Minggu , November 19 2017
Breaking News
You are here: Home / Buletin Ad-Dakwah / Hukum Bunga Bank adalah Riba yang Haram

Hukum Bunga Bank adalah Riba yang Haram

Oleh: Ust. H. Imanan, S.Ag.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Alloh supaya kamu mendapat keberuntungan. [Ali Imron 130]

Dalam tulisan yang singkat ini, kami mengajak pembaca untuk mencermati kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat kita saat ini. Dari pengamatan selintas itu, dapat kita ketahui, ternyata masih ada sebagian orang Islam yang meragukan tentang diharamkannya bunga bank. Di antara mereka yang menolak keharaman bunga bank, ada yang cukup lihai berdalih dengan menyatakan, “Kami bukan meragukan diharamkannya riba yang telah dilarang di dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rosululloh saw. Riba jelas haram, dan termasuk dosa besar. Tetapi bunga bank itu berbeda dengan riba yang dilarang agama. Sehingga karenanya bunga bank itu tentu tidak termasuk riba yang dilarang tersebut.”

Bahkan ada yang lebih nyeleneh lagi menyatakan, riba yang dilarang itu adalah seperti yang dipraktekkan dan dilakukan di zaman jahiliyah, di masa Nabi saw. Sementara sistem perbankan yang beroperasi di masa kini, belum ada sama sekali di zaman Nabi saw itu. Dengan demikian maka bunga bank tidak sama dengan riba. Sehingga tentu tidak ada dalil yang pasti, yang melarangnya secara mutlak.

image

Argumentasi yang demikian itu sama dengan orang yang mengatakan, “Aku tidak meragukan tentang diharankannya Khamr (minuman keras). Tetapi Bir, whisky dan Brendy tidak termasuk Khamr yang dilarang itu. Minuman-minuman itu kan tidak termasuk khamr yang diharamkan dalam al-Qur’an dan hadits. Demikian pula bir dengan berbagai merek dagangannya, di zaman sekarang, tidak termasuk ke dalam kelompok khamr yang diharamkan dalam syariat agama, dst… dst.” Karena menurut mereka, Bir, Whisky dan Brendy itu tidak ada di zaman Nabi saw Jadi tampak jelas cara berpikir yang kacau dan ngawur serta dalih semacam itu merupakan argumentasi, dibuat-buat, dan terlalu dipaksakan. Cara berpikir seperti itu adalah cara berpikirnya syaitan, seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [al-Baqoroh ayat 275]

Jelas itu merupakan dalih dan pernyataan yang membahayakan, serta memelintir kebenaran. Memutar-balikkan logika nalar yang sehat. Padahal Riba itu sudah sangat jelas dan terang, yaitu az-Ziyadah, artinya: Tambahan. Dan yang dimaksudkan di sini ialah tambahan atas modal, tanpa menyebutkan atau mempersyaratkan nominal sama sekali, sedikit dianggap sepele, ataupun banyak dan memberatkan.

TRANSAKSI PERBANKAN

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa basis yang digunakan dalam praktek perbankan (konvensional) adalah menggunakan basis bunga (interest based), di mana salah satu pihak (nasabah), bertindak sebagai peminjam dan pihak yang lainnya (bank) bertindak sebagai pemberi pinjaman. Atas dasar pinjaman tersebut, nasabah dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran utang tersebut, dengan tidak mempedulikan, apakah usaha nasabah mengalami keuntungan ataupun tidak.

image

[sinarharapan.co]

Praktek seperti ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba jahiliyah pada masa jahiliyah. Hanya bedanya, pada riba jahiliyah bunga baru akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi utang pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada praktek perbankan, bunga telah ditetapkan sejak pertama kali kesepakatan dibuat, atau sejak si peminjam menerima dana yang dipinjamnya. Oleh karena itulah tidak heran, jika banyak ulama yang mengatakan bahwa praktek riba yang terjadi pada sektor perbankan saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah.

Selain terjadi pada aspek pembiayaan sebagaimana di atas, riba juga terjadi pada aspek tabungan. Di mana nasabah mendapatkan bunga yang pasti dari bank, sebagai kompensasi uang yang disimpannya dalam bank, baik bank mengalami keuntungan maupun kerugian. Berbeda dengan sistem syariah, di mana bank syariah tidak menjanjikan return tetap, melainkan hanya nisbah (yaitu prosentasi yang akan dibagikan dari keuntungan yang didapatkan oleh bank). Sehingga return yang didapatkan nasabah bisa naik turun, sesuai dengan naik turunnya keuntungan bank. Istilah seperti inilah yang kemudian berkembang namanya menjadi sistem bagi hasil.

RIBA
Di bidang transaksi ekonomi, Islam melarang keras praktik riba. Al-Dhahabi dalam kitab Al-Kabair menjadikan riba sebagai salah atu perilaku dosa besar yang harus dijauhi. Secara sederhana riba berarti menggandakan uang yang dipinjamkan atau dihutangkan pada seseorang.

DEFINISI RIBA

Secara etimologis (lughawi) riba (الربا) adalah isim maqshur, berasal dari rabaa – yarbuu. Asal arti kata riba adalah ziyadah yakni tambahan atau kelebihan.

Secara terminologis (istilah) riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan). (Lihat Ibnul Arabi dalam أحكام القرأن).

image

Macam-macam Riba (ppimi.org)

MACAM-MACAM RIBA DALAM ISLAM

Ada dua macam jenis riba yaitu riba al-fadhl (ربا الفضل) dan riba al-nasi’ah (ربا النسيئة).

Riba al-Fadhl disebut juga dengan riba jual beli adalah penambahan dalam jual-beli barang yang sejenis.

Riba ini terjadi apabila seseorang menjual sesuatu dengan sejenisnya dengan tambahan, seperti menjual emas dengan emas, mata uang dirham dengan dirham, gandum dengan gandum dan seterusnya. Lebih jelasnya dapat dilihat dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut:

Bilal datang kepada Rosululloh saw dengan membawa kurma kualitas Barni (baik). Lalu Rosululloh sawbertanya kepadanya, “Dari mana kurma itu?.” Ia menjawab, “Kami punya kurma yang buruk lalu kami tukar badli dua liter dengan satu liter”. Maka Rosululloh bersabda: “Masya Alloh, itu juga adalah perbuatan riba. Jangan kau lakukan. Jika kamu mau membeli, juallah dahulu kurmamu itu kemudian kamu beli kurma yang kamu inginkan.

Riba an-Nasi’ah disebut juga riba hutang piutang adalah kelebihan (bunga) yang dikenakan pada orang yang berhutang oleh yang menghutangi pada awal transaksi atau karena penundaan pembayaran hutang.

Syaikh Dr. Yusuf Qordhowi memberikan penjelasan yang lebih rinci lagi dalam kitabnya yang terkenal “Halal dan Haram dalam Islam”, yakni: Memberikan (miminjamkan) sejumlah harta kepada orang lain untuk dipakai dalam suatu kurun waktu yang ditentukan, dengan syarat dikembalikan bersama bunga yang telah ditentukan pula, berdasarkan lamanya waktu pemakaian modal tersebut. Sedangkan modal itu sendiri tetap terjamin, tidak berkurang sedikit pun juga; apakah dipakai maupun tidak, dikelola dan menghasilkan untuk atau justru merugi, dan seterusnya. Inilah Riba yang dilakukan oleh masyarakat Jahiliyah, dan sekarang diterapkan pula di dunia perbankan, yang disebut dengan istilah “interest“ atau bunga bank.

Padahal Alloh telah menandaskan dengan tegas

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. [al-Baqoroh 278]

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. [al-Baqoroh 279]

Diharamkannya bunga bank sebagai riba yang dilarang agama telah DIFATWAKAN OLEH MAJELIS TARJIH DAN TAJDID PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH NOMOR: 08 TAHUN 2006

Dan ditegaskan pula oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) pada tahun 2000, setelah lembaga umat ini menggali dan mendalami dalil-dalil syar’i dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi saw. Ketetapan DSN itu menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan kaidah Syariah. Dan lebih tegas lagi, bunga bank dinyatakan sama dengan riba, sehingga menjadi haram, dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam Keputusan Fatwa MUI No. 1 tahun 2004.

Jauh sebelum Fatwa MUI Tahun 2004 itu, berbagai ULAMA DAN LEMBAGA INTERNASIONAL TELAH MENYATKAN DENGAN TEGAS MENGHARAMKAN BANK KONVENSIONAL, DI ANTARANYA :

  1. Pertemuan 150 Ulama’ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank.
  2. Majma’al Fiqh al-Islamy, Negara-negara OKI yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22 Desember 1985;
  3. Majma’ Fiqh Rabithah al’Alam al-Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di Makkah, 12-19 Rajab 1406
  4. Keputusan Dar It-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979;
  5. Keputusan Supreme Shariah Court, Pakistan, 22 Desember 1999;
  6. Majma’ul Buhuts al-Islamyyah, di Al-Azhar, Mesir, 1965.
  7. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syari’ah.
  8. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa sistem perbankan konvensional tidak sesuai dengan kaidah Islam.
  9. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung.
  10. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
  11. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqa’idah 1424/03 Januari 2004, 28 Dzulqa’idah 1424/17 Januari 2004, dan 05 Dzulhijah 1424/24 Januari 2004.

KESIMPULAN HUKUM BANK KONVENSIONAL DALAM ISLAM

  1. Mayoritas ulama (jumhur) sepakat bahwa praktik bunga yang ada di perbankan konvensional adalah sama dengan riba dan karena itu haram. Walaupun ada sejumlah layanan perbankan yang tidak mengandung unsur bunga.
  2. Bagi seorang muslim yang taat dan berada dalam kondisi yang ideal dan berada dalam posisi yang dapat memilih, tentunya akan lebih baik dan berusaha menjauhi praktik bank-bank konvensional yang diharamkan. Yaitu dengan beralih ke bank-bank Syariah. Namun, apabila terpaksa (tidak ada bank-bank Syariah), Anda dapat memanfaatkan segala layanan bank konvensional karena ada sebagian ulama yang menghalalkannya.

Sekian mudah-mudahan bermanfaat. Wallohu a’lam bis showab.

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

One comment

  1. Rentenir Kuno : Dana induk pinjaman masih utuh terus samapai kapanpun karena si peminjam diwajibkan denda/bunga pada saat jatuh tempo jika belum dapat melunasi pinjamannya

    Bank : Dana induk pinjaman habis seiring cicilan pervulannya

    Bagaimana …??? Apakah sama…???

    Terus yang dimaksud kelebihan itu apakah menurut anda hanya melihat nilai nominalnya….??? Sebaiknya dihitung bersama karena nilai riil uang turun tiap, harga barang naik tiap tahunnya

    Kalau anda pinjam uang saya Ro. 5.000.000 tahu ini (2015) dan anda baru bisa mengembalikan tahun 2020 maka saya pasti minta dilebihkan karena nilai Rp. 5.000.000 tahun ini tidak sama dengan 5 tahun mendatang. Bagaimana ini….?? Masih dikategorikan kelebihan juga…?? Tolong dipikirkan….!!!

    Peminjam bank tidak seluruhnya untuk usaha, ada juga KPR, Beli motor. karena memang nggak mampu beli cash. Jika peminjam bank pengusaha, maka resiko dia harus mengembalikan pinjaman terlepas usahanya untung atau bangkrut

    Jumlah populasi manusia juga sudah banyak, lahan makin menyempit harga tanah merangkak naik belum lagi ada pendapat haram membatasi keturunan sehingga keluarga punya anak banyak tapi nggak mampu membiayai hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top