Jumat , Desember 15 2017
Breaking News
You are here: Home / Aktivitas Majelis / MENUJU PERPUSTAKAAN IDEAL

MENUJU PERPUSTAKAAN IDEAL

Jika ada survei tentang perlu atau tidak sebuah perpustakaan di sekolah, tentu serentak responden akan menjawab “ Perlu”. Permasalahannya adalah perpustakaan yang bagaimana yang diinginkan para responden tersebut ? Apakah sekedar sebuah ruangan berdinding bata atau kayu dan sejumlah buku serta seorang petugas tanpa kualifikasi keilmuan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Kalau hanya itu yang selama ini kita pahami tentang performa perpustakaan, pantas kita tidak akan pernah memperoleh kemajuan yang berarti. Pertanyaan berikutnya adalah:
Bagaimana profil perpustakaan yang kita harapkan ?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya penulis sampaikan beberapa alasan mengapa kita perlu membangun perpustakaan. Sedikit ada 3 alasan utama, yaitu (1) sebagai media pengajaran, (2) sebagai sumber informasi dan (3) sebagai identitas bangsa.

1. Media Pengajaran
Sebagai media pengajaran, tentu ini berhubungan langsung dengan peran guru bidang studi. Seberapa besar mereka (guru) memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman anak didik terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Semakin inten anak-anak mengunjungi perpustakaan sekolah dalam artian memanfaatkan perpustakaan sesuai dengan arahan Pak atau Bu guru bidang studi, akan semakin mudah tercapai target pembelajaran yang diinginkan. Misalnya: seorang guru memberi tugas kepada seorang siswa yaitu membuat karya ilmiah tentang kehidupan aneka binatang laut. Tentu mereka (siswa) akan mengalami kesulitan kalau saja Pak atau Bu guru tidak memberikan solusi yang cerdas. Disinilah peran Pak atau Bu guru yaitu mewajibkan mereka (siswa) untuk datang ke perpustakaan. Tentu saja materi-materi yang dibutuhkan anak-anak sudah tersedia diperpustakaan tersebut. Dengan demikian akan terjadi proses belajar dan mengajar yang produktif antara guru dan murid.

2. Sebagai Sumber Informasi
Satu hal yang tidak dapat disangkal bahwa setiap orang tak peduli kaya atau miskin, tua atau muda, besar atau kecil pasti mempunyai hasrat untuk mengetahui sesuatu. Adapun bentuk dan cara mereka (orang) dalam pemenuhan keinginan tahuannya tersebut bermacam-macam. Ada yang menanyakannya secara langsung kepada mereka yang dianggap “capable” (baca=mampu). Ada pula yang mencarinya melalui buku, surat kabar bahkan internet. Dan ada pula yang datang langsung ke perpustakaan terdekat. Dengan datang langsung ke perpustakaan tersebut mereka (masyarakat) akan memperoleh informasi yang mereka inginkan.

3. Sebagai Identitas Bangsa
Sebenarnya tidak sulit mengatakan apakah suatu bangsa tergolong maju atau terbelakang. Lihat saja apa yang dimakan dan dibaca oleh bangsa tersebut. Yang pertama bisa dilihat dari jenis asupan (baca: makanan dan minuman) yang dikonsumsi serta kandungan gizinya. Sebagai ilustrasi bisa dipaparkan disini. Perbandingan tingkat konsumsi antar negara Asian pertahun tahun 2005. Untuk konsumsi daging, orang Indonesia setiap tahunnya hanya 7,1 kg, sementara Malaysia 48 kg, Thailand 25 kg dan Philipina 18 kg. Sementara kebutuhan susu, orang Indonesia setiap tahunnya hanya mengkonsumsi 6,8 liter, sedangkan Malaysia 25 liter, Thailand 24,9 liter dan Philipina 11,3. Ini artinya bahwa semakin besar jumlah asupan yang dikonsumsi oleh seseorang, semakin memungkinkan seseorang menjadi cerdas. Begitu juga sebaliknya.

Sementara indikator yang kedua adalah apa yang dibaca. Ini bisa dilihat dari jumlah produksi buku yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Sekedar diketahui Indonesia dengan penduduk 225 juta, setiap tahun memproduksi 8000 judul buku, sementara Vietnam dengan 80 juta penduduk memproduksi 15000 judul. Padahal Vietnam baru merdeka tahun 1958 sementara Indonesia tahun 1945 (Kompas, 28 Januari 2011).

Selain judul buku, jumlah perpustakaan yang dimiliki, juga bisa dijadikan indikator maju tidaknya suatu bangsa. Anda tahu berapa jumlah sekolahan dan perpustakaan yang kita miliki se Indonesia? Kompas terbitan 18 Januari 2010 menyebutkan bahwa jumlah seluruh sekolah di Indonesia mulai SD hingga SMA adalah sekitar 250.000 buah. Dari jumlah tersebut yang memiliki perpustakaan hanya 23.000 buah dengan 21.000 tenaga perpustakaan. Dari 21.000 tenaga itu hanya 250 orang yang benar-benar pustakawan. Ini menunjukkan bahwa kondisi perpustakaan kita masih jauh dari harapan. Kalau sudah demikian, lalu apa yang dapat kita lakukan? Sebagai jawabannya berikut penulisan ketengahkan 7 catatannya Mrs Kathryn Rivai, Principal Seri Insan Secondary School, Malaysia saat mengunjungi SMA Negeri 4, SMA Negeri 2 dan SD IT Istiqomah di Balik Papan beberapa tahun yang lalu (Satria Dharma, Catatan lain dalam Pendidikan, 2004).

Ketujuh catatan tersebut adalah :
Pertama luas perpustakaan. Setidaknya luas perpustakaan dua kali lipat dari ruang kelas. Jadi luasnya 128 m2 kalau ukuran perkelas 8 x 8 m. Dengan demikian ia (perpustakaan) dapat memuat banyak buku dan siswa dapat membaca dengan leluasa. Di samping itu, harus ada Chamber untuk ruang audio – visual dan juga meja bundar untuk berdiskusi.
Kedua, jumlah buku dan judulnya. Jika ada 400 siswa di sebuah sekolah, maka paling tidak harus ada 4000 buah buku bacaan yang tersedia dengan jenis bacaan yang bervariasi.
Ketiga, perlu audio-visual. Hendaknya perpustakaan tidak hanya menyediakan “Printed Material” (baca : buku, jurnal, surat kabar dan majalah) tetapi juga audio-visual. Karena dengan adanya audio-visual tidak saja dapat meningkatkan gairah belajar siswa tetapi juga dapat mempermudah dan meningkatkan pemahaman para siswa terhadap mata pelajaran yang mereka terima di kelas. Jadi kehadiran audio-visual adalah sebuah keniscayaan.
Keempat, Sediakan buku-buku berbahasa asing. Sekolahan yang berorientasi ke masa depan hendaknya menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat modern. Salah satu kebutuhan masyarakat modern adalah penguasaan bahasa asing. Untuk itu, sekolah harus menyedakan buku-buku berbahasa asing terutama bahasa Inggris, karena bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan masyarakat internasional, disamping bahasa asing lainnya, seperti Arab, Cina, dan jepang.
Kelima, jadikan Program Sekolah. Hendaknya kegiatan membaca dijadikan program sekolah yang terencana secara terintegrasi dengan kurikulum yang ada. Artinya setiap mata pelajaran yang diberikan kepada siswa harus melibatkan pencarian referensi ke perpustakaan. Jadi perpustakaan betul-betul menjadi pusat penyedia informasi.
Keenam, perlu tenaga profesional. Perpustakaan harus dikelola oleh seseorang yang benar-benar memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola perpustakaan. Dengan kata lain ia (pustakawan) harus kualified, jika tidak apa jadinya nanti.
Ketujuh, sekolah harus memiliki perpustakaan khusus untuk para guru. Mengapa? Karena dengan perpustakaan khusus tersebut, mereka (guru) dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam mendidik dan mengajar.
Setelah membaca semua catatan di atas, sekarang tergantung kita. Siapkah kita melaksanakan dan mewujudkannya?

Oleh: Choirul Amin
Penulis, adalah anggota majelis pustaka & Informasi PDM Surabaya.

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top