Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Aktivitas Cabang-Ranting / MASJID PUSAT DAKWAH DAN KADERISASI

MASJID PUSAT DAKWAH DAN KADERISASI

”Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (Q.S. 9 / at-Taubah : 18)

 

Pada ayat sebelumnya (17), Allah SWT. memberikan penegasan bahwa orang-orang musyrik tidak mungkin  memakmurkan masjid-masjid Allah. karena itu, ummat Islam tidak boleh berharap kepada mereka untuk memakmurkannya.

Kemakmuran masjid dan kelangsungan da’wah Islam menurut ayat di atas, sepenuhnya menjadi tanggung jawab  orang-orang beriman, yang gemar mendirikan shalat, menunaikan zakat serta punya keberanian dalam memperjuangkan Islam, meski banyak resiko.

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah SAW. dan para sahabat adalah masjid (Taqwa).  Begitu pula setelah tiba di kota Madinah, langkah awal yang beliau ambil juga membangun masjid (Nabawi). Karena dari masjidlah beliau dapat melakukan pembinaan dan persatuan ummat, di samping sebagai tempat kajian dan perkaderan serta aktifitas ke Islaman.

Para pemimpin Islam sepeninggal Nabi SAW., seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali,  selalu memprioritaskan pembangunan masjid pada masa kepemimpinan (kehalifahan) mereka.

Para tokoh Muhammadiyah periode awal (as-sabiquunal awwaluun) juga sangat  gemar  mendirikan an dan memakmurkan masjid/mushalla di sekitar kediaman mereka. Seperti K.H. Achmad Dahlan yang mendirikan mushalla dengan nama ”Langgar Kidul” (saksikan dalam film Sang pencerah). Kemudian diteruskan oleh para tokoh Muhammadiyah berikutnya.

Itulah sebabnya maka karakter atau identitas organisasi berlambang matahari yang sudah berusia seabad lebih ini, adalah  merupakan “ Gerakan Islam, Gerakan Da’wah dan Gerakan Tajdid”.

REALITANYA SAAT INI

Jika kita cermati bersama maka, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang kurang mendapat perhatian  adalah masjid.  Masjid atau Mushalla di kalangan Muhammadiyah lebih banyak diurus oleh Ta’mir setempat, mulai dari penetapan pimpinan, periodesasi keta’miran, manajemen dan kebijakan, maupun program kerja yang diinginkan.  Kop surat dan setempel masjid juga beraneka macam, tidak seperti di AUM lain (pendidikan, kesehatan dan panti asuhan), yang sejak tingkat pusat hingga bawah semuanya seragam.

PROBLEMA YANG MUNCUL

Karena AUM yang satu ini bak anak tiri yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari pimpinan persyarikatan, imam dan muadzin juga asal-asalan. Tidak seperti AUM pendidikan, kesehatan dan panti asuhan yang selalu disayang, dimanja dan diurus siang malam, maka wajar jika banyak masjid Muhammadiyah yang kurang terurus, sehingga direbut atu dirampas kelompok tertentu.

Di sisi lain ada masjid yang secara fisik tetap aman, namun ruh dan peranannya telah diambil alih dan dimanfaatkan oleh kelompok lain, yang visi misi da’wahnya beda dengan Muhammadiyah.

Akibatnya muncul berbagai persoalan. Konflik antara jamaah masjid yang satu dengan jamaah lainnya. Muncul juga perbedaan pandang  antara ta’mir dengan pengurus remaja masjidnya, sehingga proses regenerasi atau reformasi mengalami kemandegan.

Mengapa semuanya bisa terjadi…? bukankan masjid/mushalla merupakan syarat berdirinya cabang / ranting…? kenapa justru kurang mendapat perhatian…?

SOLUSI ALTERNATIF.

  1. Masjid adalah rumah Allah, yang merupakan rintisan sekaligus warisan Nabi akhir zaman. karenanya harus dilestarikan dan dimakmurkan oleh kita orang-orang yang mengaku beriman.
  2. Masjid sebagai pusat ibadah, pusat informasi, pusat kajian dan kaderisasi serta kegiatan sosial, tentu sangat penting bagi ummat Islam. Oleh sebab itu perlu mendapat penanganan khusus, terutama oleh Pimpinan Persyarikan di semua tingkatan.
  3. Banyak pengurus/ta’mir masjid yang resah karena remasnya tidak aktif atau tidak sejalan dengan visi dan cita-cita mereka. Oleh karena itu perlu segera adanya pembinaan dan perkaderan bagi mereka, agar estafet kepemimpinan tidak punah.
  4. Menyadari persoalan di atas, Lazismu Surabaya tergerak mengambil sedikit bagian untuk memberikan bantuan operasional TPQ (BOT) pada beberapa Masjid Muhammadiyah yang  sangat membutuhkan, mengingat masih tebatasnya dana yang masuk di Lazismu..
  5. Kemudian bersama Majelis Tabligh, pada pengajian Pencerah perdana akhir Januari lalu mendirikan LPTQMU sekaligus melantik Direkturnya, yang ditugasi untuk mengkoordinasi dan membina TPQ Muhammadiyah se Surabaya. Oleh sebab itu dihimbau agar semua fihak yang terkait mendukungnya.
  6. Agar tidak terjadi kesenjangan generasi, maka kepada TPQ Muhammadiyah yang sudah mapan sebaiknya meningkatkan statusnya menjadi Madrasah Diniyah. (Awaliyah untuk SD, Wustha untuk SLTP dan Ulya untuk SLTA), lewat Kasi Penamas Kemenag Surabaya.

Pengurus Remas sebaiknya diperioritaskan bagi kader AMM (IPM, Pemuda, NA, HW, Tapak Suci), sehingga sejalan dengan visi misi Ta’mir dan Persyarikatan.

Oleh : Drs. H. Syamsun Aly, M.A.

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top