Senin , November 20 2017
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / MENYEMPURNAKAN TAKARAN DAN TIMBANGAN

MENYEMPURNAKAN TAKARAN DAN TIMBANGAN

sempurnakan timbangan

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar.Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS Al-Isra’: 35)

Sering kita sempat melihat sebuah segmen dalam sebuah acara berita di televisi dan surat kabar tentang banyaknya kasus-kasus kecurangan dalam perniagaan masyarakat kecil. Banyak kasus yang membuat kita sedikit bergidik, contohnya saja kasus daging glonggong, yakni daging sapi atau ayam yang disuntik dengan air agar beratnya bertambah. Belum lagi Daging Sapi yang dioplos dengan daging celeng, saus tomat yang dioplos pepaya busuk, ikan yang dicampur formalin, komposisi perhiasan/logam mulia yang tidak sesuai. Jika dirunut lagi maka akan ditemui tindakan-tindakan yang semakin membahayakan para konsumen seperti kosmetik atau obat-obatan palsu yang membahayakan penggunanya.

Mengurangi takaran dan timbangan adalah dosa besar yang sering diabaikan. Dosa ini masih “kalah pamor” atau tenggelam dengan dosa besar lainnya seperti menyekutukan Allah, membunuh, atau dosa riba yang aplikasinya masih menjadi perdebatan. Dalam Al-Qur’an, perintah untuk menyempurnakan takaran dan timbangan sekaligus larangan keras untuk mengurangi takaran atau timbangan menjadikan pelanggaran terhadapnya menjadi sebuah dosa besar. Salah satu kaum yang pernah terkena azhab Allah karena sering berbuat curang mengurangi takaran dan timbangan adalah kaum Nabi Syuaib A.S. Kaum Nabi Syuaib A.S. disebut kaum Madyan. Dikisahkan dalam Al-Qur’an, setelah Kaum Madyan menolak seruan Nabi Syuaib untuk menyempurnakan takaran dan timbangan, mereka malah berolok-olok untuk disegerakan azhab Allah. Maka azhab itu benar-benar datang (kisah ini dapat dilihat di Al-Qur’an Surat Huud ayat 83-95).

Mengurangi takaran dan timbangan digolongkan sebagai dosa besar, padahal tampaknya manifestasinya tidak terlalu besar seperti membunuh, dalam hal ini cukup saja kita mengkaitkan sifat manusia yang serakah dan akan semakin meningkat keserakahannya seiring dengan menuruti hawa nafsunya. Sekarang jika seseorang bisa melakukan penipuan kecil-kecilan dengan mengurangi takaran atau timbangan yang dengan itu dia bisa mendapatkan margin keuntungan beberapa waktu. Lalu semakin lama ia bisa mencurangi takaran barang dengan bagian bahan yang lain. Lalu bayangkan jika barang itu adalah bahan makanan yang dioplos dengan bahan yang berbahaya dan haram. Bisa dibayangkan bila obat dengan ukuran yang tidak semestinya atau palsu. Bagaimana kalau bangunan jembatan dengan pengurangan ukuran yang sudah distandarkan. Selanjutnya bisa menilai, seberapa besar kekacauan dan kejahatan yang membesar itu, apa lagi itu sudah menjadi perbuatan sebuah kaum yang besar dan semakin merebak ke masyarakat. Sungguh, Allah Maha Mengetahui tentang apa-apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Jika kita membahas masalah korupsi, maka pengurangan ukuran dan timbangan adalah manifestasi dari korupsi yang dilakukan lapisan masyarakat menengah ke bawah. Apalah bedanya dengan para koruptor kelas kakap. Hampir tak ada beda atau mungkin lebih bahaya dampaknya. Jika mereka mengatas-namakan kesulitan dalam ekonomi, maka kita harus kembali dalam ranah agama dan keimanan. Bahwa semua manusia diuji sesuai dengan perannya masing-masing. Orang dengan jabatan dan kekayaan diuji dengan jabatan dan kekayaan itu untuk amanah dan bersedekah, maka begitu pula dengan seorang miskin yang diuji dengan kekurangannya itu untuk tetap mencari rezeki yang halal dan baik dengan membawa kesabarannya.

Jika memang seluruh lapisan bangsa ini bersama-sama “kompak” melakukan korupsi, maka memang jalan kita untuk keluar dari lingkaran ‘setan” keterpurukan setelah era reformasi ini masihlah panjang. “Celakalah orang-orang yang mengurangi, apabila mereka itu menakar kepunyaan orang lain (membeli) mereka memenuhinya, tetapi jika mereka itu menakarkan orang lain (menjual) atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Apakah mereka itu tidak yakin, bahwa kelak mereka akan dibangkitkan dari kubur pada suatu hari yang sangat besar, yaitu suatu hari di mana manusia akan berdiri menghadap kepada Tuhan seru sekalian alam?” (QS Al-Muthafifin: 1-6).

Oleh kerana itu setiap muslim harus berusaha sekuat tenaga untuk berlaku adil (jujur), sebab keadilan yang sebenarnya jarang dapat diujudkan. Justru itu sesudah perintah memenuhi timbangan, Allah  kemudian berfirman: “Kami tidak memberi beban kepada seseorang, melainkan menurut kemampuannya.” “Penuhilah takaran dan jangan kamu menjadi orang yang suka mengurangi, dan timbanglah dengan jujur dan lurus, dan jangan mengurangi hak orang lain dan jangan kamu berbuat kerusakan di permukaan bumi.” (As-Syu’ara’: 181-183). Perintah untuk memenuhi takaran juga berlaku untuk layanan jasa, sebagai pegawai, sebagai konsultan, sebagai guru, sebagai dokter dll untuk memenuhi porsi yang diberikan kepada pengguna jasa tersebut, misal waktu, fasilitas, informasi sesuai dengan standar yang telah disepakati/ditentukan.

Simpulan

  1. Al-Qur’an memerintahkan untuk menyempurnakan takaran dan timbangan sekaligus larangan keras untuk mengurangi takaran atau timbangan.
  2.  Pengurangan ukuran dan timbangan adalah manifestasi dari korupsi yang dilakukan lapisan masyarakat menengah ke bawah dan hal itu harus dicegah.

Oleh : ACHMAD LUTFI (Anggota takmir masjid GSI Surabaya dan Anggota Majlis Dikdasmen PWM Jatim)

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

2 comments

  1. maaf saya mau nanya nih? hadist yang mengatakan bahwa amal seseorang akan terputus seiring meninggalnya orang tersebut kecuali 3 hal yang di sampaikan di dalamnya,dan semua itu adalah amal baik, pertanyaanya apakah seseorang yang telah mengajarkan hal buruk kepada orang lain dan itu terus di pakai oleh orang tersebut dan si pengajarmeninggal apakah dosa dari ajaran buruk tersebut masih terkirim kesangpengajar

    • Muhammadiyah Surabaya

      bismillah. sdr Rudi. menurut beberapa hadits, dosa tersebut akan terkirim ke si pengajar/pengajak/pelaku pertama perbuatan dosa. salah satu dalilnya adalah: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alahi wassalam bersabda :

      وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ
      الْقِيَامَةِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

      “Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi dosa pengikutnya sama sekali.” (HR Muslim no. 2674)

      wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top