Minggu , Desember 17 2017
Breaking News
You are here: Home / Buletin Ad-Dakwah / Kaum Lemah yang Dominan

Kaum Lemah yang Dominan

Oleh: Drs. H. Syamsun Aly, M.A.)*

”Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba di antara hamba-hamba kam yang shalih; lalu kedua isteri itu berkhianat pada suami keduanya, Maka kedua suami tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk”. [QS. at-Tahrim (66): 10]

Secara fisik wanita memang terlihat sebagai makhluk yang lemah. Di samping itu ia juga dipandang sebagai sosok penurut (Jawa: manut) kepada kaum pria (suaminya). Bahkan ada pepatah; “Wong Wedok iku Suwargo nunut Neroko katut”. Artinya kalau suaminya masuk surga maka istrinya turut masuk surga, dan kalau suaminya masuk neraka maka istrinya juga turut masuk neraka.

Anggapan dan pepatah di atas jelas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dalam Islam yang menempatkan kaum pria dan wanita sejajar dalam beramal dan memperoleh balasan dari buah amalnya. Sebagaimana penjelasan Allah swt.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. an-Nahl (16): 97]

BETULKAH WANITA ITU DOMINAN?

Contoh riil yang di paparkan Allah dalam surat at-Tahrim ayat 10 di atas, adalah bukti kongkrit dari dominasi kaum wanita. Bayangkan saja, wanita biasa seperti isteri Nabi Nuh dan Nabi Luth dapat mempengaruhi karakter anak dan masyarakat mereka, sehingga 2 orang pemimpin rumah-tangga yang statusnya Rasul Allah itu, gagal membina keturunannya menjadi generasi yang shalih/ shalihah, gara-gara karakter jahat (pengkhianatan) kedua istri mereka.

Ketika Nabi Nuh mengajak anaknya (Qana’an/Kan’an) untuk menyelamatkan diri dari adzab air bah (banjir terbesar) untuk menyiksa kaum Nuh yang mengingkari Allah serta RasulNya, namun sayang ajakan tersebut di tolak mentah-mentah oleh sang anak, akibat karakter jelek yang ditanamkan oleh sang ibu (isteri Nuh). Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” [QS. Hud (11): 42]

Sahut Qana’an:

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

”Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” [QS. Hud (11): 43]

Kisah serupa juga dialami oleh Nabi Luth yang menyebabkan kampungnya dibalik oleh Allah gara-gara menyintai sejenis yang diprakarsai oleh sang Isteri.

image

[myfitriblog.wordpress.com]

Di sisi lain ada seorang wanita mu’minah yang dikuasai oleh seorang raja sangat kejam lagi dhalim, tapi dia mampu mengantarkan anak yang diasuhnya menjadi tokoh hebat (Rasul Allah) dan berhasil menumbangkan kekuasaan Raja yang membantai beberapa bayi laki-laki tersebut. Mereka adalah Asiyah (Isteri), Fir’aun (suami) dan Musa as (anak angkat). Artinya dominasi seorang wanita/ibu memang luar biasa. Sehingga jangan pernah menganggap enteng padanya.

URGENSI WANITA LAINNYA

  1. Wanita itu merupakan tiang negara. Jika ia baik maka baiklah negara, dan jika ia rusak maka rusaklah negara. Makna yang tersirat adalah; sebaik apapaun kaum pria kalau wanitanya jelek, maka sebuah kehidupan akan menjadi amburadul dan tidak memiliki masa depan. Ibarat sebuah bangunan maka tiang merupakan penyangga utamanya. Jika tiangnya keropos maka ambruklah sebuah bangunan.
  2. Salah satu unsur dapat masuk surga. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda bahwa: ”Surga itu berada di bawah telapak kaki para ibu”. Artinya untuk mendapatkan surga (dunia maupun akhirat), seorang anak harus mempunyai akhlak yang baik kepada ibunya dan selalu berbakti kepadanya, tentu saja setelah beribadah kepada Allah dengan penuh ketaqwaan dan keikhlasan. Sebuah kehidupan yang sangat erat hubungannya dengan pendidikan dan kasih sayang ibu sejak dalam kandungan, bayi, masa anak-anak hingga dewasa.

Itulah sebabnya maka orang tua dahulu dalam mendidik anak perempuannya lebih ditekankan pada bidang keagamaan di banding yang lain. Misalnya dipondokkan di pesantren. Bahkan saat ini di Lombok berdiri sebuah pesantren terkenal yang memprioritaskan kaum wanita sebagai santrinya, karena urgensinya yang sangat besar dan menentukan dalam kehidupan, yakni mempersiapkan generasi yang baik bagi masa depan.

*) Penulis: Guru SMKM 1 & Ketua Lazismu Surabaya

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top