Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Update / Peranan Wanita Dalam Kehidupan

Peranan Wanita Dalam Kehidupan

Setiap tanggal 21 April tiba, diperingatinya sebagai hari Kartini. Karena wanita kelahiran Jepara itu telah memiliki peranan besar di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, dengan menulis sebuah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebuah pemikiran cemerlang yang mampu merubah paradikma penjajah menja-di pola pikir modern, sehingga kaum wanita bisa memperoleh haknya untuk mengenyam pendidikan setara dengan kamu pria.

Wanita lain yang mempunyai peranan serupa adalah Dewi Sartika. pahlawan nasional sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda yang juga teman dekat R.A. Kartini itu, memang totalitas dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita, sehingga mendapat apresiasi dari pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional pada tahun 1966.

Ada juga wanita yang memiliki peranan penting di bidang da’wah Islam, pendidikan dan sosial, yaitu Nyai Walidah. Meskipun tidak sepopuler R.A Kartini dan Dewi Sartika, namun perjuangannya dapat dirasakan kaum wanita Islam Indonesia hingga saat ini.

Isteri K.H. Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) tersebut pernah menjadi Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah pertama kali di Indonesia, Organisasi Wanita Modern yang terus bermitra dengan Muhammadiyah sebagai organisasi induk dalam mengembangkan da’wah dan perjuangan sucinya.

Visi-Misi Aisyiyah yang didirikan oleh Nyai Walidah adalah sebagaimana ter-tuang dalam salah satu bait Mars Aisyiyah, yakni :
Wahai Warga Aisyiyah sejati,
Sadarlah akan kewajiban suci
Membina harkat kaum wanita,
Menjadi tiang utama negara

Reff. Di telapak kakimu terbentang surga
Di tanganmulah nasib bangsa
Mari beramal dan berdarma bhakti
Membangun negara
Mencipta masyarakat Islam sejati
Penuh karunia

Berkibarlah panji matahari
Menghias langit ibu pertiwi
Itu lambang perjuangan kita
Dalam menyebar-luaskan agama, dst.

BERBAGAI KELEBIHAN WANITA
Secara kodrati wanita nampaknya lemah, namun ternyata dia memiliki kelebihan yang luar biasa dibanding kaum pria yang nampaknya gagah dan perkasa. Banyak anak yang hidupnya sukses di tangan ibu yang baik (shalihah) meski ayahnya orang rusak. Sebaliknya banyak juga anak yang masa depannya suram di tangan ibu yang tidak baik, meskipun ayahnya orang shalih. Putera Nabi Nuh dan Nabi Luth adalah contohnya.

Mengapa bisa demikian…?  Karena ibu memiliki kedekatan yang luar biasa kepada anak-anaknya, sejak dalam kandungan, saat masih bayi, anak-anak hingga remaja dan dewasa. Kelebihan Wanita yang lain adalah :

1. Umumnya kaum wanita/ibu memiliki ketekunan, kedisiplinan dan ketelitian lebih dibanding kaum pria.
2. Memiliki kepekaan individual maupun sosial yang lebih dibanding kaum pria.
3. Memiliki perhatian dan kasih sayang lebih dibanding kaum pria.
4. Lebih dekat dengan anak sehingga sangat mudah untuk mempengaruhi dan mengarahkannya.
5. Lebih mengutamakan keluarga dan anak-anak dibanding diri sendiri.

Itulah sebabnya maka Allah memerintahkan kepada anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya terutama ibu. Mengapa…? ya, karena yang mengandung, melahirkan, memberikan asi, serta merawatnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang adalah ibu.

Maka wajarlah jika ibu lebih dekat kepada anaknya dibanding bapak. Peranan dan pengaruh ibu juga lebih dominan dalam mewarnai anak-anaknya.

Dari realita semua itu maka sangat tepat jika Nabi SAW menjawab : ibumu, ibumu, ibumu. Kamudian bapakmu. saat ditanya salah seorang shahabat, tentang “siapakah orang yang terbaik untuk dijadikan teman…”

SURGA DI TELAPAK KAKI IBU / WANITA?
Ada orang berpendapat bahwa semua wanita terutama yang sudah mempunyai anak, pasti masuk surga. Dalil yang dipakai adalah sabda Nabi saw. ”AL-JANNATU TAHTA AQDAAMIL UMMAHAATI” artinya “Surga itu berda di telapak kaki kaum Ibu/Wanita”. Jika kakinya sudah di surga otomatis seluruh anggota tubuhnya juga di surga katanya.
Jika argument ini benar maka wanita tak ada yang masuk neraka, padahal menurut pernyataan Nabi saw. Ketika di hadapan para wanita, “besok penghuni neraka itu kebanyakan dari kaum wanita.”

Maka pemahaman yang relatif sesuai terhadap matan hadits di atas adalah, seorang anak baru bisa masuk surga manakala dia berbakti / berbuat baik kepada ibunya, tentunya setelah beriman kepada Allah dan beramal shalih (amal yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya).

Drs. Syamsun Aly, M.A.
Guru / Dosen dan Ketua LAZISMU Surabaya

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top