Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Berita / Bencana Alam dan Ayat-Ayat Semesta

Bencana Alam dan Ayat-Ayat Semesta

Intisari Pengajian Pencerah 25 Mei 2014, oleh Dr. Agus Purwanto, Fisikawan ITS, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya

“Bencana Alam dan Ayat-ayat Semesta”

image

Sudah jamak umat Islam menyadari bahwa dalam bidang sains dan teknologi sangat jauh tertinggal dengan umat lain yang tidak bersyahadat. Contoh nyatanya adalah umat Islam banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan fikiran untuk berdebat, berkutat, dan berputar pada masalah-masalah fiqh (hukum). Padahal di dalam al-Qur’an, kitab suci umat Islam, ribuan ayat mengajak kita untuk berfikir dan bermunajat tentang jagat raya alam semesta ciptaan Alloh SWT. Hanya ratusan ayat saja yang membahas tentang masalah fiqh. Lalu mengapa kita tidak segera beranjak mengejar ketertinggalan, padahal titik pangkal kemajuan manusia menuju umat yang terbaik adalah penguasaannya dalam bidang sains dan teknologi.

Al-Qur’an diturunkan kepada manusia agar tidak hanya dibaca dan didengungkan, namun juga dikaji lebih mendalam tentang ayat-ayat yang berkaitan semesta. Bagaimana kejadian alam semesta, tentang bumi dan segala isinya, tentang kekuatan alam, tentang langit dan alam raya, tentang cahaya, tentang surga dan neraka, tentang kehidupan hewan dan tumbuhan yang menjadi hikmah dan manfaat bagi manusia, dan sejuta rahasia ayat-ayat Alloh lainnya yang belum terpecahkan.

Negara-negara barat yang non muslim itu sangat getol dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan manusia dan sebagian juga demi kehancuran (peperangan). Sehingga mereka seakan menjadi penguasa dunia. Dukungan pemeringath negara barat terhadap penelitian dan pengembangan sains begitu besar, tidak hanya dana namun juga sudah masuk dalam kebijakan negara. Sedangkan pada negara-negara Muslim sangat minim bahkan dikatakan nol.

Apakah umat Islam masih terkungkung di dalam alam kebodohan sehingga tidak ada sedikitpun insan yang melek terhadap sains? Jawabannya tidak juga. Banyak ilmuwan-ilmuwan terkenal dunia dan meraih nobel di bidang sains adalah mereka yang Muslim. Bahkan jika ditelusur dalam sejarah, dunia Islam pada abad pertengahan sangat berjaya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat dunia yang bersumberkan al-Qur’an. Sementara dunia barat masih dalam kungkungan kebodohan. Namun sayangnya kini kondisinya sangat ironi. Ilmuwan-ilmuwan Muslim dari negara Islam justru lebih berkembang di negara barat daripada di negaranya sendiri.

Oleh karena itu, sebagai jawaban dari tantangan yang berkecamuk dalam fikirannya, maka Gus Pur pun menggagas didirikannya Pesantren Sains – Trensain yang ia terapkan pada dua gerakan Islam di Indonesia, yaitu di Muhammadiyah dan NU. Gus Pur menerapkan Trensain pada Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah di Sragen dan Ponpesnya Gus Sholah Tebuireng, Jombang, guna menjawab impian umat akan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muda dari Pesantren.

Maka, benarlah apa yang Albert Einstein katakan: “Science without religion is blind”, ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta. Oleh sebab itu, kita semua berimajinasi akan adanya ilmu Matematika, Biologi, Geografi yang sejak awal dibangun dan didasarkan dari kitab suci al-Quranulkarim. Selain itu, Umat mendambakan bangkitnya kembali peradaban Islam yang bertumpu pada sains Qur’ani. Tanpa Sains tidak ada masa depan. Tanpa nilai-nilai Qur’an, sains pun cenderung membawa malapetaka. Mimpi melahirkan para “Saintis Muslim” yang jujur dan bermoral kini menjadi tugas kita bersama.

Editor: Adityo Yudono

Sumber: Majalah Lazismu, edisi Juni 2014

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top