Minggu , Desember 17 2017
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Jalan Pertama menuju Bahagia: Tekad yang Bersih

Jalan Pertama menuju Bahagia: Tekad yang Bersih

[Tasawuf Modern, 1961, Prof. Hamka]

Jalan menuju bahagia boleh sukar, tetapi boleh pula mudah. Meskipun sekian banyak uraian pendapat ahli-ahli, kita tidak mau terlalu berenang dalam chayat. Mari kita pilih yang paling pendek. Tetapi meskipun pendek, jangan lupa bahwa durinya banyak juga. Kalau tak banyak duri, tentu tak terasa enaknya berburu. Kalau tak mau payah, suruh tangkap seekor ikan, masukkan dalam belanga, lalu kail saja, habis perkara.

Mana jalan yang pendek dan mudah itu ? Jalan itu ialah agama! Bukan lantaran agama itu melarang orang berfikir. Maksud agama ialah merentangkan jalan, sedang fikiran ialah untuk membanding dan menimbang. Maka tidaklah susah mencapai bahagia — menurut agama — kalau telah tercapai 4 perkara:

I’tikad yang bersih, Yakin, Iman dan Agama.

I’tikad

Asal kalimat ialah dari pada a’qada dipindahkan kepada i’tiqado, artinya ikatan. Kalau telah ber-i’tiqad artinya hati manusia telah terikat dengan suatu kepercayaan atau pendirian.

I’tikad artinya berasal dari pada mengikat tepi-tepi barang, atau mengikatkan suatu sudut kepada sudut yang lain. Jadi timbulnya i’tikad didalam hati, ialah setelah lebih dahulu fikiran itu terbang dan lepas entah kemana-mana, tidak berujung dan tak tentu tempat hinggap. Kemudian didapatlah suatu kesimpulan pandangan, lalu menjadi keyakinan. Terikat tidak rerak lagi.

Sebab itu maka suatu pendapat yang tidak timbul dari pertimbangan akal fikiran, yang hanya lantaran taklid buta, lantaran turut-turutan, -belumlah bernama i’tikad. Orang yang beri’tikad di dalam suatu perkara tidaklah mau mengerjakan suatu atau menghentikan, kalau belum bersetuju dengan i’tikadnya. Manusia sejati tidaklah suka mengerjakan atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan tidak berfikir. Kesimpulan fikirannya itulah i’tikadnya.

Keputusan i’tikad itulah yang diturutkan oleh diri. Kalau manusia melawan i’tikadnya, dikerjakan pekerjaan yang dilarang oleh i’tikadnya atau dihentikannya pekerjaan yang disuruhkannya, ketahuilah bahwa orang itu telah didorong oleh kekuatan lain bukan kekuatan asli dari kehendak jiwanya, melainkan kekuatan musuhnya, yaitu hawa nafsunya.

Selama dia bekerja melawan i’tikadnya, selama itu pula hati sanubarinya memberontak melawan perbuatannya. Kalau perbuatan salah itu langsung, timbullah rasa yang lain dalam diri. yaitu sesal. Dalam bahasa Indonesia i’tikad itu telah berobah menjadi tekad.

Quran menerangkan keadaan itu demikian:

image 

“dan orang2 yang apabila mengerjakan suatu perbuatan keji, atau menganiaya dirinya sendiri, maka ingat mereka akan Alloh. Lalu mereka memohon ampun atas kesalahan itu serta tidak tetap juga mereka atas perbuatan itu, sedang mereka telah tahu.” [Ali Imran: 135-136]

Orang yang tidak mempunyai i’tikad, mengulai kemana gerak angin saja, kemari bukan kesana entah. Diputar dan dilantikkannya kumis kalau lawan belum kelihatan. Tetapi kalau bertemu lawan itu ditempat yang lengang, seorang sama seorang, tidak ada yang akan mengetengahi, maka kumisnya itu dibarutnya turun.

Orang yang begini, meskipun bagaimana datang dan terangnya kebenaran dimukanya, tidaklah ada nilai hidupnya sebab kompas jantungnya telah rusak, sebab itu jarumnya tidak dapat menunjukkan utara dan selatan lagi. Jiwanya telah dimakan karat. Orang yang begini selamanya tidak akan mendapat i’tikad yang jernih, sebab fikirannya tidak bekerja lagi. Atau laksana arloji yang telah putus pernya. Kecuali kalau diperbaiki oleh tukang arloji yang pandai. Tetapi harus diingat, kalau sekali per itu telah rusak dan kerapkali diperbaiki, tentu jalannya tidak sebaik dahulu lagi. Ada pepatah Arab:

Peliharalah keindahan hati dari suatu penyakit, karena sukar sekali memperbaikinya kalau sekali telah rusak.

Itulah sebabnya lebih banyak kita disuruh menjaga hati dari pada mengobatinya. Karena ongkos penjagaan tidak sebanyak ongkos pengobatan. [bersambung]

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top