badal haji dalam tinjauan fiqih, muhammadiyah surabaya

Badal Haji adalah sebuah istilah yang dikenal dalam fiqih Islam. Istilah yang lebih sering digunakan dalam kitab-kitab fiqih adalah al-hajju ‘anil ghair (الحج عن الغير), yaitu berhaji untuk orang lain.

Jadi yang dimaksud dengan badal haji adalah kegiatan menghajikan orang yang telah meninggal (yang belum haji) atau menghajikan orang yang sudah tak mampu melaksanakannya (secara fisik) disebabkan oleh suatu udzur, seperti sakit yang tak ada harapan sembuh.

Dan pada kenyataannya memang seseorang benar-benar melakukan ibadah haji, namun dia meniatkan agar pahalanya diberikan kepada orang lain, baik yang masih hidup namun tidak mampu pergi maupun yang sudah wafat.

Badal Haji masalah yang sampai sekarang menimbulkan kontroversial. Oleh karena itu, dalam tulisan yang ringkas ini kami mencoba menjernihkan masalah tersebut dan kami berharap penjelasan ini bisa mendatangkan maslahat bagi semua pihak khususnya yang saling berbeda pendapat dalam masalah ini.

Kita semua tahu, ibadah haji adalah ibadah yang amat mulia. Jadi, amat tidak pantas bila badal haji menjadi sebuah profesi, menjadi ajang bisnis, dan bahkan dipakai sebagai sarana menumpuk harta.

Semua ulama sepakat bahwa haji adalah ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu, sekali dalam seumur hidupnya. Namun ulama berbeda pendapat dalam hal boleh tidaknya melaksanakan badal haji.

Imam Maliki tidak memperbolehkan badal haji, kecuali kepada orang yang sebelum wafatnya sempat berwasiat agar dihajikan. Ini pun dengan harta peninggalannya sejauh tidak melebihi sepertiganya.

Alasan ulama yang tidak memperbolehkan badal haji adalah bahwasanya haji itu hanya diwajibkan kepada orang Islam yang mampu, baik fisik maupun keuangan. Jadi, kalau ada orang yang sakit atau lemah secara fisik maka ia dianggap orang yang tidak mampu, karena itu ia tidak berkewajiban haji. Demikian juga orang yang telah wafat, ia dianggap sudah tidak berkewajiban untuk haji. Karena itu orang yang lemah secara fisik hingga tidak kuat untuk berhaji apalagi orang yang sudah wafat, maka kepada orang tersebut tidak perlu dilakukan badal haji. Orang ini dipandang telah gugur kewajiban hajinya.

Badal haji ini menjadi masalah mengingat ada beberapa ayat al-Qur’an yang dapat difahami bahwa seseorang hanya akan mendapatkan pahala dari hasil usahanya sendiri. Artinya, seseorang tidak dapat melakukan suatu peribadatan untuk orang lain, pahala dari peribadatan itu tetap bagi orang yang melakukannya bukan bagi orang lain.

Argumentasi ulama yang tidak memperbolehkan badal haji:

1. Ibadah haji itu, sungguhnya terdiri dari dua macam yaitu ibadah fisik dan ibadah harta, namun unsur fisiknya lebih dominan. Karena itu ibadah haji tidak boleh diwakilkan atau digantikan oleh orang lain.

2. Berdasarkan al-Qur’an surat al-Najm (53): 39, Alloh berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya

Dan ayat-ayat lain, diantaranya:

…ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan la mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya … [QS. al-Baqoroh (2): 286]

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun, dan kamu tidak dibalas kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Yaasin (36): 54]

Serta hadits:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rosululloh saw. Bersabda: apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakannya. [HR. Muslim]

Ayat-ayat dan hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa seseorang hanya akan dapat pahala jika ia sendiri yang melakukannya. Karena itu amal ibadah yang dilakukan untuk atau atas nama orang lain, seperti badal haji, tidak akan ada manfaatnya. Jadi sia-sia saja.

3. Mengenai beberapa hadits yang menjelaskan adanya perintah Nabi saw. kepada sejumlah sahabat untuk melakukan haji atas nama orang tua dan saudaranya itu, oleh kelompok ulama ini, dinilai tidak shahih secara matan maupun secara sanad. Karena dianggap bertentangan dengan al-Qur’an surat an-Najm ayat 39, al-Baqoroh ayat 286, Yaasin ayat 54, dan hadits riwayat Imam Muslim di atas.

Pendapat ini didukung oleh ulama Malikiyyah. Al-Imâm Ibnu Hajar telah menuqilkan dari Sa’îd bin Manshûr dan beberapa ulamâ selainnya dengan sanad yang shahîh, bahwa Ibnu ‘Umar berkata:

clip_image002

Tidak boleh bagi seseorang untuk menghajikan orang lain, begitu-pula pendapat dari Mâlik dan al-Laits. [Fathul-Bârî, juz IV, hal. 66]

Wallohu ‘alam bis showab

*) Penulis adalah Khotib, Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Jawa Timur, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Cabang & Ranting PDM Surabaya

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

One comment

  1. Artikel yang sangat bermanfaat sekali.

    Sekadar info, Anda juga bisa belajar mengenai Fiqih lewat software ensiklopedi Fiqih, software tentang fiqih lengkap, pertama di Asia berbahasa Indonesia.

    Info lebih lengkap klik http://ensiklopedifiqih.com

    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top