Minggu , Desember 17 2017
Breaking News
You are here: Home / Aktivitas Cabang-Ranting / Memaknai Amanah

Memaknai Amanah

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada mu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal : 27)

 

Begitu mudahnya seseorang menuding bahwa si A, B dan C itu kurang bahkan tidak amanah. Sementara ia sendiri belum tentu beramanah bila diberi kepercayaan. Mengapa? Apakah ia (penuding) tersebut tidak memahami arti amanah atau sebaliknya.

Untuk itu penulis kutipkan definisi Amanah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua, terbitan Balai Pustaka hal 30, kata amanah diartikan sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain.

Definisi Amanah di atas memberikan pengertian kepada kita bahwa setiap amanah selalu melibatkan 2 (dua) pihak yaitu si pemberi amanah dan si penerima amanah. Lebih jelasnya, hubungan keduanya dapat penulis jelaskan lewat beberapa contoh konkrit dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya manusia secara individu diberi amanah berupa umur oleh Allah. Pertanyaannya adalah digunakan untuk apa umur tersebut? Apakah ia (umur) digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti bekerja, melaksanakan ibadah puasa, membaca Al Qur’an dan sebagainya atau sebaliknya. Bila kita sebagai individu sudah melaksanakan amanah tersebut sesuai tuntunanNya, maka kita pantas disebut orang yang dapat dipercaya alias bisa menjalankan amanah dariNya.

Sebaliknya bila kita salah menggunakan amanah tersebut misalnya hanya berdiam di masjid, shalat dan berdoa tanpa bekerja maka kita oleh Allah dianggap orang yang tidak dapat dipercaya alias tidak beramanah.

Begitu juga dalam rumah tangga. Amanah apa yang dipikul seorang suami sebagai kepala keluarga tentu ia (suami) sekuat tenaga berusaha melindungi dalam arti memenuhi kebutuhan istri dan anak (bila punya) baik papan, sandang dan pangan serta kebutuhan sekunder lainnya. Semua itu merupakan sebuah konsekuensi seorang kepala rumah tangga. Jangan malah sebaliknya semuanya dibebankan kepada sang istri kadang mertua. Bila ini sampai terjadi maka sang suami jelas tidak beramanah alias tidak dapat dipercaya. Kalau sudah demikian pupuslah cita-cita membina keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah.

Bagaimana dalam kehidupan berorganisasi? Seperti di ormas-ormas Islam, salah satunya Muhammadiyah. Adakah amanah di dalamnya? Tentu ada. Amanah apa yang dipikul seorang pemimpin atas anggota yang dipimpinnya. Tidak lain adalah mengajak, membimbing dan mengarahkan mereka (anggota) untuk berperilaku sesuai tuntunan Allah dan RasulNya sehingga mereka tidak saja sejahtera di dunia juga selamat di akherat. Oleh karena itu menjadi pemimpin umat, terutama umat beragama tidak mudah karena setiap kata dan tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia apalagi di akherat nanti. Seperti lazimnya dilakukan oleh organisasi agama baik yang berorientasi agama maupun tidak. Hal tersebut direalisasikan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban (LPJ). LPJ tersebut merupakan wujud amanah yang diemban oleh sang pemimpin dan jajarannya. Bila LPJnya diterima, maka ia (pemimpin) dianggap dapat dipercaya alias beramanah. Sebaliknya bila LPJnya ditolak maka sudah dipastikan ia termasuk orang yang tidak dapat dipercaya alias tidak amanah.

Jadi amanah tidaknya seseorang pemimpin bukan dilihat dari penampilan fisik, materi atau keturunan, tetapi lebih ditentukan oleh kinerja. Misalnya bagaimana ia (pemimpin) mampu memobilisasi (menggerakkan) anggota serta mengorganisir sedemikian rupa sehingga mampu memberdayakan potensi anggota untuk kemaslahatan bersama sehingga yang menjadi tujuan utama adalah bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan umum dalam hal ini seluruh anggota organisasi tersebut.

Lebih luas lagi bagaimana dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Adakah amanah di situ? Jelas ada. Coba bayangkan kalau seorang pejabat pemerintah katakan Presiden, Gubernur, Walikota dan seterusnya abai terhadap kebutuhan rakyatnya. Apa yang bakal terjadi? Tentu rakyat akan marah dan menuntut. Kenapa? Karena mereka (para pejabat) lupa akan amanah yang harus dilaksanakan yaitu mensejahterakan rakyat. Tapi kenyataannya? Bukan kesejahteraan yang mereka peroleh melainkan deretan penderitaan yang mereka alami dan rasakan. Seperti yang terjadi saat ini. Para pejabat sibuk menyelamatkan diri masing-masing sementara tugas utamanya yaitu mensejahterakan rakyat tergadaikan. Lalu dimana tanggung jawab mereka (pejabat) sebagai penyelenggara negara alias pemerintah? Masih adakah amanah di hati para petinggi negara?

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa amanah bisa diperlihatkan dalam aneka kehidupan sehari-hari. Dimulai dari kehidupan individu, keluarga, masyarakat (organisasi) sampai kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan setiap amanah yang diemban oleh individu atau aparat akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia maupun di akherat. Dan bukti amanah tidaknya seseorang bukan ditentukan oleh kepandaian berretorika (berargumen) akan tetapi lebih ditentukan pada praksis (tindakan nyata).

Sebagai penutup tulisan ini mari kita renungkan sabda Nabi berikut:

“Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak beramanah. Tidak ada agama bagi orang yang tak memenuhi janji.”

 

Oleh: Choirul Amin

Penulis, adalah anggota Majelis Pustaka & Informasi PDM Surabaya

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top