Minggu , Desember 17 2017
Breaking News
You are here: Home / Pengetahuan Islam / Perjalanan Panjang Menuju Bahagia 2

Perjalanan Panjang Menuju Bahagia 2

buya-hamka-dalam-dokumentasi-ed-zulv[2]

Oleh: Professor Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrulloh (HAMKA)[1]

[… Lanjutan] Seorang tadi mengatakan bahagia itu lantaran banyak harta. Tahukah tuan apa sebab dia berkata begitu? Perkataannya itu rupany timbul lantaran putus asa. Agaknya kerapkali langkahnya tertarung sebab dia miskin, kerap maksudnya tak berhasil sebab dia fakir. Lalu diputuskannya saja bahwa bahagia itu pada uang, lain tidak. Barangkali juga sudah pernah fikirannya tidak diterima orang padahal benar, tetapi karena dia tidak ber-uang, tidak kaya, lalu orang lengahkan saja. Jadi qo’idahnya itu adalah dari hati yang kecewa.

Seorang lagi dilihatnya ada beberapa pemimpin dan penganjur suatu faham, sebagai Hitler dan Mussoulini, dihormati oleh rakyat Jerman dan Italia setinggi langit. Lalu disangkanya bahwa kedua orang diktator itu bahagia.

Kalau kita perturutkan, adalah bahagia itu mempunyai qo’idah sebanyak orang, sebanyak penderitaan, sebanyak pengalaman, sebanyak kekecewaan.

Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan.

Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan.

Orang yang telah terjerumus ke lembah dosa mengatakan bahwa terhenti dari dosa itulah kebahagiaan.

Seorang yang rindu atau bercinta, mengatakan hasil maksudnya itulah bahagia.

Seorang penganjur rakyat berpendapat, bahwa kemerdekaan dan kecerdasan umat bangsa yang dipimpinnya itulah bahagia.

Seorang perawan dusun bernama Asma binti Bahdal, yang dikawini oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, berkeyakinan bahwa bahagia itu ialah kembali kedusunnya. Didalam pondoknya yang buruk, walaupun sekarang diam dalam istana yang indah.

Seorang pengarang syair merasa bahagia jika syairnya jadi hafalan orang. Seorang pengarang merasa bahagia jika bukunya jadi buah tutur. Seorang jurnalis merasa bahagia jika surat kabarnya dan timbangan redaksinya dipahamkan orang.

Kita akan bertambah bingung memikirkan hal ini. Dimanakah sebenarnya bahagia itu. Sebab itu kita cari buku-buku yang kita rasa penting, karangan orang-orang yang tinggi filsafat, tasawuf, dan pengalamannya, adakah tersimpan disana bahagia itu.

Buku-buku itu bertemu, kita kumpulkan keterangannya menjadi satu. Kita susunkan menjadi suatu karangan, untuk menjadi suluh penuntut bahagia, tetapi belum lagi bahagia!

Maka adalah kebahagian yang kita cari itu terlalu tinggi. Kita semuanya hanya mengumpulkan pendapatan orang lain, karena demikianlah kita ini didalam hidup. Kadang-kadang pendapatan mereka itu belum pernah dirasainya, hanya diangan-angannya begitulah agaknya. Kadang-kadang pula telah dirasainya, tetapi tak sanggup dia melukiskan dengan puas, karena tidak mudah bagi manusia itu menerangkan segala kelezatan yang dirasainya. Tetapi dengan membaca pendapat-pendapat budiman itu, moga-moga terobatlah hati kita, timbul keinginan menuju kesana, dan tercapai oleh kita bahagia, walaupun tidak seluruhnya, sebahagianpun cukuplah. [Bersambung …]

 


[1] Tulisan ini dikutip dari Buku Tasawuf Modern karya Prof. Hamka, diterbitkan oleh Jayamurni Jakarta tahun 1961

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top