Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Profil / KORUPSI KIAN MENJADI

KORUPSI KIAN MENJADI

korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah disahkan keberadaannya sejak awal era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan tujuan agar pemerintahannya bersih, bebas dari tindak korupsi dan sejenisnya. Namun realitanya korupsi justru kian subur pada masa kepemimpinannya.

Bahkan akhir-akhir ini pelakunya kebanyakan dari petinggi partai yang dikomandaninya, yang semula berkampanye massal dan kompak di media elektronik dengan slogan “katakan tidak…, katakan tidak…, tidak mau kompromi dengan korupsi…”.. Namun satu demi satu para aktor jurkam anti korupsi tersebut diciduk oleh KPK  gara-gara urusan korupsi pula. Maka wajarlah jika partai yang dulu dikagumi oleh mayoritas rakyat di negeri ini, sekarang mulai dibenci dan ditinggalkan ramai-ramai..

 

MENGAPA KORUPSI  DIMINATI ?

Semua orang tahu bahwa korupsi dan kolusi (pencurian terselubung) adalah perbuatan kriminal, suatu tindakan yang di-larang oleh agama, dan dibenci oleh masyarakat luas. Namun ke-napa korupsi dan kolusi tak kunjung henti bahkan kian menjadi ?

Ada beberapa faktor mengapa korupsi dan kolusi kian tumbuh subur di negeri ini, antara lain :

1.            Kodrat manusia yang memiliki syahwat besar serta rakus kepada harta benda (rupiah). Sebagaimana ditegaskan Allah dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 14 dan hadits Nabi saw. riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, serta merasa bangga jika sudah memiliki harta berlimpah.(QS. at-Takatsur).

2.            Faktor mengembalikan modal. Para pejabat negeri ini, umumnya sudah mengeluarkan uang banyak untuk memperoleh kedudukan bergengsi. Jadi setelah menjabat  tentu punya program untuk mengembalikannya. Karena jika mengandalkan gaji bulanan jelas tidak akan mencukupinya. Apalagi jika modalnya utang.

3.            Hukum di negeri ini sangat lemah (tidak adil), karena pelaku korupsi uang negara yang milyaran bahkan triliyunan, cuma dijatuhi hukuman beberapa tahun saja. Di samping itu hukum juga dapat dibeli dengan harga yang sudah disepakati.

4.            Hilangnya keimanan dan rasa takut akan dosa terhadap perbuatan kriminal yang dapat merugikan kehidupan publik..

 

SIKAP HAMBA YANG PARIPURNA

Sebagai hamba Allah yang diberi tugas untuk mengatur dan memakmurkan bumi tentu manusia akan mau mengindahkan rambu-rambu Tuhannya, jika ingin makmur dan sentosa hidupnya. Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam di negeri ini, tentu mau mematuhi pedoman suci yang bersumber dari al-Qur’an maupun Hadits Nabi jika ingin selamat dunia akhirat.

Bukankah al-Qur’an telah memberikan hukum terbaik, tegas, hemat dan menjerahkan untuk mengatasi tindak korupsi, kolusi atau pencurian, sebagaimana firman Allah dalam QS. 5 / An-Maaidah : 38 di atas, bahwa hukuman yang tepat bagi pencuri adalah dipotong tangannya, agar jera dan tidak bisa mencuri dengan leluasa.

Jika hukum Islam ini diadop oleh penyelenggara negara sebagai hukum positif yang wajib diamalkan oleh segenap bangsa, maka tindak kriminal korupsi, kolusi, pencurian akan segera enyah dari bumi pertiwi tercinta. Uang negara yang diperoleh dari kekayaan alam dan pajak, juga tidak dihabiskan untuk biaya narapidana yang kian meningkat populasinya. Penegak hukum di negeri ini harus bersikap tegas, adil dan tanpa pandang bulu, sebagaimana dicontohkan oleh pemimpin dan tokoh nomor 1 dunia, Nabi Muhammad saw. dalam menerapkan hukuman.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kamu adalah karena, jika orang-orang mulia (besar) mencuri, mereka biarkan saja (tidak dihukum), dan jika yang mencuri adalah orang lemah (miskin/rendahan) dari mereka, mereka tegakkan atasnya hukuman. Demi Allah, kalau sekiranya Fatimah anak perempuan Muhammad (Nabi) mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dari Aisyah R.A.).

Setiap individu Muslim harus menyadari bahwa harta yang dihimpun dari jalan riba (mencuri, korupsi, manipulasi dan sejenisnya), tidak akan membawa berkah dan berakibat neraka. Baik di dunia maupun utamanya di akhir masa.

Dari Umar bin Hamzah bin Abdullah bin Umar, sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari assuht maka nerakalah yang lebih pas untuk menemaninya. Sahabat bertanya : Wahai utusan Allah, apakah assuht itu? jawab beliau : menyuap dalam urusan hukum”. (simak Tafsir at-Thabari Juz 8 hal 434).

Semoga Allah Swt. selalu menolong serta membimbing kita semua. Amien.

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top