Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Profil / MANUSIA

MANUSIA

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali yang beriman dan beramal salih”  (QS At-Tiin 4-6)

Sungguh,  kita  memang harus bersyukur dan selalu bersyukur.  Alloh SWT mentakdirkan kita jadi manusia. Alloh tidak menciptakan kita sebangsa binatang, tumbuhan, bebatuan, tanaman, jin atau setan. Pasti,  tidak seorang pun  yang ingin dipanggil dengan  sebutan jin, apalagi setan. Tentu, tidak seorang pun di antara kita yang ingin jadi atau seperti  batu dan  binatang.Tak seorang pun ingin disebut  batu atau berkepala batu. Anda tahu batu itu  benda keras, tanpa  nyali, tanpa mata dan telinga, tanpa pikiran dan  perasaan.. Pemimpin,  pejabat, atau rakyat disebut berkepala batu,  manakala mereka  tidak tunduk pada kebenaran wahyu. Mereka  berkepala batu bila hanya tuntuk pada nafsu. Mereka berkepala batu bila nurani mereka pekak, tuli, dan bisu!

Kita juga tidak ingin jadi atau seperti binatang. Binatang tidak dapat mengidentifikasi nilai halal-haram, baik-buruk, hak-kewajiban, najis atau suci,  Binatang itu  bebas nilai, tidak dapat membedakan mencuri, berzina, merampok, korupsi,halal, haram, boleh atau tidak. Binatang melakukan aktivitas hidup atas dasar  serba boleh, serba nafsu, dan serba dunia. Ini memang sunnatulloh yang berlaku pada binatang. Hidup binatang untuk kepuasan perut dan seks belaka. Bebas, kadang liar dan buas. Adakah manusia yang sudah kehilangan akal sehatnya sehingga lebih layak dia disebut binatang atau lebih buruk dari binatang? Banyak!  Inilah yang ditegaskan Alquran Surat Al-A’rof ayat 176 dan 179 ;

“Dan,kalau Kami menghendaki, sungguh Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia condong kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).  Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”

“Dan Sungguh, Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Pasti pula kita tidak ingin disebut setan atau seperti setan. Inilah makhluk Alloh,  sang pembangkang. Tidak pernah berbuat baik. Selalu durhaka. Penipu, penghasut, pendusta, penghalang berbuat baik, pendorong  maksiyat,  penjilat, perusak moral, dan pengadu-domba. Alloh menegaskan dalam Alquran, bahwa setan adalah musuh nyata  sepanjang hayat manusia. Adam-dan Hawa dulu terpedaya setan, sehingga harus hijrah ke dunia. Banyak manusia terpedaya setan, banyak pula  bahkan yang  seperti setan. Laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, rakyat atau pejabat, ilmuwan, anggota dewan, pengacara, hakim, atau jaksa yang berkongsi atau berkolaborasi dengan setan. Menghalalkan segala cara, berbuat maksiyat, kejam, asocial, asusila, keji dan munkar adalah perbuatan orang-orang yang terpedaya setan demi memuaskan nafsunya yang liar, rakus, buas, bahkan biadab.

Malaikat! Wahai, adakah manusia yang ingin menjadi malaikat! Malaikat itu makhluk suci, dicipta dari cahaya. Jika Anda menyadari harga dan nilai kemanusiaan, tentu tak seorang pun yang iri kepada  malaikat. Malaikat itu “robot”, tidak punya nafsu. Tak punya kemerdekaan, hak pilih, dan tak punya kreativitas. Karena itu tidak ada malaikat durhaka, pembangkang. Tapi, ya itulah kelebihan malaikat. Suci dari dosa. Tidak pernah sombong, tidak bohong, dan tidak bodong. Tetapi, ya tidak ada malaikat jadi pahlawan. Tidak ada malaikat yang ditugasi untuk jadi idola atau teladan. Jadi jangan ada manusia yang mengaku suci seperti malaikat.

Tapi, ingat, derajat manusia bisa lebih tinggi dari malaikat. Apa sebab! Ya, manusia itu makhluk pilihan. Alloh mencipta alam  semesta ini  untuk manusia! Matahari, bulan, bintang, bumi, dan seisinya dicipta untuk mencerdaskan dan memanjakan manusia. Flora dan fauna dicipta agar manusia memanfaatkannya demi meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Syurga itu disediakan juga untuk manusia. Manusia bisa jadi pahlawan, mati dengan gelar syahid. Meraih kelipatan pahala dan menikmati kenyamanan hidup di syurga dengan serbaneka fasilitas yang tak ada di dunia. .

Dengan apa manusia dapat meraih kemuliaan itu? Dengan Islam! Sekali lagi, hanya dengan Islam! Tidak dengan yang lain! Alloh menegaskan itu!  Islam–lah yang akan memuliakan manusia. Tanpa Islam, manusia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tanpa Islam, laki-laki atau perempuan, pejabat atau rakyat, pengusaha, pengacara, direktur, gubernur, presiden, raja, siapa pun bisa lebih buruk dari binatang, lebih buas, lebih beringas, lebih biadab. Tanpa Islam, manusia bisa jadi Namrud, Fir’aun, dan Abu Jahal. Tanpa Islam, manusia akan hidup primitif, jahil, anarkis,destruktif,  hedonistik, dan eksploitatif.

Berkat Islam, manusia mengenal dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Benar.  Berkat Islam manusia mengenal diri sebagai abdi-Nya dan selalu menjadikan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Tidak menghamba kepada nafsunya. Tidak menjadikan nafsu sebagai Tuhannya. Berkat Islam, manusia mengenal hukum, nilai, norma, aturan, undang-undang, etika yang benar. Manusia jadi beradab karenanya. Akhlak manusia jadi mulia. Manusia bisa menyadari buruknya zina, judi, korupsi, dan minuman keras. Manusia menyadari buruknya sifat sombong, dengki, rakus, kikir, dan jahil. Berkat Islam, manusia yakin  syurga  itu pasti ada, rumah masa depan paling nyaman, sehingga terdorong untuk berjuang demi dapat tinggal selamanya di dalamnya. Yakin, neraka itu ada, tempat azab dan sengsara,  sehingga  terdorong untuk berjuang menghindarinya.

Islam itu rahmat dan nikmat terbesar di dunia yang dianugerahkan Alloh yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Tentu, bila manusia mau menerimanya dengan ikhlas, cerdas, sabar, istiqomah, serta kaffah. Islam itu cahaya, tuntunan hidup, jalan lurus, jalan selamat, jalan pencerahan, dan kemuliaan. Tentu bagi manusia yang mau mengilmui, mengimani,  mengamalkan , dan menegakkan secara total dalam semua dimensi ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, dan kepemimpinan. Sungguh, Alloh itu tuhan universal. Islam itu agama  universal. Muhammad itu nabi dan rosul universal. Alquran itu kitab universal!

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam  jadi agamamu.”   (QS Al-Maidah 3)

Oleh : Abdul Hakim ( Praktisi dan Konsultan Pendidikan Islam, Wakil Lazismu Surabaya)

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top