Jumat , Desember 15 2017
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Perjalanan Panjang Menuju Bahagia 1

Perjalanan Panjang Menuju Bahagia 1

buya-hamka-dalam-dokumentasi-ed-zulverdi1

Oleh: Professor Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrulloh (HAMKA)[1]

Tiga orang berkawan berjalan di sebuah kampung yang ramai, dimana berdiri rumah-rumah yang indah. Tempat tinggal orang kaya, tuan-tuan besar, orang-orang yang bergaji besar. Ketika itu hari telah petang, matahari telah condong ke barat, cahaya syafak merah dari barat bergelutlah dengan cahaya listrik yang mulai menerangi jalan raya. Diantara pergelutan siang dengan malam itu, beerapa orang duuk dimuka pekarangan rumahnya bersama anak dan istrinya, sambil membaca surat kabar yang terbit petang itu, ganri istirahat pulang dari pekerjaan. Di meja terletak beberapa mangkuk teh. Si Ibu sedang menyulam, anak-anak sedang bermain berkejar-kejaran, dihamparan halaman rumput yang hijau itu.

Alangkah bahagianya orang-orang yang tinggal di sini, kata salah seorang dari ketiga orang bertamasya itu. Lihatlah keindahan rumahnya bertikam dengan keindahan pekarangannya, kecukupan perkakasnya bergelut dengan kepuasan hatinya. Di dekat rumah itu kelihatan gudang tempat ‘auto’ (mobil) nya, tentu auto itu menurut model yang paling baru; gajinya tentu mencukupi untuk belanja dari bulan ke bulan, malah lebih dari cukup.

Seorang di antara ketiga yang bertamasya itu, demi mendengarkan perkataan kawannya itu, menjawab: Ah, jangan engkau terpedaya oleh kulit lahir, karena dunia ini hanya komedi. Boleh jadi dibalik keindahan perkakas, dibalik senyuman dan tertawa itu ada berapa kepahitan yang mereka tanggungkan, yang tidak diketahui oleh orang lain. Banyak orang yang tertawa, sedang hatinya luka parah. Banyak orang yang tertipu melihat cahaya panas di waktu terik di tanah lapang luas, disangkanya cahaya itu air. Demi bila dia sampai ke sana hanya pasir belaka. Banyak sekali, keadaan yang rahmat dipandang lahir, tetapu pada batinnya la’nat.

Hanya sekian perkataan yang menjawab!

Kaau begitu apakah arti bahagia itu dan dimanakah batasnya ?

Seorang mengatakan, bahagia itu didapat oleh orang yang mempunyai kekayaan cukup. Karena jika ada kekayaan, segala yang dimaksud tentu tercapai. Orang kaya, dimana dia tinggal, perkataannya didengar orang, salah-salah sedikit dimaafkan orang saja. Uang adalah laksana madu lebah, segala macam semut dan kumbang datang menghirup manisnya. Sengsara ialah pada kemiskinan, meskipun benar perkataan yang keluar dari bibir, kebenaran itu tidak akan tegak karena tidak bertupang punggung. Tulang punggung ialah harta. Di dalam satu peralatan, maka sultan-sultan dan baginda-baginda didudukkan orang di kepala rumah, si miskin harus dimuka jenjang saja.

Yang lain mengatakan bahwa kemuliaan dan bahagia itu pada nama yang masyhur dan sebutan yang harum, mentereng, dijadikan orang buah mulut, terpuji ke tengah dan ke tepi. Itulah bahagia, katanya, yang lebih berharga daripada harta benda, karena kekayaan dunia tidaklah akan dibawa mati, tetapi "nama baik" tetap diingat orang.

Buah fikiran ini tiada mau putus-putus, sebab itu timbullah keinginan hendak menyelidiki lebih jauh. Telah kita dengar bagaimana ukuran bahagia dan qaidah orang. Semua makhluk anak Adam ini rupanya ingin bahagia, bukan saja mengetahui bahagia tetapi mengecap (merasakan) bahagia. [Bersambung …]


[1] Tulisan ini dikutip dari Buku Tasawuf Modern karya Prof. Hamka, diterbitkan oleh Jayamurni Jakarta tahun 1961

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top