Muhammadiyah Surabaya

Sejarah

Sejarah Muhammadiyah Surabaya

Data sejarah ini dikumpulkan sebagai tuntutan logis terhadap perkembangan persyarikatan dalam berbagai aspeknya yang harus diidentifikasikan secara jelas dan obyektif sehingga akan menjadi bukti pendukung terhadap kepemilikan aset ataupun pengalaman sejarah yang berguna bagi generasi penerus persyarikatan, Dengan penyusunan sejarah dan profil Muhammadiyah Kota Surabaya diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang berarti bagi pengembangan persyarikatan ke depan. Karena dengan sejarah dan profil yang disusun akan menjadi daya tarik internal dan eksternal untuk memberikan dukungan dan parstisipasi yang lebih optimal dan bermakna dalam mengembangkan Muhammadiyah ke depan.

Data-data yang berhasil dikumpulkan oleh tim yang dibentuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya diperoleh dari tiga sumber yaitu pertama: Tulisan yang berupa makalah, laporan-laporan dan surat-surat serta dokumen berharga yang masih tersimpan pada fail Pimpinan Daerah. Kedua: Visual yang berupa foto-foto, barang-barang berharga yang merupakan peninggalan pengurus lama, tempat dan bangunan yang bernilai sejarah seperti masjid, mushollah, sekolah dan lainya, Ketiga:Oral Historis, berupa keterangan dari tokoh kunci yang terlibat langsung karena menjadi warga Muhammadiyah atau tidak langsung karena menaruh simpati pada gerakan Muhammadiyah.

Berkaitan dengan pengumpulan data sejarah ini digunakan trianggulasi sumber ganda, di samping menggunakan sumber visual berupa dokumen surat-surat berharga dan bukti peninggalan yang ada, peneliti menggunakan sumber oral histories yang menjadi keyman dalam mengungkapkan data sejarah. Keseluruhan data yang berhasil ditemukan secara jujur harus diakui, masih jauh dari harapan dan kebutuhan ideal untuk mengungkapkan gambaran yang sebenarnya telah terjadi, hal ini harus disadari sebagai kekurangan yang harus terus dicari untuk menyempurna- kan kekurangan data yang dibutuhkan.

Di antara sumber oral histories yang telah dikunjungi tim pengumpul data adalah: 1) Bapak Nurhasan Zein, KH.Abdulah Wasian, DR. H. Zainuddin Maliki, M.Si, Prof. DR. H. Aminuddin Kasdi, H. Muhammad Yazid dan  Keluarga K.H. Mas Mansyur, Muslimin BBA,

 

Gambaran Umum Muhammadiyah di Surabaya

Hampir semua orang tahu bahwa Surabaya yang terletak di tepi laut jawa itu dikenal sebagai kota bandar atau kota pahlawan. Yang tidak banyak diketahui orang agaknya adalah, betapa watak kota ini telah mempengaruhi pula sikap hidup dan cara berfikir warganya. Ajaran-ajaran agama Islam yang dianut sebagian besar warga kota, ternyata telah “berbelok” dan sekaligus hanyut dalam arus Tahayul Bid’ah dan khurafa. Akibatnya tak heran jika ada sebagian orang kemudian dengan serta merta melempar tuduhan: begitulah Islam. Sembari mencibir mereka mengatakan: Islam adalah racun jiwa masyarakat, belenggu kemajuan dan kemerdekaan berfikir!

Tuduhan itu dilempar bukan sepenuhnya tanpa alasan. Sebab di kalangan pemeluk Islam waktu itu memang telah “turun” beberapa ajaran baru. Berpantalon dan berdasi haram hukumnya karena menyamai pakaian orang kafir. Mengajar Al Qur’an dengan menterjemahkannya apalagi menuliskan ayat-ayatnya di papan tulis adalah haram pula. Belajar bahasa asing selain bahasa Arab haram! Dan banyak lagi yang lain. Pendek kata Laknati dunia ! Dunia adalah sorga bagi orang kafir, tempat bagi orang Islam di akherat. Sampai-sampai alat-alat musik yang dinilai datang dari “luar”, turut pula diharamkan. Tapi alat musik yang bernama rebana boleh. Mengapa? Rebana alat musik yang datang dari Arab, negeri asal datangnya agama Islam. Masyarakat begitu sederhana dalam memahami Islam serta terkungkung oleh simbol-simbol budaya arab.

Surabaya sebagai kota yang berpenduduk heterogen pada saat penjajahan Belanda itu sangat jelas kompleksitasnya dari yang mewakili Pedagang, Politisi, Birokrat , Buruh, Priyayi, Ulama, dan masyarakat abangan bisa berinteraksi dengan dinamikanya masing-masing sebagai masyarakat pelangi yang mewarnai Surabaya. Tradisi, budaya dan mitos seperti sudah bersenyawa sehingga model-model ruwatan sebagai bentuk menghilangkan balak, tayuban dikampung-kampung  dengan sajian tarian wanita-wanita dan minuman arak yang bisa dilanjut dengan transaksi seks, Mengkramatkan tempat-tempat dan benda-benda tertentu seperti pohon, kuburan, keris, akik dan lain sebagainya begitu semarak dipojok-pojok kampung Surabaya.

Syukur pada saat-saat demikian, seorang pemuda dikabarkan akan “pulang kampung” dari perantauannya di Mesir. Pemuda itu adalah KH Mas Mansur. Tekad sudah bulat untuk membenahi keadaan ummat Islam yang tengah dikungkung oleh mendung Tahayul, Bid’ah dan khurafat yang demimikian parah dan meningggalkan rasionalitas dari akal sehatnya.  Langkah pertama yang diambil Mas Mansur adalah turut mengajar di Madrasah “NADLATUL WATHAN” yang terletak di daerah Kawatan bersama KH Mas Alwi. Langkah ini segera disusul dengan aktifnya Mas Mansur bersama KHA Wahab Hasbullah, KH Amien dan ulama-ulama Surabaya lainnya. Langkah ini ternyata tidak mulus. Terjadi perbedaan pendapat pada masalah furu’iyah dalam merumuskan faham hidup dan berjihad dan masalah ubudiyah serta tentang methode mengajar yang dipakai Mas Mansur. Madrasah “Nahdlatul Wathan” terpaksa ditinggalkannya dan mendirikan madrasah sendiri di mesjid Taqwa. Di madrasah “Hisbul Wathan” inilah langkah Mas Mansur diteruskan bersama KH Mas Alwi. Yang diterima menjadi santri adalah mereka yang mau dan bersedia dibai’at, bahwa mereka akan sungguh-sungguh belajar dan kelak setelah tamat rela menjadi Muballigh. Semula cuma berangkat dengan 40 orang santri dan Alham-dulillah hingga kini madrasah itu masih hidup yang kemudian dipimpin sendiri oleh putera almarhum, H. Aunurrafiq Mansur. Madrasah ini kini berganti nama dengan madrasah Mufidah.

KH Mas Mansur dan KH Mas Alwi ternyata tidak sendirian. Di tempat lain konon ada juga sebuah pondol pimpinan H. Ali meski tanpa hubungan sebelumnya mempunyai “garis” yang sama dengan mereka. Tahun 1920 datang lagi kawan seperjalanan, yaitu seorang musyafir dari Padang bernama Fakih Hasyim. Orang yang disebut terakhir ini kemudian atas permintaan H. Ali turut mengajar dipondok itu. Fakih Hasyim ternyata membawa udara baru di kalangan pemeluk agama Islam. Adat pusaka usang peninggalan nenek moyang sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Langkah baru diambil lagi, yaitu dengan didirikannya oleh H. Ali dkk. suatu perkumpulan bernama “IHYA US SUNNAH”. Menghidup-hidupkan sunnah ajaran Rasulullah. Ini segera disusul atas inisiatif Pimpinan Sl (Tjokro dkk.) dan mas Mansur dengan berdirinya organisasi Tabligh “TA’MIRUL GHOFILIN”. Harap maklum: Fakih Hasyim adalah ahli sejarah dunia dan tarikh kebangkitan Islam, pernah golongan Arab yang tergabung dalam Al Irsyad menyambutnya dengan hangat. Itu terjadi keti-ka Fakih Hasyim mengupas sejarah perkem-bangan Islam dan silsilah Rasululloh.

Tapi semua itu tidak berarti bahwa “faham baru” begitu disebut orang yang dibawa Fakih Hasyim bisa hadir tanpa tantangan. Reaksi masyarakat ternyata cukup keras. Di antaranya dengan “pemboikotan”: siapa yang berani dan tetap mengikuti “faham baru”, diharamkan. Bertegur sapa dicibiri. Dan bila bertamu, maka bekas injakan kaki di lantai akan disucikan, najis! Wah!

Perdebatan dengan KH. Ahmad Dahlan

Resiko pahit seperti itu bukan tidak disadari oleh KM Mas Mansur, KH Ali dan kawan-kawannya. Walhasil langit makin mendung. Reaksi masyarakat makin keras dan meluas. Dalam keadaan demikian itulah terbit niat mereka untuk bertandang ke Yogyakarta. Terbetik kabar, konon di kota itu ada ulama besar yang “modern” tetapi sangat zuhud dan hidupnya teramat sederhana. Tak syak lagi, itulah KHA Achmad Dahlan. Kepada Achmad Dahlan inilah mereka bermaksud menumpahkan segala pengalaman pahit yang dialaminya di Sura­baya dan sekaligus hendak “mengujikan” ilmu-nya tentang agama dan kemasyarakatan yang pernah diterimanya dari ulama Padang itu.

Gayung bersambut, kata berjawab. Semangat da’wah yang hampir patah di Surabaya, bangkit kembali di sini. Bahkan dari KHA Dahlan telah diterima kesanggupan untuk da­tang ke Surabaya. Dan janji itu dipenuhi. Acara yang dipilih IHYA US SUNNAH untuk menyambut kedatangan KHA Dahlan adalah mengundang para alim ulama untuk sekedar bersilaturrahmi dan bermusyawarah saja. Tapi setelah ulama Yogya ini selesai berceramah, tak urung arena musyawarah itu jadi ajang perdebatan juga. KHA Mas Mansur yang terbilang Ulama Muda angkat bicara tentang cara memperbaiki dan mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran. Setelah menunjuk kerusakan masyara­kat dan kemerosotan derajat bangsanya, Mas Mansur bertanya: “Bagaimana cara mengatasi keadaan masyarakat yang demikian itu? ” Jawaban spontan diberikan KHA Dahlan “Obatnya tidak lain adalah ini !”, seraya menun­juk Kitab Suci Al Qur’an. ” Kaji isinya betul-betul ! Pergunakan segala ilmu untuk mengetahui mu’jizat kegaiban yang terkandung di dalamnya. Amalkan! Amalkan! Tiada cukup dengan hanya pandai membaca yang harus mengenal segala aturan tajwid dan mukhrajnya serta melagukan dengan suara yang merdu. Pergunakan otak dan mata hati untuk mengalami isi Qur’an, niscaya kita tahu akan rahasia alam yang memang diciptakan buat manusia yang dititahkan Rabbul ‘Alamin sebagai Kholifahnya di dunia.

Dengan demikian nyata keliru pandangan orang, bahwa Islam itu Agama naluri yang hanya berguna bagi orang mati – kenduri dan upacara-upacara lainnya. Bahkan kebanyakan upacara adat yang demi­kian itu, adalah warisan dari Agama Budha dahulu kala sebelum Islam berkembang di Indonesia.

Konon pada saat kedatangan KHA Dahlan yang kedua kalinya di Surabaya, maka diresmikanlah berdirinya “MUHAMMADIYAH CABANG SURABAYA”, yaitu tanggal 1 Nopember 1921 M Pimpinan yang dilantik waktu itu antara lain:

KH Mas Mansur sebagai Ketua, dibantu KH Ali sebagai pelopor pendirinya. Juga para Mubaligh: H. Ashari Rawy, H. Ali Ismail dan disusul K. Utsman. Dari sini Muhammadiyah Cabang Surabaya segera mewujudkan amal usahanya. Pada tahun 1922 diresmikanlah berdirinya HIZBUL WATHAN. Pengurus Cabangnya antara lain : M. Idris, H. Asy’ari, HM Machien, H. Ismail, Sono, Soekardi, Soeprapto, HM. Kaspan dan M. Wisatmo (menantu K. Utsman) yang kemudian menjadi Menteri Daerah HW Karesidenan Surabaya. Baik juga dicatat: HIZBUL WATHAN pada waktu itu masih berstatus sebagai Urusan Pemuda dalam Muhammadiyah. Usaha-usaha yang dijalankan adalah bidang Perpustakaan yang dikenal dengan “Taman Pustaka Pemuda   Muhammadiyah” Cabang Surabaya. Juga usaha-usaha perkoperasian. Dan satu lagi: Orang pasti ingat PS HW. Itu Persatuan Sepakbola yang kondang dalam prestasi dan harum lantaran sportifitasnya di lapangan. Akan halnya Pemuda Muhammadiyah Cabang Surabaya sendiri, terbentuk tahun 1937. Pengurusnya adalah: HM Anwar Zain (Almarhum) yang juga pernah menjadi ketua PWM Jatim, Nurhasan Zain (yang kini masih hidup dan dulu menjadi Ketua I PDM Kodya Surabaya), Malikin, Said Umar, Masdar Wahab, Su’aib Said, Mas Slamet, Amir Umar, H. Umar Siraj, Muh. Mardjuki dan Ating Sabdjan.

Enam tahun setelah berdirinya Muhamadiyah di Surabaya tepatnya pada tahun 1927 terjadilah krisis ekonomi sehingga Belanda melakukan tekanan dan kekerasan kepada rakyat dengan menaikkan berbagai pajak, PHK besar-besaran terutama pegawai Staats Spoorwegen (DKA), dinamika ekonomi masyarakat benar-benar lumpuh. Kondisi ini juga berdampak pada gerakan da’wah Muhammadiyah dimana uang kas kosong, gaji dokter, perawat dan guru tidak dapat dibayar, karena memang untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja sangat berat, sehingga  K.H. Mas Mansyur tidak tinggal diam dalam menghadapi kondisi ini dan pada suatu malam yang hening dimana semua orang sudah tidur dikumpulkanlah aktifis-aktifis Muhammadiyah di rumahnya untuk mencari solusi menyelamatkan Muhammadiyah dan bangsa ini dari krisis ekonomi. Karena pembahasan rapat yang cukup berat sehingga sampai larut malam belum ada keputusan, maka banyak peserta rapat yang meninggalkan tempat dan tinggal 20 orang saja yang masih bertahan dan selanjutnya dibai’at dan  masing-masing mengucapkan sumpah setianya kepada Muhammadiyah, sanggup mengorbankan harta dan jiwanya untuk mempertahankan Muhammadiyah, ke 20 orang tersebut kemudian dikenal dengan Wali Rongpuluh sebagai pahlawan yang berani bekerja keras sampai akhirnya dapat meneruskan amal usaha Muhamadiyah sampai sekarang.

GERAKAN TABLIGH DAN PENDIDIKAN

Tapi syukur bahwa upaya untuk berlomba-lomba dalam kebajikan tidak terhenti. Bahkan makin maju. Ini ditandai dengan berdirinya organisasi “AISYIYAH” yang merupakan bagian dari Muhammadiyah. Pelopor dan pendirinya adalah: Nyai H. Fatimah, Wak Ning Jannah, Wakning Thoha, Mbok H. Marzuki, Siti Hadjnah, Na’mah (Ny. K. Utsman), Ny. KH Mas Mansyur, Ny. Gaiyah dan H. Siti Maimunah. Langkah utama organisasi wanita Muslim ini adalah: Memperdalam dan meluaskan pengetahuan Agama, meluaskan amalan sosial, mengembangkan tata susila hidup berumah tangga dan mempertinggi mutu pendidikan bagi anak dan kesehatan ibu. Untuk usaha itu, Aisyiyah kemudian mengadakan kerjasama dengan PERJURAIS (Persatuan Juru Rawat Islam) Surabaya yang berpusat di Solo Salah seorang pelopor pembentuknya adalah H. Asnawi Hadikusuma, seorang Muballigh Muhammadiyah. Kerjasama itu dilakukan da­lam bentuk saling tukar menukar pengetahuan. Aisyiyah memberi kursus bidang Agama, sedang. dari Perjurais diterima pelajaran tentang kesejahteraan Ibu dan perawatan bayi.

Bukan itu saja. Tahun 1928, Muhammadi­yah bertambah lagi satu organisasi, yaitu NASYI’ATUL ‘AISYIYAH. Semula organisasi puteri Muhammadiyah ini bernama “SISWO PROYO” pimpinan Ny. Kasifah. Beberapa waktu kemudian, tepatnya tahun 1949 lahir pula. HW Puteri Cabang Surabaya.

Tidak kalah penting dari itu adalah usaha Muhammadiyah di bidang Pendidikan / Pengajaran. Tabligh Muhammdiyah untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan, ternyata berhasil. Dan ini menuntut konsekwensi dari Muhammadiyah untuk menyediakan sarana pendidikan. Muhammadiyah memenuhinya. Maka pada tahun 1922 berdirilah HIS Muhammadiyah (setingkat_SDJ yang gedungnya nongkrong di Peneleh Gang Tujuh, dan beberapa waktu kemudian boyong ke tempat yang lebih luas di Pandean. Tahun 1928 pindah lagi. Kali ini dari Pandean ke Plampitan dan akhirnya ke Jalan Genteng Schout (kini Genteng Muhammadiyah).

Tapi di tahun itu juga, tambah lagi satu sekolah. Yaitu untuk daerah Surabaya Utara, di jalan Mas Mansur Gg. Sukodono yang semula di Nyamplungan. Juga disusul adanya Ibtidaiyah dan Bustanul Afhfal (TK).

Untuk memenuhi kebutuhan di bidang Pendidikan/Pengajaran itulah maka Muham­madiyah Cabang Surabaya membentuk Bagian Pendidikan/Pengajaran. Jalan yang ditempuh ternyata tidak mulus. Tenaga-tenaga Guru yang ada ternyata tidak hanya harus mendidik dan memberi pelajaran, tapi juga memberikan har-tanya. Bahkan salah seorang pengurus (Pa Yaminah) konon “terpaksa” memikul kubis (kol) untuk dijajakannya sendiri di pasar Gen­teng dan sebagian besar hasil penjualannya untuk mencukupi biaya sekolah.

Penolong Kesengsaraan Oemoem (Bagian PKO)

Jalan perjuangan masih panjang. Tahun 1924 Muhammadiyah Cabang Surabaya mendirikan P.K.O. (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dan kemudian berganti dengan nama P.K.U. (Penolong Kesejahteraan Umum) yang kemudian berarti Pembina Kesejahteraan Ummat. Berdirinya PKU didahului dengan Ta­bligh Akbar di Royal Standart Park Kranggan, 1 Juli 1924. KH Mas Mansur selaku Ketua Cabang memimpin acara itu. Hadir utusan dari Pusat, KH Fachruddin dan KH Sudja’. Sedang dari undangan antara lain Dr. Sutomo. Massa cukup melimpah waktu itu. Sekarang dengarkan kata sambutan Dr. Sutomo: ” Bahwa di dalam usaha-usaha sosial, tiada ada dinding yang membatasi antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara Agama Islam dengan Agama lain. Di dalam usaha-usaha amal kebajikan lebih-lebih yang bersifat pertolongan bagi umum, baik dari siapa saja yang mengadakannya wajib disokong. Dan Muhammadiyah yang mempunyai inisiatif mendirikan Balai Kesehatan (Musytasyfa) dan Rumah Yatim yang diurusi oleh bagian PKU-nya itupun harus dihormati. Bangsa kita harus selalu belajar berusaha sendiri guna melengkapi kebutuhan hidupnya yang sehat dan cerdas”.

Beberapa bulan sesudah itu, tepatnya hari Minggu, 14 September 1924diresmikanlah pembukaan PKU Muhammadiyah urusan Musytasyta di jalan Sidodadi. Selain undangan dari instansi resmi, hadir juga dari PP Muhammadiyah KH Sudja’ dan KH Hadikusumo, Direktur Rumah Sakit Simpang Dr. Tamm yang disambut Dr. Sutomo dan KH Mas Mansur selaku tuan rumah. Duduk sebagai pengurus: S. Wondowidjojo (ketua), Askandar (sekretaris), H. Musthafa (bendahara) dan dibantu Abd. hamid, Suroardjo, Purbono-tokusumo, Hardjosaputro, Tjiptaredjo dan Hamdan. Dr. Sutomo duduk sebagai penghubung dan pelindungnya.

Setahun kemudian Klinik Muham madiyah pindah ke Karang Tembok yang kemudian mendapat kunjungan Gubernur Jenderal Lim-berg V. Sterium dan isteri. Dari sini, tahun 1929 pindah lagi di jalan KH Mas Mansur No. 180-182, hingga kini. Pimpinannya waktu itu Dr. Moh. Suwandhie. Yang disebut belakangan ini, sampai kini masih aktif dalam Muhammadiyah sebagai Penasehat PMW Jatim. Cabang-cabangnya kemudian dibuka di Wonorejo yang dipimpin oleh mentri perawat Sukardi, di Jl. Dinoyo dipimpin oleh mentri Didin, kedua cabang ini setelah revolusi ditutup, karena gedungnya diminta pemiliknya dan alat-alat kedokterannya banyak yang hilang, dan di jalan Konstruksi (kini Kalisosok) yang dipimpin Dr. Utoro dan kemudian diganti Dr. Soedarso.

Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945) Balai Kesehatan Muhammadiyah ( BKM)di Pimpin oleh dr.Sudarso dari Sala dan setelah merdeka dipimpin dr.Kusnulyakin, mantan dr. PKU Malang yang pernah ditahan Nica diKalisosok dan atas permintaan H.Abdul Karim; pengusaha besar Surabaya dibebaskan dengan alas an untuk memimpin BKM. Dan Rumah Kesehatan di jalan Mas Mansur setelah terhenti beberapa waktu diresmikan kembali 1 Nopember 1949, yang dipimpin Dr. H. Koesnuljakin.

BKM Mas Mansyur benar-benar bernilai historis yang menjadi kebanggaan warga Muhammadiyah Surabaya, karena dari sanalah melahirkan pemikir-pemikir modern dan actual seperti K.H.Mas Mansyur, K.H. Mas Alwi, K.H. Faqih Usman dan lain-lainnya yang benar-benar produktif mengikuti perkembangan zaman. Disamping itu dari BKM itu juga  tokoh-tokoh besar banyak dilahirkan seperti Mantan Menteri Keuangan Mar’ie Muhamad, mantan Ketua PDM Surabaya K.H.Muh.Yazid. Warga Muhammadiyah memanfaatkan BKM untuk proses persalinan dari berbagai pelosok Surabaya meski harus naik becak dengan perjalanan yang cukup jauh.

Hingga sekarang BKM telah direnovasi dan berubah nama menjadi Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya yang masih terus mengadakan pembangunan dan penambahan peralatan kedokteran yang dipimpin oleh dr.Sukadiono dan pada bulan Februari 2002 diresmikan oleh Walikota Surabaya Bapak Bambang DH.

Amal usaha kesehatan yang lain yanitu Rumah Sakit Bersalin Sitti ‘Aisyah di jalan Pacar Keling Surabaya, yang dibanun diatas tanah PJKA, yang pernah mendapat bantuan dari Mentri Sosial Mulyadi Joyomartono dan bagian uang prangko Amal Muhammadiyah.

Pada tahun 1939 PKO Muhammadiyah Surabaya mendirikan panti asuhan anak yatim dengan menghimpun dan mengasuh anak-anak yatim. Pengasuh pertama adalah A. Duradjak dan isteri dengan anak asuhan sejumlah 22 orang. Bagian yang mengurusinya adalah PKU Urusan Rumah Yatim yang waktu itu dipimpin HA Latief Zain, Imam Badjury selaku sekretaris dan bendaharanya H. Abdullah Faqih Dachlan. Pada masa penjajahan Jepang, tahun 1942, penga-suhnya diganti M. Bedjo. Syukur

Pada masa pendudukan Jepang PAY mendapat gedung di jalan Konninginnelaa (jl. Anjasmoro) yang diasuh oleh Bapak M.Saleh Ibrahim dan Bapak Abdillah. Selama agressi PAY dievakuasi ke Blitar digabungkan PAY Blitar pimpinan Bapak Kusairi, disaat revolusi PAY tidak dapat berfungsi lagi, baru setelah penyerahan kedaulatan dari Pemerintahan Jepang ke Republik Indonesia, dapatlah warga Muhammadiyah berhimpun kembali dan pada saat itu dapat mendirikan dilokasi baru di Jalan Gersikan 59, berkat keuletan pengurusnya, maka tahun 1952, tgl. 18 Nopember bertepatan dengan Milad Mu­hammadiyah ke-40, diadakanlah musyawarah pendirian dan terealisasi yang peresmian pembukaan pembangunan Gedung Anak Yatim yang terletak di Kampung Carikan  yang sekarang  jalan Gersikan No. 59, pada tanggal 18 November 1955, yang menampung 10 anak.

Pada peringatan 10 November 1958, yang dihadiri tokoh-tokoh arek Suroboyo terdiri dari Brigjen Soengkono dan Brigjen Dr.Moestopo diadakanlah rapat Raksasa dan PAY Muhammadiyah Surabaya turut berpartisipasi dalam kegiatan pawai dari Taman Surya menuju ke Tugu PahlawanSurabaya

Perkembanga panti asuhan selanjutnya pada tahun 1958 menampung 25 anak, pada tahun 1962 menampung 40 anak, pada tahun 1968 menampung 60 anak, pada tahun 1970 menampung 75 anak dan sampai sekarang 2004 menampung 75 anak.

Pada saat kepemimpinan Muhamadiyah Cabang Surabaya dipegang oleh dr.Soewandi, diputuskan untuk membentuk kepanitiaan yang terdiri dari :

Ketua             :        H.M.Machien

Panitera         :        Chusnan Djojokusumo

Bendahara     :        H.Abdul Karim

Pengurus Urusan Pemeliharaan Anak Yatim dan Rumah Yatim Muhammadiyah Surabaya (istilah waktu itu) terdiri dari :

Ketua             :        Chozim Ghafur

Penitera         :        Ali Iskandar

Bendahara     :        Ali Ismail

Kemudian tersusunlah pula secara terpilih karena pergantian periode dengan susunan :

Ketua             :        Ali Ismail

Panitera         :        Arsyad Iliyas

Bendahara     :        H.Oemar Siradz

Pengasuh       :        H.M.Adenan

JAMAN BELANDA
PERTEMUAN SOEKARNO DENGAN KH.ACHMAD DAHLAN
Surabaya dimasa Pemerintahan Kolonial Belanda sepertinya di setting untuk dipercepat menjadi kota modern, sehingga tradisi tandak, sedekah bumi, ruwatan, menziarahi punden dan makam, kirim do’a, ludruk dan sejenisnya dipaksakan untuk menerima tradisi-tradisi barat, seperti sajian tarian erotis Mata Hari, yang bernama asli Margaretha Geertruida Zelle, yang suaminya seorang perwira KNIL bernama Mayor Rudolp Macloed antara tahun 1897 sampai dengan 1902, sehingga banyak pejabat Surabaya waktu itu yang terlibat Love Affairs. Maraknya bisnis pelacuran yang melibatkan dari wanita-wanita pribumi dan dari bangsa Eropa pada Tahun 1866 di Kampung Bandaran saja tercatat 228 pelacur yang diasuh 18 orang Germo. Mengkonsumsi Candu, hasil survei pada tahun 1882 disebutkan bahwa satu dari dua puluh orang jawa adalah para pemadat candu, dan yang terbesar adalah adalah penduduk Soerabaia, disampingitu industrialisasi juga berkembang sangat cepat, dimana pada Tahun 1925 saja sudah berdiri pabrik-pabrik besar seperti pabrik sabun, gula,karet, rokok, es, mesin-mesin dan lain sebagainya, sehingga semakin semarak dinamika Soerabia.
Dari kebisingan ragam warna Soerabaia dan pengapnya kamar-kamar penginapan, Soekarno sang putra fajar indekost atau mondok dirumah Cokroaminoto tokoh Sarekat Islam Surabaya di kampung Peneleh gang 7 selama bersekolah di HBS Surabaya pada tahun 1917 hingga 1922, dan disaat beliau berusia 15 tahun (tahun berapa)  untuk pertama kalinya berjumpa dan terpukau dengan kehadiran K.H. Achmad Dahlan pendiri persyarikatan Muhammadiyah, sebab selama ini Soekarno hanya kenal nama saja, seorang tokoh dan ulama besar pembaharu faham agama Islam yang sangat sederhana kehidupannya. Dalam acara Tabligh yang diasuh langsung oleh K.H.Achmad Dahlan yang berlangsung di dekat rumah Cokroaminoto,menurut pengakuannya sendiri dalam Amanat PJ.M Presiden Soekarno  pada penutupan Muktamar Muhamadiyah Setengah Abad pada tanggal 25 Novemer 1962, beliau mengatakan : “ Terus terang segera saya ‘’tertangkap’’ oleh apa yang dikatakannya, sehingga saya harusmenghadiri tabligh-tabligh Kiyai Dahlan dilain tempat, dalam seminggu saja tiga kali dikota Surabaya, dan lain tahun beberapa kali lagi, sehingga saya terus ngintil pada pengajian beliau”.
Disaat usia yang masih remaja dan suasana idealisme yang tinggi Soekarno tertarik dengan bukunya Orison Swett Marden yang menyatakan : “ Cantunkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit, jikalau tidak setinggi bintang di langit, cita-citamu itu masih terlalu rendah”. Soekarno bercita-cita untuk membuat tanah air kita ini satu tanah air yang makmur,bernegara yang kuat, apalagi Cokroaminoto pernah memberikan nasehat :” He, Soekarno,engkau dikelak kemudian hari harus ikut serta didalam Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia ini, agar supaya akhirnya Indonesia menjadi  satu Indonesia yang merdeka, lepas daripada penjajahan”. Dalam suasana pencarian yang panjang itulah remaja Soekarno tertarik dengan ajaran K.H. Achmad Dahlan yang menurutnya berisi regeneration dan rejuvenation dari pada Islam,  Agama Islam I agama yang sederhana, yang gampang, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah samasekali. Dari menghadiri acara Tablgih itulah Soekarno termotivasi untuk mempelajari ajaran Islam, keyakinannya semakin tegas dan kuat , belajar bahasa Inggris untuk mengetahui kebangkitan bangsa-bangsa Islam yang selama ini menderita, dalam buku The New World of Islam, Djamaludin El Afghani, mengajarkan gerakan bangsa-bangsa Islam. Soekarno menyadari ada hubungan yag kuat antara pembangunan agama dan pembangunan Tanah Air, Bangsa dan Masyarakat.
Kecintaan Soekarno dengan gerakan Muhammdiyah nampak jelas, sebab di usia 15 tahun telah simpati kepada K.H. Achmad Dahlan, pada Tahun 1938 resmi menjadi anggota Muhammadiyah (pada saat Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dijabat oleh K.H. Mas mansyur), pada tahu 1946 Soekarno meminta jangan di coret namanya dari Muhammadiyah, pada tahun 1962 beliau berkata :” Moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah SWT, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya”.
K.H. Achmad Dahlan bagi Soekarno adalah sebagai sumber inspirasi baru dalam memahami Islam, disaat umat terbelenggu dalam kejumudan, taklid, tahayul, bid’ah dan Churofat untuk bergerak lebih dinamis dan cerdas dalam merefleksikan ajaran-ajaran Islam. Ajaran Kyai Dahlan benar-benar membekas dalam pribadi Soekarno untuk lebih proaktif dalam meraih cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia, lebih-lebih melihat menderitaan masyarakat yang semakin tertindas, sehingga percepatan meraih kemerdekaan harus terus digelorakan, meski akhirnya Soekarno harus mengalami pembuangan (diasingkan) sehingga dikirim diberbagai tempat yang terpencil untuk membatasi ruang gerak perjuangannya, pada tanggal 5 April 1941 Soekarno disaat diasingkan di Bengkulu bertemu dengan K.H. Mas Mansyur dimana saat itu Mas Mansyur yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah menghadapi celaan dan serangan hebat dari lawan-lawannya,dianggap seperti Heracules yang tetap ingin berkuasa, bahkan ada yang menghina,: Apa tuan Haji Mas Mansyur mau jadi diktator ?, dan masih banyak berbagai fitnah yang dilontarkan kepadanya, sehingga terjadilah pertemuan dengan Soekarno, lalu Soekarno berkata :” Saya mengetahui, bahwa kakanda dicerca, dimaki, disangka jahat, malahan ada pula yang mengadakan aksi yang terang-terangan dan oendergronds menghalangi kakanda untuk dipilih kembali sebagai voorzitterH.B. Muhammadiyah. Demikianlah nasib pemimpin, inilah ukurannya. Teruskanlah kakanda punya aksi, Soekarno berdiri dibelakang kakanda”. Sebagai sesama pejuang yang memiliki cita-cita tinggi untuk kemerdekaan bangsa , serta yang sama-sama pernah mendapat siraman perjuangan dari K.H. Achmad Dahlan dari kegiatan Tablighnya, maka Soekarno dan K.H. Mas Mansyur tetap konsisten meski menghadapi ujian dan pengorbanan yang sangat berat.
Dengan mendaratnya Bala Tentara Jepang, sehingga pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, intensitas perjuangan Soekarno dan K.H. Mas Mansyur semakin meningkat karena didorong keselamatan kaum muslimin dan rakyat Indonesia sehingga bersama Moch.Hatta dan Ki Hajar Dewantoro bekerja dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), yang poluler dengan sebutan “Empat Serangkai”.
Ada satu peristiwa menarik yang terjadi dalam perkembangan Muhammadiyah. Tahun 1925, KH Fakhruddin selaku utusan dari Pengurus Besar, dipanggil ke Batavia Centrum untuk menghadap Gubernur Jendral (GG) wakil mutlak Ratu Wilhelmina. Oleh GG Limberg v. Sttrum yang diplomat itu, Fakhruddin ditegur dan dipancing-pancing dengan pertanyaan-pertanyaan licin. Apa itu Muhammadiyah ? Apa pula perlunya Muhammadiyah melakukan usaha-usaha yang justru sudah dilakukan, diurus dan diatur oleh Pemerintah Hindia, Belanda ?
Posisi yang ditanya sudah jelas. KH Fakh­ruddin waktu itu adalah sebagai “Wakil” dari Muhammadiyah seluruh Indonesia. Maka de­ngan tangkas dijawabnya pertanyaan itu Da­lam pasal 2 dan 3 Anggaran Dasar Muham­madiyah, persyarikatan ini bertujuan hendak memajukan dan menggembirakan hidup menurut ajaran Islam. Seperti telah diputuskan dalam Sidang Tanwir: Muhammadiyah bertuju­an menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam, hingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. ” Jadi Muhammadiyah bu­kan Partai Politik.” Tetapi suatu Perserikatan atau Perhimpunan Sosial, dengan berusaha mengajak dan membimbing segenap ummat agar hidup damai, memperluas ajaran-ajarannya dan mengamalkan tuntunan Rasulullah, menuju kejayaan dan kebahagiaan hidup berkeluarga di dunia sampai akherat. ” Adapun mengadakan usaha-usaha di lapangan sosial itu, adalah semata-mata menunaikan’ perintah Al Qur’an, begitu juga amal usaha kemasyarakatan lainnya. Dan semua itu dilakukan Muhammadiyah menurut saluran yang sah menurut undang-undang dan hukum negara”, kata Fakhruddin.
Dari sini Kyai Haji ini kemudian diminta Limberg untuk menterjemahkan Anggaran Da­sar Muhammadiyah dalam bahasa Belanda. Permintaan itu dipenuhi dan Gubernur Jendral mengerti. Maka beberapa waktu kemudian Muhammadiyah pun diakui dan diberi Rechpersoon oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ini sekaligus telah menghilangkan “kekhawatiran” pemerintah penjajah kepada Muhammadiyah.
Untuk mensosialisasikan hasil kongres Tahun 1926, shalat Idul fitri dilaksanakan dilapangan sepak bola (Pasar Turi). Dalam shalat idul fitri ini, orang yang menonton shalat dengan jama’ah yang melakukan shalat, lebih banyak yang menononton. Karena hari raya waktu itu terdapat perbedaan hari, Imam dan khotib yang pertama menurut versi Abd.Wasian adalah Bapak Abd.Hadi, sedang menurut Nur Hasan Zein adalah Mas Mansyur, sedang berikutnya diantaranya adalah Bapak Aunur Rofiq, Bey Arifin, Abdullah Wasian, selanjutnya dipindah ke Lapangan Tambaksari karena tempat semula dipergunakan untuk pendirian Pasar Turi Surabaya.

PEMBERONTAKAN

Tapi jalan menuju kebaikan memang bu­kan jalan yang lurus dan rata. Tapi banyak kelok dan likunya. Tahun 1927, ketika tekanan dan pemerasan penjajah Belanda terhadap rakyat sudah tak tertahankan lagi, meletuslah pemberontakan dimana-mana. Ini telah membuat Belanda mata gelap Partai Politik dan Organisasimassa tak urung jadi sasaran penggerebekan dan amarah penjajah. Penangkapan dan penDigulan merajalela. Sasaran mereka adalah pemimpin pergeyakan dan lebih-lebih lagi para “Kya’ Muda” dari organisasi keAgamaan. Goncangan ini dengan sendirinya dirasakan juga oleh Muhammadiyah. Issu pa­ling populer waktu itu adalah lahirnya istilah Muhammadiyah Priyayi (PNS) dan Golongan Santri (Rakyat Jelata). Tak syak lagi issue ini sengaja dilempar orang sebagai provokasi. Ini kemudian telah membuahkan lahirnya “Golongan Utara” dan “Go­longan Selatan” Kota Bawah dan Kota Atas di kalangan anggota-anggota Muhammadiyah Cabang Surabaya. Akibat dari semua itu sudah jelas segala pekerjaan yang merupakan amal usaha Muhammadiyah terbengkalai. Kas Bagian Pengajaran tekor. Nafkah guru dan beaya sekolah Muhammadiyah tidak tertutup. Krisis yang sama menimpa PKU. Konon sampai tiga bulan lamanya honorarium para dokter, mantri, juru rawat dan pegawai-pegawai PKU tak terbayarkan.
Nampaknya semua itu memang batu ujan bagi warga Muhammadiyah. la bisa berfungsi sebagai alat penyaring yang tak tahan ujian minggir dan selebihnya jalan terus ! Maka disuatu hari tengah malam ketika orang pada nyenyak dalam tidurnya, di rumah KH Mas Mansur berhimpunlah sejumlah orang tua anggota Muhammadiyah untuk bermusyawarah. Di sini terjadi lagi proses “penyaringan”: dari sekian banyak yang hadir  sampai tengah malam itu ternyata kemudian hanya tinggal 20 orang saja yang bertahan untuk meneruskan musyawarah. Dari sini kemudian dilakukan Bai’at satu persatu. Masing-masing orang mengucapkan sumpah-setianya menurut dialek dan susun katanya sendiri. Yang penting tulus dan tawakkal.
KM. Mas Mansur adalah orang pertama yang mengucapkan bai’atnya. Dengarlah: “Walaupun tinggal seorang ‘saya dan isteri, saya akan tetap meneruskan Muhammadiyah Selama hayat dikandung badan, Syariat Muham­mad SAW yang dianjurkan Muhammadiyah tetap saya bela!”
Di kemudian hari, peristiwa ini dikenal dengan sebutan peristiwa “WALI RONGPU-LUH”, 20 orang Wali. Mereka adalah: KH Mas Mansur (Kampung Baru Sawahan) , K. Utsman (Kaliasin Pompa), Pa Wondowidjojo (Jl. Plampitan). Tjiptoredjo (Grogol), Mas Getong (Pandean), Hardjodipuro (Bubutan), M. Saleh Ibrahim (Kedung Sroko), Mas Idris K.S. HIS., Soemoredjo (Kedung Rukem). Abd. Barry, HA Rahman Utsman (Ketapang Ardiguna), Saleh Cilik (Bibis), H. Muhammad Oerip (Temenggungan) Pak Yatiman (Genteng), Satiman (Genteng), M. Wisatmo (Kaliasin Pompa), Adjar Sunyoto (Jl. Kunti), M. Badjuri (tlungagung), Sumoatmodjo (Kedung Rukem), Martodjojo (Wonorejo), Abdul Bari (Kaliasin)
Begitulah, peristiwa “WALI RONGPULUH” yang terjadi pada 1 Suro 1927 Miladiyah itu, telah turut menandai jatuh bangunnya perjalanan Muhammadiyah di Surabaya. Dan di kemudian hari ternyata. bahwa tindakan-tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh “orang-orang pilihan” tengah malam itu ter­nyata telah berhasil membangun dan membenahi kembali Muhammadiyah. Apa buktinya, hampir tak perlu diceritakan. Sebab orang sudah bisa melihat sendiri perkembangan Mu­hammadiyah di kota Pahlawan ini. Sejak peristiwa itu, hari ini. Dan esok. Insya Allah !

MILITER JEPANG

Pada saat pemerintahan Jepang ujian dan tantangan Muhammadiyah semakin berat, sebab organisasi Muhammadiyah dibekukan, tidak boleh ada aktifitas, rapat-rapat koordinasipun sangat sulit dilakukan sehingga hubungan antara pimpinan dengan anggota dan amal usaha terputus, sebab bagi Jepang, Muhammadiyah merupakan organisasi yang membahayakan. Disamping itu pemerintahan Jepang dengan paksa mengumpulkan harta kekayaan masyarakat untuk kepentingan pemerintahJepang diantaranya untuk membeli pesawat. Meski tantangan berat menghadang bukan berarti tugas da’wah berhenti, hal ini dibuktikan oleh perjuangan Abdullah Wasian sebagai Mubaligh Mutlak yang dibayar penuh oleh Pimpinan Muhammadiyah Surabaya waktu itu untuk beraktifitas da’wah di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) setingkat SMA sekarang menjadi SMA Santa Maria Surabaya,  SMT Praban, Sekolah Tehnik Pasar Turi, Masjid Penjara sebagai Mubaligh pertama yang membina narapidana, Masjid At Taqwa di jalan Mas Mansyur dan di Genteng.
 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya pada waktu itu adalah : Ketua, H Abdullah Usman (Bapaknya Dr.Abd.Karim); Sekretaris, Nur Hasan Zein; Bendahara, H.Ihsan; berkantor di Jl.Kompemen (Jl.Mas Mansyur)
Peran Muhammadiyah Surabaya dimasa perang kemerdekaan benar-benar maksimal seperti aktif dalam pembentukan Markas Sabilillah bersama K.Masykur (NU), K.Faqih Usman (Muhammadiyah) dan Nur Hasan Zein sebagai staf Administrasi. Disamping itu juga aktif dalam pembentukan Markas Hizbullah dengan Ketua Muhamad Amidarmo, karena pertimbangan keamanan akibat serbuan-serbuan dari penjajah markas berpindah-pindah dari Malang pindah ke Kediri terus ke Solo, saat di Solo itulah rombongan Nur Hasan Zein bertemu dengan Munawir Sadzali sebagai Sekretaris Pusat Hizbullah untuk melakukan koordinasi perjuangan.
Pada bulan Agustus 1945, Kota Hiroshina dan Nagasaki di Bom Atom oleh tentara Sekutu sehingga peluang untuk meredeka semaikin dekat sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Moch.Hatta memproklamirkan Kemerdekaan bangsa Indonesia, maka segenap masyarakat merayakan kemerdekaan dan terus aktif melucuti bendera dan senjata Jepang baik di Kaigon  (AL) Jepang maupun di Markas-markasnya.
Baru tiga bulan merasakan kemerdekaan tepatnya pada hari sabtu tanggal 10 November 1945, suasana Surabaya sangat mencekam; meja, kursi,batang pohon melintang di jalan-jalan, warga masyarakat bersiap-siap dengan senjata seadanya:keris,bambu runcing, senapan,geranat, golok, panah  serta beberapa tank dan meriam hasil rampasan dan lain sebagianya sudah menanti. Di setiap depan pintu rumah, ibu-ibu menyediakan pisang goreng, nasi bungkus, ubi rebus,teh,  kopi untuk persediaan perbekalan pejuang arek-arek surabaya.
Tepat jam 06.00, gemuruh kapal terbang mulai terdengar dari arah utara, sengaja terbang rendah sambil menjatuhkan puluhan bom disertai dentuman meriam dari kapal-kapal besar di Tanjung Perak, korban-korban berjatuhan, perkampungan menjadi lautan api. Bung Tomo tampil dengan menggelorakan pekikan “Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar” memberikan semangat yang luar biasa kepada arek-arek surabaya untuk tidak mau menyerah kepada siapapun juga yang mau menguasai Indonesia. Semula Inggris memperkirakan  bakal berhasil menaklukkan Surabaya dalam waktu 24 jam saja, ternyata mereka harus bertempur selam 21 hari, Kata Bung Tomo : Persenjataan kita tidak seimbang, barisan kita tidak terorganisir, tidak terlatih sama sekali. Sedang pasukan musuh memiliki persenjataan lengkap dan kuat, berpengalaman dalam Perang Dunia II, yang dihadapi adalah Brigade 49 Pimpinaqn Brigjen Mallaby berkekuatan 6.000 pasukan dan divisi India ke 5 Pimpinan Mayjen Manserg berkekuatan 24.000 pasukan lengkap dengan kekuatan altileri berat, kapal perang Cruiser Sussex, 4 kapal perusak dan 12 kapal terbang Mosquito.
Dari peperangan yang tidak seimbang itu ternyata arek-arek Suroboyo mampu menewaskan Brigjen Mallaby, meski harus dibayar dengan tewasnya pejuang-pejuang sebagai pahlawan bangsa, dari aktifis Muhamadiyah Surabaya juga merasakan beratnya perjuangan seperti  peristiwa yang memilukan dimana Said Umar, pemimpin Kepanduan Hizbul Wathan dan aktif di kalangan pemuda-pemuda santri, ditangkap Tentara Inggris dan disiksa. Bagaimana kemudian nasibnya, tak seorang pun tahu. Musibah yang sama menimpa Marsidik (anggota Pemuda Muhammadiyah), Mu­hammad Sabdjan (adik Ating Sabdjan), seo­rang organisator dan pemimpin koperasi dan beberapa kawannya yang tergabung dalam “Pemuda Republik Indonesia”. Mereka juga tewas di tangan Tentara Inggris. Malikin, Ketua Muhammadiyah menyusul. la tewas di atas kapal Pemerintah Militer Jepang yang terkena bom pesawat terbang Sekutu. Belum berhenti sampai di situ, musibah baru datang lagi dengan meninggalnya Ibrahim Rahman (Bendahara Urusan Gerak Badan pemuda Muham­madiyah), Ihsan Ishaq, Utsman Rais, Manan Gani dan beberapa lagi yang lain.
Begitu beratnya perjuangan arek-arek Suroboyu dalam mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia, sehingga Surabaya di juluki sebagai kota Pahlawan dan didirikanlah Monumen perjuangan Tugu Pahlawan yang berdiri tegak di pusatkota Surabaya.

PASCA MUKTAMAR PALEMBANG

Masalah lepasnya muhamamdiyah sebagi anggota istimewa masyumi tahu 58 itu baru 56-5758 tanwir muhammadiyah minta pada PP Masyumiuuntuk mengagendakan disiplin partai karna Muhammadiyah pada waktu itu kesulitan karena begitu akrabnya dengan masyumi. Ketika situasi sudah mulai berubah dan cenderung merugikan Muhammadiyah sebagai suatu organisasi dakwah sehingga muahmmadiyah berfiikir keluar dari anggota masyumi. Itukan diawali tahun 1947 diawali dengan PSII keluar dari Masyumi. Tahun 1952 NU keluar dari Masyumi, 1958 Muhammadiyah keluar dari Masyumi. Muhammadiyah tidak mendirikan Partai. PSII dan NU menjadi Partai sendiri. Tahun 1958 yang diutus memperjuangkan dan mengagendakan menemui PP. Masyumi yaitu AR Fahruddin. Sesuai kongres 1958 yang isinya sebaiknya Muhammadiyah keluar dari Masyumi.
            Tokoh Masyumi yang dari Muhammadiyah Surabaya Usman Muttaqin, sholeh ibrahim, Anwar Zein (belum jadi pengurus Muhammadiyah/tahun 1970-an baru jadi Pengurus Muhammadiyah). Anggota DPRS-nya Sholeh Ibrahim (ketua Wilayah Muhammadiyah Jawa timur tahun 1961. KH.Abdullah Wasian, M.Wisatmo sedang wakil DPDnya Bapak Abdul Hadi
Pasca dekrit Presiden kemudian ada kasus Kartosuwiryo pemberontakan PRRI Semesta orang-orang Muhammadiyah yang masuk dalam Partai Masyumi menjadi kesulitan karena dituduh menjadi pendukung PRRI Permesta. itukan akhirnya secara politik dan keamanan menjadi orang yang dikejar-kejar sehingga Muhammadiyah sangat sulit dalam gerakan dakwahnya. Dan itu sudah diperhitungkan oleh PP. Muhammadiyah sesuai dengan hasil Tanwir di Cirebon. Dengan mengutus Pak AR. Fachrudin untuk menuntaskan Muhammadiyah keluar dari Masyumi. Sehingga Pada waktu itu PWM Jatim yang menjadi pengurus tetap menjadi PWM misalkan Anwar Zein, sedangkan Pak Umar Bayasun sampai akhirnya tidak ke Muh.Tapi kegiatannya tetap di Muh.
Hal ini menjadi sulit menjadi pengruus Muh. Pengurus Muh pasca dekrit menjadi takut tidak ada yang berani menjadi tokoh Muh, sehingga menjadi stagnasi. Tekanan yang sangat luar biasa. Masuk daftar target.
Pak K. Faqih Usman dari Jatim yang menjadi salah satu Ketua PP. Muh pada tahun 1963. orang muh yang masuk masyumi banyak yang jadi target polisi dan militer diantarnya Umar bayasun rumah Jl. Blimbing. Adalagi Pak Kusnan dari GPI.
Residen Surabaya (Pembantu Gubernur sekarang) Supardi warga Muhammadiyah dan masyumi.
            Pasca dekrit kekuatan PKI semakin menguasai karena setelah tahun 1960 masyumi memburabarkjan diri sehari sebelum dibubarkan masyumi sduah membeubarkan diri tapi sejarah mengatakan bahwa masyumi dibubarkan. Setalah itu representasi umat Islam didalam perpolitikan diwakili oleh NU, PSII.
Tahun 1948 K.Mas Mansyur memelopori  sedangkan PSII yogya tidak mengakui DPP PSII. Tahun 61-62 mulai ada konsolidasi kekuatan PKI karma sulitnya mengatakan ini karena pada waktu itu NU mewakili umat Islam sangat dominant sehingga pada waktu Front nasional ini untuk menghadapi kekuatan ekstrim kanan. Sehingga setelah Orla jatuh ada eksrtrim kanan dan ekstrim kiri. Front Nasional mengajak Muhammadiyah tetapi Muhammadiyah tidak mau Secara organisatoris Hanya   sebagian orang-2 muhammadiya yang merasa ikut mengamankan, keslitannya, kalau pemerintah mengejar-2 tokoh maumi yang ada di MUH padahal NU ada didalamnya (NU apa ikut menghadapi Muhammadiyah  karena NU total ada dipemerintahan sehingga muhammadiyah tereleminasi, tetapi Muhamm juga tdk berfikir politik praktis, sehingga dakwah ini tetap berjalan, kesulitannya maslah keamanan. Setiap ada kegiatan dakwah selalu ada itelijen yang mengawasi (Polisi/tentara) khususnya muballigh yang keras/kritis misalahkan K. H. Turhan Badri, Amin Tohari (pengajian yang isi sedikit / banyak mengarah ke Politik).
Pendirian Sekolah saat ini sangat sulit, Muhammadiyah diuntung dengan adanya BUNG KARNO yang saat itu menjabat sebagai presiden sekaligus Warga Muhammadiyah. Pada waktu mentersi social dari Muhammadiyah (MULYADI JOYO MARTONO) salah ketua PPM memperjuangkan JL. GENTENG MUHAMMADIYAH  lalu pak Mulyadi mendapatkan bantuan dari PJKA sebuah Tanah PJKA yang sampai sekarang digunakan RSB. SITI ‘AISYAH. Walikota saat itu adalah dari PKI yaitu Bapak DURRAHMAN, yang saat itu sangat besar pengaruhnya.
KONDISI PERJUANGAN
Muhammadiyah Berhadap-hadapan dengan FRONTAL melawan PKI
Tahun 1961 ada Koran yang namanya PEWARTA SURABAYA memuat menyerang Islam bahwa orang Islam melaksanakan Ibadah Haji dibohongi oleh orang Arab, Sebagai PM Muslimin mengejar pencetak Pewarta Surabaya yaitu seorang Cina yang Kemudian dipukul, sehingga kasus ini sampai ke pengadilan dan Muslimin dipenjara yang membela adalah ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya jadi secara organisatoris Muhammadiyah Cabang Surabaya membela yang saat itu diketuai oleh dr. Muhammad Soewandi dan kebetulan Hakimnya anak Bapak Dr. Soewandi.
Mencari tokoh Pengurus Pemuda Muh sangat sulit karena adanya tekanan diantaranya : Bpk Mahmud, Nurhasim, Muslimin,
Tahun 1961 Ketua PM SBY mengadakan pengajian tiap Minggu di Jl. Genteng Muhammadiyah saat itu Muslimin sebagai Ketua Daerah Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Surabaya (Ketua PWPM saat itu adalah Ainurrofiq/P Oen. Ihsan Amin.
KOKAM JATIM  ada setelah G 30 S/PKI diluar itu ada pergerakan Ashabul Kahfi (Aktifis Muhammadiyah) diantaranya Muslimin, hisyam yahya, Rafiq Ghani, Anang Fanan, dr. Muslim Gunawan (Pamannya Ketua Kadin JATIM namanya Ir. AIRLANGGA SATRIAGUNG), dr. Muslim Gunawan Posko di Masjid Mujahidin), yang mendanai Hisyam Yahya karena secretariat Muhammadiyah di Jl. Makam Peneleh terus diawasi sehingga pindah ke Mujahidin. KOKAM Mempunyai pasukan perlawanan.  Dan membentuk lagi gerakan FAK (Fron Anti Komunis). Yang dilakukan, Askhabul Kahfi seperti pembakaran Gedung Balai Pemuda sebab disini digunakan sebagai Posko PKI. Daerah Kantong PKI seperti Jl. Kapas Krampung, Jagir, Perak,
Perangkapan Jabatan Muslimin, saat itu Sekretaris  PWPM dan Ketua PDPM, Askhabul Kahfi
PERIODISASI KEPEMIMPINAN DI DAERAHSURABAYA
K. H. MAS MANSYUR
PERIODE  1921 -  
Muhammadiyah Cabang Surabaya secara resmi berdiri pada tanggal 1 November 1921, yang dilantik langsung oleh K.H. Ahmad Dahlan, dimana sebagai Ketua : K.H. Mas Mansyur yang dibantu oleh K.H. Ali dan didukung oleh para Mubaligh : H. Ashari Rawy, H. Ali Ismail dan K. Utsman.
K.H. Mas Mansyur, lahir di Surabaya tanggal 25 Januari 1896 dan wafat pada 12 April 1946  di kota Surabaya yang dimakamkan di komplek pemakaman Masjid Ampel. Ia mendapat pendidikan agama di Makkah dan Al Azhar Mesir, setelah perang dunia I pecah, ia kembali ke Surabaya kemudian aktif di Muhammadiyah dan Sarekat Islam, bersama HOS.Cokroaminoto pada 1926 aktif di Muktamar ‘Alam Islamy. Disamping itu beliau juga termasuk kelompok Empat Serangkai, yaitu K.H. Mas Mansyur dari golongan Agama, Ir.Soekarno golongan Politik, M.Hatta golongan Ekonomi dan Ki Hajar Dewantoro golongan Pendidikan dan kebudayaan.
Menurut cerita dari K.H. M.Yazid yang masih memiliki hubungan kekeluarga dengan Mas Mansyur, bahwa K.H. Mas Mansyur merupakan salah satu tokoh nasional yang di takuti Jepang, sehingga untuk menghentikan perjuangannya beliau di suntik serum kera hingga meninggal.
Tahun 1930-1937 Sebagai Konsul H.B. yang pertama untuk Daerah Karesidenan Surabaya, ditunjuk oleh H.B. Muhammadiyah Yogya adalah Bapak. K. H. Mas Mansyur, diantara kegiatannya adalah ;
1.  Mempertebal Akidah Islam
2.  Mempererat Ukhuwah Islamiyah
3.  Menghargai Waktu.
4.  Menggiatkan Tabligh hingga terbentuknya beberapa Ranting dan lain sebagainya yang disebutkan dalam “langka dua belasnya“
K. H. FAQIH USMAN
PERIODE  1937 – 1942
Tahun 1937-1942 Bapak K. H. Faqih Usman dari Cabang Gresik terpilih untuk menggantikan Bapak K. H. Mas Mansyur dalam konggres ke 26 di Yogyakarta,  Tanggal 8–15 Oktober 1937 terpilih sebagai ketua Hoofd Besuur dan harus pidah ke Yogyakarta.
Mengingat perjuangan dengan senjata tidak terelakkan sehingga K.H. Faqih Usman bersama K.H. Masykur  pengurus Nahdhotul Ulama, membentuk Markas Sabilillah untuk melakukan serangan-serangan secara sporadic, karena keterbatasan pasukan dan amunisi serta untuk strategi perjuangan sehingga  Markas Sabilillah selalu berpindah-pindah tempat.
H. ABDUL HADI
PERIODE  1942 – 1952
K. H. Faqih Usman mempelopori berdirinya M.I.A.I., partai Islam kemudian Masyumi.
Tahun 1942-1952 H. Abdulhadi, anggota Muhammadiyah Cabang Pekalongan yang bermukim dan berdagang di Jl. Sasak Surabaya dipilih sebagai konsul H.B. Dalam masanya dapat dibentuk koperasi Islam Surabaya (K.I.S.).
H. M. SOLEH IBRAHIM
PERIODE  1952 – 1955
1952-1955 Konferensi Muhammadiyah Daerah Karesidenan Surabaya yang ke III di Surabaya tanggal 18-19 Tahun 1952, Bapak H. M. Soleh Ibrahim terpilih kembali Ketua Majelis Perwakilah P.B. Muhammadiyah Daerah ex Karesidenan Surabaya dan Bojonegoro. (Konsul H.B. diganti dengan Majelis Perwakilan Pengurus Besar) dengan susunan Anggotanya sebagaimana tersebut dalam S.K. No. 128/B, tanggal 4 Jumadil Awal 1372 atau tanggal 20 Januari 1953 (terlampir).Kantor Perwakilan Pusat Pimpinan Muhammadiyah Surabaya di Jalan Ambengan 42 Surabaya
H. M. SALEH IBRAHIM
PERIODE  1956 – 1959
Tahun 1956-1959 Bapak H. M. Saleh Ibrahim terpilih untuk yang kedua kalinya dalam konferensi Daerah ke IV Mojoketo, sebagai Ketua Majelis Perwakilah PP Muhammadiyah Daerah ex Karesidenan Surabaya (Istilah PB. Diganti dengan PP.) sebagaimana tersebut dalam SK. PP. Nomor 30/B/ tanggal 18 Ramadhan 1377 atau 8 April 1958 (Terlampir).
Daerah Bojonegoro dipisah dan mempunyai Majelis Perwakilah sendiri dengan ketuanya Bpk. Mashudi.
DR.SOEWANDHI
PERIODE  1962 – 1964
1960-1962 Konfenensi Daerah yang ke 12 diadakan di Surabaya pada tanggal 9-10 April 1960, telah memilih Bapak M. Zuchal Kusuma sebagai Ketua Majelis Perwakilah PP Muhammadiyah ex Karesidenan Surabaya, kemudian kedudukan Majelis dipindahkan ke Jombang (Terlampir). Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya perubahan struktur organisasi yang menetapkan  bahwa tiap Kabupaten / Kotamadya dibentuk Pimpinan daerah/Kotamadya, sehingga Kotamadya Srabaya memisahkan diri  dari perwakilah Pimpinan Pusat di Jombang. Dan membentuk Pimpinan Daerah, serta membagi Kota Surabaya menjadi lima Cabang.
  1. Cabang Tengah diketuai oleh Bapak Dr. Muhammad Soewandhi
  2. Cabang Timur Bapak H. M. Usman Muttaqien
  3. Cabang Selatan Bapak Soewinto
  4. Cabang Utara Bapak Achmad Gani
  5. Cabang Barat…………………………
H. M. ANWAR ZAIN
PERIODE  1962 – 1964
Sedangkan sebagai ketua Pimpinan Muhammadiyah Kotamadya Surabaya adalah Bapak H. M. Anwar Zain (Tahun 1962-1964).
H. M. ANWAR ZAIN
PERIODE  1964 – 1966
Tahun 1964-1966 Bapak. H. M. Anwar Zain terpilih kembali untuk yang ketiga kalinya. Sebagai Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Kotamadya Surabaya
Tahun 1964-966 Bapak. H. M. Anwar Ibrahim terpilih kembali untuk yang keempat kali dan yang terakhir, karena beliau terpilih sebagai Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Dalam Periode H. M. Anwar Zain inilah Kotamadya Surabaya dibagi lagi menurut kecamatan, sehingga berdirilah 17 Cabang ditiap Kecamatan, yang masing-masing Cabang berlomba mendirikan amal usaha terutama pendidikan, sedangkan amal usaha yang telah ada diserahkan kepada cabang setempat.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya resmi berdiri sejatan tanggal 25 Sya’ban 1386 bertepatan dengan 25 Oktober 1966, sesuai dengansurat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor L.-015/D-1/66 dengan luas lingkungannya meliputi seluruh Daerah Kotamadya Surabaya.
Muhammadiyah Periode 1974-1977
Ketua                            : M. Wisatmo
Wakil Ketua                : Nurhasan Zein
Sekretaris                    : Mustaqim Fadhil
Sekretaris 2                : Satoto
Lajnah Tarjih Tahun 1976
Utusan yang hadir :
Sawahan                       : Ibrahim Ilyas, Minhaj, Kusmini Parjuni
Gubeng                         : Asfar, Abdul Muhith, Ibu Saleh
Wonokromo               : Chirzin, Yusuf Ilyas, K.Fadlan
Tandes                          : K. Juraid Mahfud
Tegalsari                      : Saidoe, Sarbini
Aisyiyah                      : Ibu Masamah Syukur
Tabligh
Ketua                            : Sismono
Wakil Ketua 1            : M. Syahroni
Wakil Ketua 2            : Slamet Riyadi, BA
Sekretaris 1                : Anis Idris
Sekretaris 2                : M. Sulkan Imani, BA
Bendahara                  : Syarful Mudawam
Anggota                       : Sutaji, Nurkholis Huda, M.Sabron, Jazuli, M.Ifandi
PKU
Ketua                            : Imam Purboyo
Sekretaris                   : M. Ichwandi
Dikdasmen
Ketua                           : Mashadi, BA
Sekretaris                  : Ahmad Naryo, BA
Bendahara                 : Sugito, BA
Pustaka
Ketua                          : Syakur Idris
Sekretaris                 : Abdullah
Ekonomi
Ketua                          : Nurhasan Zein
Sekretaris                 : Lubis Arsyad
Bendahara                : Ibrahim Ali, BA
Wakaf
Ketua                          : Arsyad Lubis
Sekretaris                 : Abdul Ghofar
Bendahara                : M.Sanusi
Kondisi PMC
Saat itu Muhammadiyah Cabang yang berdiri 17 Cabang
Kegiatan :
  1. dakwah jama’ah sebulan sekali
  2. mengadakan islah PMC dengan PMC tandingan
mengadakan gerakan Tilka Asratun Kalimah
A I N U R R O F I Q
PERIODE  1971 – 1975
Tahun 1971-1972, Bapak. H. M. Ainurrofiq Mansyur tarpilih sebagai Ketua Pimpinan Muhammadiyah Kotamadya Surabaya, sesuai dengan Surat Nomor : A-I/037/1972, tentang Susunan Anggota Pimpinan Muhammadiyah Daerah Kodya Surabaya Periode 1971 – 1974, yang terdiri dari :
K e t u a                         : K. Aunurrofiq
Wakil Ketua I              : Sismono
Wakil Ketua II            : Wisatmo
Sekretaris                     : Drs. Musta’in
Bendahara                   : Nurhasan Zein
DRS. EC. LUBIS ARSYAD MUTHAHER
PERIODE  1975 – 1980
????????????
PERIODE 1980 – 1985
A B D I L L A H
PERIODE  1985 – 1990
- Ketua                               :                    Abdillah
- Anggota                          :                    H. Soepardi
                                                                    Mashadi, BA
                                                                    K. Djuraid Machfudz
                                                                    Drs. Noer K. Hassan
                                                                    Drs. Mundzir
                                                                    Satoto, BA
                                                                    Saidu Marhaban
Melalui  Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya yang diselenggarakan tanggal 25-26 Shafar 1411 H / 15-16 September 1990 yang bertempat di Cabang Karangpilang serta memperhatikan hasil keputusan Musyawarah Daerah yang diselenggarakan pada tahun 1989 yangh bertempat di Cabang Bubutan Barat dengan perlunya diadakan resafle Pimpinan dengan susunan  sebagai berikut :
- Ketua                                                     :  Abdillah
 - Wakil Ketua I                                     :  K. H. Djuraid Mahfudz
 - Wakil Ketua II                                   :  H. Soepardi
 - Sekretaris                                            :  Drs. Saifuddin Zaini
 - Wakil Sekretaris                                :  Zainal Ihsan
 - Bendahara                                           :  H. Saidoe Marhaban
- Wakil Bendahara                                :  Drs. H. M. Abbas Ch.
- Anggota                                                 :  M. Jayid Ibnu Djaiz
- Anggota                                                 :  Mashadi, BA
- Anggota                                                 :  Satoto, BA
- Anggota                                                 :  Sonhadji Bisri
-Anggota                                                  :  M. Md. Soerjat
Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah Pengajian setiap hari ahad ke 2 yang pelakasanaannya diserahkan kepada Majelis Tabligh, Baitul Arqom, Pembinaan cabang,
Problematika Wilayah Kerja
Sebagai organisasi yang brgerak dalam mesyarakat Indonesia, maka sudah seharusnya Muhammadiyah juga harus mengikuti peraturan dan ketentuan yangberlaku dimasyarakat. Demikian ini adalah kepribadian Muhammaiyah , yang selalu mengindahkan perundang-udangan yang berlaku, Karena sangat pesatnya perubahan Wilayah kerja Pemetintah, halk menimbulkan kesulitan bagi Muhammadiyah terutama Surabaya untuk mengikutinya. Sebagai contoh : Peekaran wilayah kerja kecamatan di Kotamadya Surabaya yang dulunya hanya 19 kecamaan, pada tahun 1988 sudah berkembang lagi menjadi 24 dan kemudia 27 kecamatan. Sehubungan dengan adanya penataan wilayah kerja PCM sesuai dengan wilayah kerja pemerintah yang dalam hal ini ternyata muncul masalah dari salah satu Cabang Muhammadiyah karena wilayah kerjanya adalah wilayah Cabang lain, dan setelah melewati beberapa proses ternyata permasalahan ini tidak kunjung selesai Dalam Hal ini PMD Kodya Surabaya menginginkan terlaksananya keputusan Musyawarah, akan tetapi PMW menginginkan adanya stabilitas di Muhammadiyah (khususnya Surabaya), yang akhirnya  Pimpinan  Muhammadiyah Kotamadya Surabaya menyerahkan permasalahan PMC Ngagel kepada Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur.
Pada Periode Abdilah telah terbentuk 19 Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan 110 Pimpinan Ranting Muhammadiyah Se-Kota Surabaya
Mencita-citakan :
Mendirikan Radio Amatir, Membentuk Korp Muballigh, Mencetak mimbar Jum’at, Menghimpun Dana untuk kesejahteraan Muballigh.
Untuk menunjang dakwah Muhammadiyah di Surabaya hal-hal yang telah dilakukan diantaranya adalah Pengajian Pimpinan, Baitul Arqom, Tertib Administrasi, membentuk unit usaha berupa badan usaha Koperasi Damata Surya (Business Club) yang mengumpulkan modal dari anggota, pengurus dan usahawan Muhammadiyah yang saat itu terkumpul Rp. 23.000.000,oo. Sebagai ketuanya diangkat Bapak H. Muhammad Ad. dan Pimpinan yang lain seperti H. Soegeng, H. Noor Faqih dll.
Kegiatan lainnya seperti Penataran perawatan jenazah, Pengelolaan Zakat, Sentralisasan dan koordinasi Idhul Fitri dan Idul Qurban, serta dakwah terpadu.
Dari program program ada saja program yang tidak terlaksana, hal ini dikarenakan belum terbinanya mekanisme kerjasama antar majelis, badan, lembaga serta ortom secara harmonis, terpadu dalam mebina dan mengembangkan cita-cita persyarikatan secara menyeluruh.
Menghadapi Pemilihan Umum tahun 1987, serta menunjuk hasil rapat pleno PP Muhammadiyah yang diperluas, Pimpinan Muhammadiyah Daerah Kotamadya Surabaya mengambil kebijakan diantaranya
1. Anggota Pmpinan termasuk majelis dan ortom tidak diperkenankan untuk kampanye, kecuali yang menjadi calon dalam pemilu dan tidak diperkenankan melibatkan persyarikatan, 2. Gedung Muhammadiyah berikut halamannya tidak diperkenankan untuk tempat kampanye, 3. Menegaskan kembali bahwa sesuai dengan keputusan Muktamar 38 tahun 1971 di Ujung Pandang dan ke 41 di Surakarta, bahwa Muhammadiyah tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan merupakan afiliasi dari seluruh partai /organisasi politik apapun., 4. Menghimbau kepada kontestan agar dalam kampanye tidak menyalahgunakan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad S.W.T.
Musyawarah Lajnah Tarjih Surabaya pada tanggal 8 Sa’ban 1408 H / 27 Maret 1988 M, tentang : Tuntunan Shiyamu Romadhon, Qiyamu Romadhon, Ied Al Fitri dan Zakat Al Fitri yang dihadiri oleh : H.M.Hasyim manna (ketua), sedang anggota : terdiri dari : K.H.Abdullah Wasian, K. Abdul Muhith, M.Yazid Djaiz Akbar, K.A.Fadelan Irsyad, K.H. Djuraid Machfudz, H.Siadoe Marhaban,Achmad, M.Amin Djamal, A.Baidlowi Soufian, Zainal Abidin Im.Mudo.
Menindaklanjuti Keputusan Muktamar Ulama Tarjih Muhammadiyah ke XX tahun 1396/1976 di Garut Jawa Barat,Pimpinan  Daerah Muhammadiyah Majelis Tarjih Kotamadya Surabaya mengadakan siding Tarjih yang dilaksanakan pada hari Ahad, 23 Dzulhijjah 1407 H / 19 Juli 1987 M bertempat di Masjid Padiwojo Jalan Wonorejo II/15,tentang Takbir Zawaid pada Sholat Ied dan takbir Hari Raya, memutuskan : Tentang Angkat Tangan pada takbir Zawaid,  sebagai prasaran utama adalah bapak K.Abdul Muhith, sedang prasaran pembanding adalah bapak K.A.Fadelan Irsyad, K. Shachech Amien, dari PDM Majelis Tarjih:  H.M. Hasyim Manan (Ketua), A.Khalid Syukri BA (sekretaris), Drs. H. Hussein Aziz (Anggota), M.Zayyin Chudlari BA (Anggota), dengan lajnah Tarjih : H. Hasyim Manan (Ketua),sedang anggota terdiri dari : K.H.Abdullah Wasian, K. Abdul Muhith, M.Yazid Djaiz Akbar, K.A.Fadelan Irsyad, K.H. Djuraid Machfudz, H.Siadoe Marhaban,Achmad, M.Amin Djamal, A.Baidlowi Soufian, Zainal Abidin Im.Mudo.
Keputusan Muhammadiyah Tarjih Surabaya pada tanggal 23 Romadhon 1407 H/ 21 Mei 1987 M, pada hari Kamis bertempat di PAY Muhammadiyah jalan Gersikan 59 Surabaya tentang Sholat Jum’at yang bertepatan dengan hari Raya,sebagai Prasaran Utama adalah Bapak M. Yazid Ibnu Djaiz Akbar, sebagai prasaran Pembanding : Ikhwandi, Maslikhan, Abdul Muhith, A.Fadelan Irsyad, K.H.Abdullah Wasian, dari PDM Majelis Tarjih:  H.M. Hasyim Manan (Ketua), A.Khalid Syukri BA (sekretaris), Drs. H. Hussein Aziz (Anggota), M.Zayyin Chudlari BA (Anggota), dengan lajnah Tarjih : H. Hasyim Manan (Ketua),sedang anggota terdiri dari : K.H.Abdullah Wasian, K. Abdul Muhith, M.Yazid Djaiz Akbar, K.A.Fadelan Irsyad, K.H. Djuraid Machfudz, H.Saidoe Marhaban,Achmad, M.Amin Djamal, A.Baidlowi Soufian, Zainal Abidin Im.Mudo. Keputusannya adalah bahwa Sholat Jum’at yang bertepatan  pada dua hari raya tetap dilaksanakan.
MUHAMMAD YAZID
PERIODE  1990 – 1995
 - Ketua                                                    :  Muhammad Yazid
 - Wakil Ketua I                                     :  H. Soepardi
 - Wakil Ketua II                                   :  Drs. Saifuddin Zaini
 - Sekretaris                                            :  Drs. Agus Suwondo
 - Wakil Sekretaris                                :  Drs. Mulyono
 - Bendahara                                           :  H. Achmad Marzuqie Thoha
- Wakil Bendahara                                :  Drs. M. Zayin Chudlori
- Anggota                                                 :  K. Muhammad Amin Djamal
- Anggota                                                 :  Drs. Ec. Lubis Arsyad Muthaher
- Anggota                                                 :  H. Noor Faqih
- Anggota                                                 :  Piet Subagio
-Anggota                                                  :  Imam Syafi’I, SH
- Anggota                                                 :  Drs. Abdul Wahid Syukur

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah

Ketua                                                         : Drs. Aminuddin kasdi
Sekretaris                                                : Drs. Imam Nukhan
Majelis Tabligh.
Ketua                                                         : Drs. M. Moeryanto
Sekretaris                                                 : Drs. Widadi Isnaini
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (Tarjih & PPI)
Ketua                                                         : Drs. M.S. Khalil, MA
Sekretaris                                                : Drs. Sam’un
Musyawarah Tarjih Surabaya pada tanggal 01 Rajab 1415 H / 04 Desember 1994, di SD Muhammadiyah XVIII Mulyorejo Surabaya tentang Tuntunan Manasik Haji dan Umrah. Selanjutnya pada tanggal 24 Syawal 1415 H / 26 Maret 1995, Bapak Drs. Syaifudin Zaini selaku Wakil Ketua PDM Surabaya berhasil menyusun buku Tuntunan Manasik Haji Tamattu’, yang digunakan untuk sosialisasi pelaksanaan Bimbingan Ibadah Haji.,  disampiang itu juga mengadakan penataran dan lokakarya Administrasi Persyarikatan

Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial dan Pengembangan Masyarakat

Ketua                                                         : R. Siyadi, BA
Sekretaris                                                 : Ir. Muhammad Mansyur
Menindaklanjuti kebijaksanaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengadakan kerjasama dengan Swiss

Majelis Wakaf dan Kehartabendaan

Ketua                                                          : Satoto, BA
Sekretaris                                                  : Halim Mushthofa Kamal, SH

Majelis Pustaka

Ketua                                                          : Drs. Rahmat Abdul Mu’in
Sekretaris                                                 : Drs. M. AffandiBadan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah
Ketua                                                         : Untung Margono, SH
Wakil Ketua                                            : Drs. Achmad Ruba’ie
Majelis Pembinaan Kesehatan (PK)
Ketua                                                        : dr. Muhammad Usman
Sekretaris                                               : Edy Djunaedi
Jumlah Cabang ada = 19
Jumlah Ranting ada =
DRS. H.ABDURRACHMAN AZIS MARZUKI, M.SI
PERIODE 1995 – 2000
Susunan Personalia Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya berdasarkan SK PP Muhammadiyah Nomor A-2/SKD/063/9500, tanggal 11 Dzulhijjah 1416 H / 02 April 1996 M. yang isinya mengangkat Saudara Drs. Abdurrachman Azis Marzuki sebagai ketua PDM Kota Surabaya , dan Sk Nomor A-2/SKD/064/9500, tanggal 11 Dzulhijjah 1416 H / 02 April 1996 M. yang isinya mengangkat dan menetapkan Pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Surabaya.
Sesuai Rapat tanggal 12 Juni 1996, maka ditetapkan susunan PDM Kota Surabaya
Ketua                                                                 : Drs. H.Abdurrachman Azis Marzuki, M.Si
Wakil Ketua I                                                  : Muhammad Yazid
Wk. Ketua II                                                    : Drs.H. A. Wachid Syukur
Sekretaris                                                         : Drs.H. Saifuddin Zaini
Wakil Sekretaris                                             : Drs. Mulyono Najamuddin
Bendahara                                                        : Drs.H. Agus Suwondo
Wk. Bendahara                                               : H. M. Bisri Nur Ch.
Anggota/Koordinator Cabang                : Muhammad Amin Djamal
Anggota/Koordinator Badan,
dan Ortom                                                        : Drs. Ezif M. Fahmi Wasi’an, SK
Anggota/Koordinator Tarjih ,
Tabligh dan  Pendidikan                             : Drs. Rahmat Abdul Mu’in
Anggota/Koordinator Pendidikan         : Drs. H. Suherman Rosyidi, M.Com.
Anggota/Koordinator Sosial dan
Kesehatan                                                         : Piet Subagio
Anggota/Koordinator Ekonomi              : Drs. Ezif M. Fahmi Wasia’an AK.
Wakaf dan Kehartabendaan                       : Drs. H. Suherman Rosyidi, M.Com.
Karena ada personalia yang mengundurkan diri dari kepemimpinan PDM Kota Surabaya, maka tanggal 22 Muharram 1420 H / 07 Mei 1999 M. memutuskan susunan personalia sebagai berikut
Ketua                                                                  : Drs. H.Abdurrachman Azis Marzuki, M.Si
Wakil Ketua I                                                   : Drs.H. A. Wachid Syukur
Sekretaris                                                         : Drs.H. Saifuddin Zaini
Wakil Sekretaris                                             : Saiful Yuhri Wakang
Bendahara                                                        : Drs.H. Agus Suwondo
Anggota/Koordinator Cabang                 : Muhammad Amin Djamal
Anggota/Koordinator Badan,
dan Ortom                                                        : Muhammad Hatta
Anggota/Koordinator Tarjih ,
Tabligh dan  Pendidikan                             : H. Muhammad Yazid
Anggota/Koordinator Pendidikan         : H. M. Bisri Noer Ch.
dan Ekonomi
Anggota/Koordinator Sosial dan
Kesehatan,  Wakaf & KHB                           : Piet Subagio
         Susunan ini mengalami perubahan, dan bertahan kurang dari dua tahun. Ini disebabkan dengan maraknya perkembangan politik nasional pasca tumbangnya pemerintahan Orde baru, yang ditandai dengan berdirinya partai-partai politik baru menjelang pemilu 1999 direspon oleh kalangan persyarikatan tidak terkecuali personalia Pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Surabaya dengan antusiasme yang cukup, yang ditandai dengan partisipasi mereka dalam kepengurusan partai-partai baru tersebut. Sementara itu,
         Untuk menjawab berbagai isu politik yang berkembang pada akhir pemerintahan Orde Baru atau sejak munculnya gerakan reformasi, maka Pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Surabaya menganggap perlu mengkoordinasikan berbagai potensi terutama angkatan muda yang minat mengemban misi politik. Untuk itu, Pimpinan daerah Muhammadiyah kotaSurabaya membentuk sebuah lembaga yang diberi nama Komite Reformasi Muhammadiyah yang kemudian sesuai Sidang Tanwir berubah nama menjadi TRM (Tim Reformasi Muhammadiyah).
Dalam rangka pengenalan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Muhammadiyah Surabaya, maka diadakanlah Festival manasik Haji anak-anak yang diadakan di Islamic Centre Surabaya, pada Sabtu tanggal 2 Agustus 1997 yang melibatkan peserta dati TK ABA dan TPA se-Kota Surabaya.

SUSUNAN PERSONALIA BADAN PEMBANTU

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah

Ketua                                                   : H. SLAMET HARIYANTO
Sekretaris                                           : DRS. A. LUTFI, M.Pd
Majelis Tabligh.
Ketua                                                   : DRS. M. SYAFI’I
Sekretaris                                           : DRS. HAMRI ALJAUHARI
Catatan Saudara Drs. M. Syafi’I sejak tanggal  1 Juni 1998 mengundurkan diri dari jabatan Ketua Majelis Tabligh, dan sampai sekarang susunan personali M. Tabligh belum dilakukan perubahan.
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (Tarjih & PPI)
Ketua                                                    : DRS.H. A. SAIFUL ANAM, M.Ag
Sekretaris                                           : H. IMANAN, BA
Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial dan Pengembangan Masyarakat
Ketua                                                    : SATOTO, S.Pd
Sekretaris                                           : DRS. ANDI HARIYADI
Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
Ketua                                                    : HALIM MUSTAFA KAMAL, SH
Sekretaris                                           : MOCHAMMAD HASYIM, S.Pd.
Mengadakan pendataan dan pensertifikatan tanah-tanah Persyarikatan, hasil yang dicapai  adalah data tanah yang dimiliki/dikuasai oleh Persyarikatan Muhammadiyah Surabaya sekitar 62.900 M2, yang berupa tanah/bangunan wakaf, Hak Milik, Hak lain-lain, Surat Bukti (Sertifikat, AIW, Notaris, PPAT, lain-lain)
Majelis Pustaka
Ketua                                                    : DRS. MOCH. DARODJAT
Sekretaris                                           : SLAMET HASAN, S.Ip

Majelis Ekonomi

Ketua                                                    : DJA’FAR DIRHAM
Sekretaris                                           : DRS. SOEJATNO
Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan Muhammadiyah (LPPKM)
Ketua                                                    : DRS. M. ZAYIN CHULORI
Sekretaris                                           : DRS. H. KURMEN, SH
Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah
Ketua                                                    : DRS. MULYONO N.
Sekretaris                                           : M. MUHADI, S.Pd.
Majelis Pembinaan Kesehatan (PK)
Ketua                                                    : DOKTER SYAIFUL ISLAM
Sekretaris                                           : dr.  SUKADIONO
Untuk menjawab berbagai isu politik yang berkembang pada akhir pemerintahan Orde Baru atau sejak munculnya gerakan reformasi, maka Pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Surabaya menganggap perlu mengkoordinasikan berbagai potensi terutama angkatan muda yang minat mengemban misi politik. Untuk itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya membentuk sebuah lembaga yang diberi nama Komite Reformasi Muhammadiyah yang kemudian sesuai hasil sidang Tanwir berubah nama menjadi TRM (Tim Reformasi Muhammadiyah).
DRS. H. ABDUL WAHID SYUKUR
PERIODE 2000 – 2005
Ketua                                                      :  Drs. H. Abdul Wahid Syukur
Wakil Ketua I                                       :  H  Achmad Fadhil taslim
Wakil Ketua  II                                    :  Drs. Rahmat Abdul Mu’in
Sekretaris                                              :  Halim Mushthofa Kamal, SH
Wakil Sekretaris                                  :  Drs. Syamsun Aly
Bendahara                                             :  Drs. H. Agus Suwondo
Wakil Bendahara                                 :  Piet Subagio
ANGGOTA
Pembina Bidang tarjih & Tabligh  : H. Imanan, S.Ag.
Pembina Bindang Pendidikan        : Drs. Saifuddin Zaini
Seni dan Budaya
Pembina Bidang Wakaf KHB dan   : H. Achmad Marzuqie Thoha
Ekonomi
Pembina Kesehatan dan                   : dr. Sukadiono
Kesejahteraan masyarakat
Pembina Kader dan Ortom              : Untung Margono, SH
Pembina Cabang                                  : Drs. Hamri Aljauhari
Karena ketidakaktifan Sekretaris, maka berdasarkan hasil rapat harian diputuskan untuk merubah susunan personalia
K etua                                                       :  Drs. H. Abdul Wahid Syukur
Wakil Ketua I                                         :  H  Achmad Fadhil taslim
Wakil Ketua II                                       :  Drs. Rahmat Abdul Mu’in
Sekretaris                                                :  Drs. H. Saifuddin Zaini
Wakil Sekretaris                                    :  Drs. Hamri Aljauhari
Bendahara                                               :  Drs. H. Agus Suwondo
Wakil Bendahara                                   :  Piet Subagio
ANGGOTA
Pembina Bidang tarjih & Tabligh    : H. Imanan, S.Ag.
Pembina Bindang Pendidikan          : dr. Sukadiono
Seni dan Budaya
Pembina Bidang Wakaf KHB              : Halim Mushthofa Kamal, SH
Ekonomi
Pembina Kesehatan dan                     : H. Achmad Marzuqie
Kesejahteraan masyarakat
Pembina Kader dan Ortom                : Untung Margono, SH
Pembina Cabang                                    : Drs. Syamsun Aly

Perubahan kembali

Ketua                                                          :  Drs. H. Abdul Wahid Syukur
Wakil Ketua I                                           :  H  Achmad Fadhil taslim
Wakil Ketua  II                                        :  Drs. Rahmat Abdul Mu’in
 Sekretaris                                                 :  Drs. H. Saifuddin Zaini
WAKIL SEKRETARIS                            :  Drs. Hamri Aljauhari
BENDAHARA                                           :  Drs. H. Agus Suwondo
WAKIL BENDAHARA                           :  Piet Subagio
ANGGOTA
Pembina Bidang tarjih & Tabligh     : H. Imanan, S.Ag.
Pembina Bindang Pendidikan           : dr. Sukadiono
Seni dan Budaya
Pembina Bidang Wakaf KHB               : H. Achmad Marzuqie
Ekonomi
Pembina Kesehatan dan                      : Drs. Sujatno, M.Si.
Kesejahteraan masyarakat
Pembina Kader dan Ortom                 : Untung Margono, SH
Pembina Cabang                                     : Drs. Syamsun Aly

Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani

K E T U A                                                 :  ROCH SIYADI, BA
WAKIL KETUA                                     :  DRS. HASAN MADJURI
WAKIL KETUA                                     :  DRS. MULYONO NAJAMUDDIN
SEKRETARIS                                         :  ADITYO YUDHONO, SE
WAKIL SEKRETARIS                         :  MURTADLO, S.Pd.
BENDAHARA                                        :  H. M. ROMADHONI
WAKIL BENDAHARA                         :  DRS. M. MAWARDI
ANGGOTA EKS. OFFICIO
  1. KETUA MAJELIS TABLIGH DAN DAKWAH KHUSUS PDM. KOTASURABAYA
  2. KETUA MAJELIS TARJIH DAN PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM  PDM.KOTA SURABAYA
  3. KETUA MAJELIS EKONOMI PDM. KOTA SURABAYA
  4. KETUA MAJELIS WAKAF DAN KEHARTA BENDAAN PDM. KOTASURABAYA
  5. KETUA MAJELIS KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT  PDM. KOTA SURABAYA
  6. KETUA MAJELIS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH  PDM. KOTASURABAYA
  7. KETUA PD. ‘AISYIYAH KOTA SURABAYA
  8. KETUA PD. PEMUDA MUHAMMADIYAH  KOTA SURABAYA
  9. KETUA PD. NASYIATUL ‘AISYIYAH KOTA SURABAYA
10. KETUA PC. IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH KOTA SURABAYA
11. KETUA PD. IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH KOTA SURABAYA
12. KETUA PD. TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH KOTA SURABAYA
13. KETUA KWARTIR DAERAH HIZBUL WATHAN  KOTA SURABAYA
========================== RALAT ================================

DAFTAR AMAL USAHA MUHAMMADIYAH

BIDANG KEAGAMAAN
(BERDASARKAN CABANG)
Pimpinan Muhammadiyah Kota Surabaya memohon maaf atas ketidak-nyamanannya sehubungan kesalahan penulisan data amal usaha muhammadiyah (Masjid TPI) yang ada di website ini, yang mana seharusnya tidak termasuk dalam amal usaha Muhammadiyah kota Surabaya.
Demikian Ralat dari kami, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.
================================

DAFTAR AMAL USAHA MUHAMMADIYAH

BIDANG PENDIDIKAN
(BERDASARKAN CABANG)
No.
Nama Sekolah
Alamat
PCM
1
SD MUHAMMADIYAH  1
Jl.Genteng MUHAMMADIYAH  No. 28
Genteng
2
SD MUHAMMADIYAH  2
Peneleh VI / 72
3
SLTP  MUHAMMADIYAH  2
Genteng MUHAMMADIYAH  28
4
SD MUHAMMADIYAH  3
Tambaksegaraan No. 25
Tambaksari
5
SLTP  MUHAMMADIYAH  13
Tambaksegaraan No. 25
6
SD MUHAMMADIYAH  4
Pucang Anom 93
Nagel
7
SD MUHAMMADIYAH  16
Barata Jaya V Barat 24
8
SLTP  MUHAMMADIYAH  5
Pucang Taman I/2
9
SMU  MUHAMMADIYAH  2
Pucang Taman I/2
10
SLTP  MUHAMMADIYAH  8
Barata Jaya V Barat 24
11
SD MUHAMMADIYAH  5
Darmawangsa No. 2
Gubeng
12
SLTP  MUHAMMADIYAH  9
Kertajaya 112114
13
SD MUHAMMADIYAH  6
Gadung III / 7
Wonokromo
14
SD MUHAMMADIYAH  7
Jagir Sidomukti VID/5
15
SD MUHAMMADIYAH  24
Ketintang No. 24
16
SLTP  MUHAMMADIYAH  4
Gadung III / 7
17
SMU  MUHAMMADIYAH  3
Gadung III/7
18
SD MUHAMMADIYAH  8
Sutorejo 98100
Mulyorejo
19
SD MUHAMMADIYAH 18
Mulyorejo Tengah No. 5
20
SLTP  MUHAMMADIYAH  10
Sutorejo 98 – 100
21
SMU  MUHAMMADIYAH  7
Sutorejo 98 – 100
22
SD MUHAMMADIYAH  9
Sukolilo I/2
Kenjeran
23
SD MUHAMMADIYAH  25
Sidotopo Wetan I Dalam 18
24
SLTP  MUHAMMADIYAH  15
sotopo Wetan I Dalam 18
25
SD MUHAMMADIYAH  10
Kapasan 73-75
Simokerto
26
SD MUHAMMADIYAH  17
Simolawang Tembusan II/75C
27
SLTP  MUHAMMADIYAH  1
Kapasan 7375
28
SMU  MUHAMMADIYAH  1
Kapasan 73 – 75
29
SMK  MUHAMMADIYAH  1
Kapasan 73  75
30
SD MUHAMMADIYAH  11
Dupak Bangunsari 5254
Krembangan
31
SLTP  MUHAMMADIYAH  11
Dupak Bangunsari 52  54
32
SD MUHAMMADIYAH  12
Dupak Jaya V/53
Bubutan
33
SD MUHAMMADIYAH 20
Tembok Dukuh Butulan
34
SLTP  MUHAMMADIYAH  7
Dupak Jaya V/53
35
SMU  MUHAMMADIYAH  6
Dupak Jaya V/53
36
SD MUHAMMADIYAH  14
Manukan Kulon No. 2
Tandes
37
SD MUHAMMADIYAH  23
Buntaran 156
38
SLTP  MUHAMMADIYAH  14
Manukan Kulon 2
39
SMU  MUHAMMADIYAH  8
Buntaran 156
40
SD MUHAMMADIYAH  15
Kedurus 174
Wiyung
41
SD MUHAMMADIYAH 19
Ampel Kesumba 14
Pabean Cantikan
42
SD MUHAMMADIYAH  13
Sampurna 63
43
SD MUHAMMADIYAH 21
Wonokusumo Wetan No. 3
Semampir
44
SLTP  MUHAMMADIYAH  16
Bulaksari 33
45
SD MUHAMMADIYAH 22
Kemlaten Baru 43
Karangpilang
46
SLTP  MUHAMMADIYAH  6
Kemlaten Baru 43
47
SMU  MUHAMMADIYAH  4
Kemlaten Baru 43
48
SLTP  MUHAMMADIYAH  3
Kupang Panjaan IV/48
Tegalsari

DAFTAR AMAL USAHA MUHAMMADIYAH

BIDANG KESEHATAN
No.
Nama Sekolah
Alamat
PCM/PDM
1
RS. Muhammadiyah
Jl.K.H. Mas Mansyur 180-182
Semampir/PDM
2
Ploklinik Manukan Mulyo
Manukan Mulyo
Tandes
3
Poliklinik Al-Jihad
Dupak Jaya
Bubutan
4
Balai Kesehatan Dupak
Dupak Bandarejo 25
Krembangan
5
Poliklinik Semampir
Bulaksari 33
Semampir
SEJARAH ORGANISASI OTONOM
KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
KOTA SURABAYA
PERIODESASI TIMBULNYA HIZBUL WATHAN
Pada Tahun 1918 Atas  inisiatif Majelis Pengajaran yang dipelopori oleh K. H. Muchtar. K.R. H. Hisyam, K.R.H. Madjid dan lain-lain maka lahirlah kepanduan Hizbul Wathan dengan mendapat persetujuan  dengan mandapat persetujuan K. H. Ahmad Dahlan.
A.     PERIODE PERTAMA PERINTISAN DAN PENDIRIAN HIZBUL WATHAN
         1.   Kapan Kepanduan Hizbul Wathan dirintis pertama kali dan siapa perintisnya?
               Tidak lama setelah diresmikan berdirinya Muhammadiyah Cabang Surabaya pada tanggal 1 November 1921 oleh KH. Ahmad Dahlan pada kunjungannya ke Surabaya yang kedua dirintis pula kegiatan yang mendukung berdirinya Muhammadiyah tersebut yaitu Kepanduan Hizbul Wathan dengan latihan baris berbaris, perkemahan, musik dan sepak bola untuk anak muda diakhir tahun 1921 tersebut. Dengan masih berduk (kacu leher) merah dan bertutul hitam sebagai uniformnya.
                Pada tahun berikutnya yaitu tahun 1922 Hizbul Wathan diresmikan berdirinya di Surabaya yang waktu itu menjadi satu bagian Kepemudaan dan Olah raga dari Muhammadiyah. Pelantikannya dilakukan disekolah “Aisyiyah” (kantor Cabang Muhammadiyah) di Pandean Gg 4 (sekarang Gg 1). Pelopor pendirinya yang kemudian dilantik menjadi pengurus Cabang HW Surabaya adalah M. Idris, H. Asy’ary ( yang selanjutnya menjadi bendahari Muhammadiyah Cabang Surabaya), M. Machin (Toko “Mapan” Jagalan), H. Ismail, Somo, Soekardi, Soeprapto, M. Kaspan (sdr. M. Machin) dan M. Wisatmo yang kemudian menjadi Menteri Daerah HW karesidenan Surabaya. Sebelumnya nama Hizbul Wathan telah dikenal sebagai nama madrasah yang dikelola oleh KH. Mas Mansur namun dengan diresmikannya pandu Hizbul Wathan milik Muhammadiyah maka madrasah itu diganti dengan nama MUFIDAH yang sampai sekarang masih ada.
               Komando leider HW adalah Kusumojudo (Bangkalan – bekas Comm Militer Belanda dahulu), Barisan musik HW dibawah asuhan H. Iskandar dan Muh. Syarif Pandean. Muh. Syarif ini saudara tertua M. Djuki, pemimpin Orkes RRI Surabaya. Barisan musik HW ini sering diundang meramaikan hajat penduduk dan perkumpulan-perkumpulan yang mengadakan peringatan atau konggres / musyawarah akbar  Muhammadiyah termasuk mengiringi ketika berangkatnya KH. Mas Mansur dan HOS Cokroamunoto ke muktamar Islam sedunia di Makkah tahun 1925
2.    Apa latar belakang dibentuknya Hizbul Wathan Surabaya
Untuk mempersiapkan kader-kader muda yang siap pakai (militan) dalam acara-acara yang diadakan oleh Muhammadiyah, penerus dan pelangsung Persyarikatan Muhammadiyah dan memberikan kegiatan yang positif dan terarah demi kemajuan diri pribadinya sehingga menjadi terampil, matang jiwanya terutama untuk kepentingan bangsa dan negara dalam mempersiapkan kemerdekaannya.
3.   Daerah mana yang pertama kali menjadi tempat kegiatan Kepanduan Hizbul Wathan ?
Awalnya kegiatan Hizbul Wathan diadakan dihalaman sekolah Mufidah milik KH. Mas Mansyur dekat masjid Ampel Surabaya. Lambat laun kegiatan HW ini bertambah pesat sehingga pada tahun 1938 dibagi tiga kelompok yaitu
a.    Golongan Coklat yang berada di Surabaya Utara dipimpin oleh Said Umar dibantu oleh Sya’roni. Kegiatannya adalah
- Pelajaran untuk Pengenal tiap hari Ahad sore         pkl.16.30-17.45
- Pelajaran suling tiap hari Senin malam                     pkl.19.00-21.00
- Pelajaran untuk Athfal tiap hari Selasa sore             pkl.16.30-17.45
- Kursus Kepanduan dan agama hari Kamis              pkl.19.00-20.30
Semua kegiatan itu dilaksanakan di gedung Pemuda Muhammadiyah Kampement Straat 234
b.    Golongan Merah yang berada di Surabaya Selatan dipimpin oleh Kayoon Mulyadi dibantu Yakim Abdullah. Kegiatannya adalah
- Pelajaran untuk Athfal & Pengenal tiap Sabtu sore      pkl.16.30-18.00
- Pelajaran kursus agama tiap Sabtu malam              pkl.18.30-20.00
- Kursus Kepanduan dan belajar suling tiap Kamis  pkl.19.30-21.00
Semua kegiatan itu dilaksanakan di gedung HIS Muhammadiyah Genteng Schout.
c.    Golongan Hijau (daerah Pacar Keling) dipimpin oleh Soetedjono. Kegiatannya adalah
- Pelajaran untuk Pengenal & Penghela tiap Ahad sore            pkl.16.30-17.45
  Dilapangan Nias Pacar Kening
- Kursus bahasa Belanda tiap Rabu malam                     pkl.19.00-21.00
- Kursus agama & rapat kehormatan tiap Jum’at             pkl.19.00-21.00
  Di internaat CBZ.
Semua kegiatan itu dilaksanakan di Kedung Tarukan.
               Selain itu, kepada tiap-tiap golongan diberi hak mengatur golongannya masing-masing, begitu pula pasukan, kampungan dan kaum sampai pada regu, sarang dan kawannya. Kemudian setiap satu bulan sekali diadakan rapat pemimpin-pemimpin golongan dan regu sepasukan untuk memperbincangkan kemajuan Kepanduan Hizbul Wathan.
Kehadiran tentara Jepang merubah situasi Surabaya termasuk kepanduan HW karena tidak ada aktifitas yang boleh dilakukan dan untuk sementara tanpa kegiatan apapun.
Namun setelah Jepang menyerah kepada sekutu, HW mulai hadir kembali di Surabaya namun yang dapat diaktifkan tinggal dua golongan yaitu
a.   Golongan Coklat yang berada di Surabaya Utara dipimpin oleh Jaffar Hasan latihan pada hari Ahad sore bertempat di lapangan sekolah AMBASS SCHOOL Dana Karya sebelah sekolah Al Irsyad Pimpinan Pasukan saat itu Sofyan
b.   Golongan Merah yang berada di Surabaya Selatan dipimpin oleh Harun latihan pada hari Ahad sore bertempat di lapangan Koblen Pimpinan Pasukan saat itu Sidik
3.    Kegiatan atau langkah apa saja setelah terbentuknya Hizbul Wathan dan Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap terbentuknya / kegiatan HW?
Disamping latihan rutin kepanduan seperti baris-berbaris & perkemahan, Musik dan sepak bola, anak-anak Hizbul Wathan selalu dilibatkan dalam kegiatan yang diadakan oleh Bapak-bapak Muhammadiyah diantaranya menjadi penerima tamu pada acara rapat atau musyawarah, membantu menyiapkan shof untuk sholat ‘Id dilapangan, mengantarkan zakat fitrah kepada fakir miskin dll.      Persatuan sepak bola HW(PS. HW) Cabang Surabaya saat itu terkenal dalam kejuaraan sepak bola dan sangat sportif dalam bermain sehingga banyak yang menjadi team inti PERSIBAYA (sekarang PERSEBAYA). Tidak mau kalah dengan daerahSurabaya lainnya, di Kenjeran (Surabaya bagian Timur) muncul HW laut yang mempunyai keahlian dan ketrampilan tersendiri.
Pada tahun 50-an ada utusan dari pandu internasional London yang bernama jend. Wilson berkunjung ke Surabaya, HW yang masuk dalam IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) cabang Surabaya menjadi panitia penyambutan yang dinilai cukup mengesankan. Pada tahun yang sama dr. Adnan kayat anggota HW Surabaya terpilih sebagai peserta Jambore Internasional di Manila Philipina atas nama IPINDO Pusat..
Anak-anak Hizbul Wathan yang pendukung utamanya dari murid-murid madrasah Hizbul Wathan yang berganti nama MUFIDAH pimpinan KH. Mas Mansur banyak yang menjadi kader Muhammadiyah dan mempunyai keahlian tersendiri. Mereka terkenal kemahiran dan ketangkasannya dalam bertabligh dan menyampaikan pesan-pesan moral. Sa’id Umar misalnya Pemimpin kepanduan HW Surabaya yang meneruskan langkah meretas jalan dikalangan pemuda-pemuda santri yang dalam pendudukan tentara Inggris beliau ditangkap dan disiksa sebagai patriot yang setelah itu tidak pernah ada kabarnya lagi sampai sekarang.
Semangat tinggi yang muncul pada para pemuda ini diikuti pula oleh remaja-remaja putri waktu itu..Keinginan besar mereka tak dapat dibendung lagi dengan diresmikannya berdirinya HW Putri pada tanggal 9 Juni 1950 di tengah-tengah kota dipusat Pemerintahan Propinsi Surabaya (Gedung Gubernuran)
Semarak, keceriaan dan aktifitas pandu HW yang nyata dalam masyarakat dan tanggapan yang cukup bagus tersebut dikejutkan oleh munculnya Keppres no. 238 tanggal 13 Maret 1961 tentang peleburan semua organisasi kepanduan yang ada di Indonesia menjadi PRAMUKA.
Sikap beragam ditunjukkan oleh para aktifis pandu HW setelah munculnya Keppres 238 tersebut. Ada yang hanya mengaktifkan pasukan genderangnya (drumb band), ikut terlibat dalam Pramuka, memajukan PS HWnya, membubarkan diri dan diam menunggu perhelatan zaman sampai HW muncul lagi (periode kebangkitan HW)
B.     DAMPAK PEMBUBARAN HIZBUL WATHAN
Pemikiran dibentuknya Hizbul Wathan
Dibentuknya Hizbul Wathan bertolak dari pemikiran Kiyai Haji Ahmad Dahlan dalam upaya penyebaran agama Islam dan Negara kita.
Pemikiran ini muncul berdasar kenyataan selama penjajahan Belanda, bagsa Indonesia pada umumnya dan generasi muda khususnya hidup dalam belenggu dan berdampak timbulnya keterbelakangan diseluruh sector kehidupan, baik eonomi, poltitik, maupun social budaya. Kelemahan-kelemahan ini harus segera diatasi agar bangsa Indonesia menjadi kuat dalam segala aspek kehidupan dan sanggup mengemban tugas-tugas berat untuk membangun masa depan ssuai dengan yang dicita-cita.
Perlawanan menghadapi pemerintahan colonial selalu kandas dan mudah dipatahkan karena pergerakan kita belum terkoordinasikan secara baik. Lemahnya aqidah agama dan rendahnya pendidikan bangsa kita merupakan kendala untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kiyai Haji Ahmad Dahlan mencermati kelemahan-kelemahan itu, kemudian mencari terobosan baru guna menghadapi pemerintah colonial dengan mengatasi kelemahan yang ada. Upaya itu antara lain meningkatkan pendidikan, baik melalui sekolah maupun dalam bentuk pendidikan diluar sekolah.
Dari pemikiran inilah kemudian pada tahun 1918 dibentuk PADVINDER MUHAMMADIYAH, kemudian tahun 1920 berganti nama menjadi HIZBU WATHAN. Pada tahun  1928, atas usul Haji Agus Salim istilah Padvinder diganti dengan Pandu, Sedangkan Padvinderij diganti dengan Kepanduan. Pendidikan Hizbul Wathan pada dasarnya bertujuan untuk membantu menyebarkan agama Islam dan menyiapkan Kader-kader Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan berkeyakinan bahwa dengan perluasan pendidikan, mereka para pemuda akan lebih mudah digerakkan dalam perjuangan.
Pertumbuhan Hizbul Wathan
Setelah Hizbul Wathan dibentuk, kemudian berkembang secara cepat diberbagai wilayah sampai diseluruh pelosok tanah air Indonesia. Keanduan Kepanduan Hizbul Wathan bagaikan endawan dimusim hujan. Hal ini sejalan dengan perkembangan perkembangan pemikiran dan tuntutan jaman. Organisasi-oraganisasi kemasyarakatan maupun partai-partai politik sejak Boedi Oetomo susul-menyusul mendirikan oarganisasi kepanduan yang ara dan tujuannya sau yaitu mencita-citakan Indonesia merdeka. Berkat kemauan dan kesadaran bersama terwujudlah kerjasama yang baik antara Hizbul Wathan dan organisasi kepanduan lainnya.
Petumbuhan Hizbul Wathan yang demikian cepat menimbulkan kekhawatiran pemerintah colonial HindiaBelanda. Untuk itu dicari jalan keluar untuk membujuk Hizbul Wathan supaya masuk Kepanduan Hindia Belanda. Prinsip keislaman dan jiwa nasionalisme tidak menggoyahkan Hizbul Wathan daari bucuk rayu emerintah colonial. Organisasi ini tegar bersama kepanduan lainnya. Dalam hipitan yang ketat dari penguasa jepang, walaupun Hizbul Wathan dibekukan (1942), namu tetap hidup dan berkembang, sekalipun harus bergerak secara tersembunyi (tertutup). Setelah Indonesia merdeka untuk selam-lamanya. Setelah masa revolusi fisik itu, atas anjuran Jendral Soedirman menjelang wafatnya (1950), Kepanduan Hizbul Wathan diaktifkan kem,bali secara terbuka.
Tujuan Kepadanduan dalam masa demokrati liberal tidak murni lagi karena organisasi kepanduan dimanfaatkan oleh partai-partai politik sehingga keadaannya sangat memprihatinkan. Situasi yang demikian ini (1959) dimanfaatkn oleh PKI melalui Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kabudayaan (Prof dr. Prijono) untuk membubarkan organisasi-organisasi Kepanduan dan dilebur menjadi satu organisasi seperti di Negara-negara komunis. Hal inilah yang menimbulkan pemikiaran Bung Karno untuk melebur semua organisasi kepanduan dalam satu wadah bar yaitu Pramuka (1961).
Untuk mengantisipasi perintah kepala Negara itu, Pimpinan Muhammadiyah yang diketuai oleh H. M. Yunus Anis dan sekretarisnya M. Djindar Tamimy menerbitkan maklumat (28 Syawwal 380/15 Maret 1961) yang berisi tiga butir keputusan, yakni ; 1. Mematuhi dan memenuhi perintah; 2. Meniadakan Organisasi Hizbul Wathan dan 3. menunjuk H. Mawardi, R. Haiban Hadjid, Muh Hirmas, Muh Sumitro, H. Muh. Lutfie dan H.A. Dwidjosuparto untuk membereskan segala sesuatu yang berkenaan dengan perintah Negara tersebut.
Untuk menghadapi masa peralihan berhubung adanya dekrit presiden tentang peleburan organisasi-organisasi kepandun di Indonesia menjadi pramuka, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah majelis Hizbul Wathan pada tanggal 1 April 1961 menerbitkan pengumumam kepada semua pimpinan HW diseluruh Indonesia. Pengumuman itu sebagai pegangan menghadapi satu macam organisasi peleburan yang disebut pramuka.
Tuntunan yang perlu dipegang sebagai pedoman terdiri dari tiga butir sebagai berikut : 1. Suaya suasana bergerak diantara Pemimpin dan anak HW jangan dapat disilaukan oleh Manuovre pihak lain. Juga sesuai dengan surat edara dari Bapak Pandu ampai nanti ada instruksi dari bapak Pandu  sendiri, maka latihan-latihan kepanduan dengan uniformnya tetap berjalan seperti biasa, kecuali aktivitas seperti pekemahan, perlombaan, pengembaraan dan lain-lainnya supaya dihentikan; 2. Suaya HW tetap mempelopori dan jangan sampai kalah dalam segala gerakan-gerakan kemasyarakatan yang sholeh dan diridloi oleh Tuhan. Pandu HW diharapkan menjadi muballigh-muballigh kecil dalam pergolakan-pergolakan masyarakat terutama dalam lingkungan kepemudaan. Anak-anak HW jangan sampai terseret atau terbenam dalam gerakan-gerakan yang jauh dari dasar dan cita-cita sebagai pemuda-pemuda Muhammadiyah; 3. Supaya tetap dalam tindakan memberikan syiar ke-Islaman. Kepanduan bukanlah jadi tujuan, tetapi sebagai alat. Tujuannya ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sdangkan alatnya disesuaikan dengan kegemaan masyarakat (missal kerja bakti, berbaris dengan seragam, latihan-latihan kerja dll.
Demikian tuntunan atau anjuran dari Majelis Hizbul Wathan dalam masa transisi. Kesemuanya tergantung pada para pemimpin, tetapi wajib bagi kita orang  islam  dalam segala amalan tidak boleh apatis. Pengumuman itu ditanda tangani oleh Acmad Sumitra, B.Sc. sebagai Sekretaris dan Mh. Mawardi sebagai Ketua.
Sejak tahun 1961 sampai dibangkitkan kembali Kepanduan HW (Nopember 1999), Muhammadiyah telah kehilangan salah satu alat perjuangan, yaitu Kepanduan Hizbul Wathan. Dengan hilangnya alat yang menjadi mata rantai kaderisasi Persyarikatan  itu, sangat terasa usaha kaderisasi itu terputus. Kader-kader Muhammadiyah yang telah dibentuk dari usia dini sudah sulit untuk diwujudkan. Akibantya cukup banyak kader yang ditemukan sudah membawa aspirasi lain dan kadang-kadang tidak sejalan dengan paham Muhammadiyah.
Sumbangan Hizbul Wathan.
Izbul Watan dari sejak dibentuk melalui talah melalui proses timbul-tenggelam kareana pengaruh politik kekuasaan. HW telah mendidik anggotanya untuk menjadi manusia yang berakhlaw mulia , cinta tanah air, bangsa dan Negara. Mereka disiapkan sebagai kader bangsa yang cakap dan trampil tidaklahdi ragukan lagi. Melaui pendidikan Hizbul Wathan teciptalah sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mereka siap menjadi tenaga pembangunan yang terpecaya. Mereka yang digembleng dalam Hizbul Wathan kahirnya trampil dalam kepemimpinan didalam Persyarikatan dan Negara kita. Mereka dapat dijadikan suri tauladan bagi siapapun juga. Mereka yakin bahwa apa yang diperbuat merupakan ibadah, melaksanakan perintah Allah SWT semata-mata, oleh karena itu apa yang diperbuat dilandasi dengan hati nurani dan ikhlas.
Tantangan  Persyarikatan
Hizbul Wathan merupakan suatu organisasi kepanduan yang memiliki potensi penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Pendidikan yang diberikan mengandung nilai-nilai luhur yang sangat baik dijadikan dasar pegangan bagi para pelaksana pembangunan nasional kita.
Namun saying tidak semua orang mengerti apakah kepanduan Hizbul Wathan  itu buku bacaan yang berisi uraian Hizbul Wathan dan perjuangannya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, khususnya para penentu kebijakan. Buku Hizbul Wathan yang dicerak perlu segera disebarluaskan ke perpustakaan-perpustakaan dan sekolah-sekolah seluruhIndonesia untuk dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat.
Organisasi Struktural HW sangat penting untuk ditumbuhkan dan dikembangkan dilingkungan Persyarikatan, mulai dari tingkat Ranting sebagaimana yang pernah ada sebelum tahun 1961 di Perguruan Muhammadiyah perlu dibentuk kelompok-kelompok minat anggota HW (Athfal Pengenal dan Penghela) dan dikoordinasikan serta diawasi secara pro aktif perkembangnnya serta kualitas anak didik pandu HW tidak boleh hanya diserahkan kepada semua / Kebijakan para Pempimpin Muhammadiyah, Kenapa ? krena Hizbul Wathan adalah wadah (alat) langsung pengkaderan Muhammadiyah.
B.     PERIODE KEDUA PERIODE KEBANGKITAN HW
         1.   Kapan Kepanduan Hizbul Wathan dibangkitkan kembali dan siapa yang membangkitkan ?
               Gelora yang menggebu-gebu dari para mantan pandu HW yang kurang lebih selama 38 tahun dipendam jebol sudah dengan dibangkitkannya kembali kepanduan Hizbul Wathan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta pada tanggal 18 Nopember 1999 sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah.
               Gelora yang terpendam itu dibuktikan dengan kebangkitan HW Jawa Timur yang dimotori para manula mantan aktifis HW periode pertama. Dengan semangat yang menggebu-gebu itulah akhirnya pada tanggal 6 Mei 2000 dilantik Pengurus Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Jawa Timur di Gedung Wanita Surabaya yang diketuai oleh H. Asmarahadi (mantan pemimpin Pengenal HW Palembang yang hijrah ke Surabaya). Gebrakan demi gebrakan mereka tunjukkan dengan mengadakan kegiatan Pelatihan Taruna Melati Dasar sebanyak 6 kali dan Taruna Melati Menengah dalam waktu kurang dari dua tahun, Mengirim kontingen HW terbanyak sekitar 900 pandu HW (150 orang dari Surabaya) dalam Muktamar Muhammadiyah ke 44 di Jakarta sekaligus menjadi peserta jambore HW yang pertama pada periode kebangkitan.
               Di Surabaya sendiri, 5 (lima) orang ALUMNI Pelatihan Taruna Melati Dasar ke-2 dikumpulkan oleh Ketua PDM, Sdr. A. Wachid Syukur, yaitu MA Malik Gholib (putra dari MAS Gholib kakak kandung KH. MAS Mansur), Abdurrahman Hakim(utusan PCM Karangpilang), Yusuf Ismail Adam, Marwah AS(utusan PCM Tandes), dan M. Ali Fuad (utusan PCM Mulyorejo). Selanjutnya kelima orang tersebut sebagai team formatur pembentukan Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan HW Surabaya yang diketuai oleh MA Malik Gholib.
               Pada tanggal 11 September 2000 di halaman Balai Kota Surabaya Pengurus Kwarda HW Surabaya dilantik dengan ketua MA Malik Gholib dan sekretaris Abdurrahman Hakim. Pada acara tersebut digelar juga Pawai Ta’aruf dalam kota Surabaya yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi Perguruan Muhammadiyah sekota Surabaya, para mantan aktifis HW periode pertama dan para simpatisannya yang kurang lebih diikuti oleh 2000 peserta dan diramaikan oleh Unit Drum Band Hizbul Wathan Kenjeran (juara nasional drum band & marching band Indonesia).
               Selanjutnya terbentuk pula Kwartir Cabang HW Wonocolo yang dipelopori tokoh HW pertama H. A. Qodir (alm) pada tanggal 6 januari 2001 dan Kwartir Cabang HW Mulyorejo pada tanggal 7 Mei 2001.
SEJARAH PEMUDA MUHAMMADIYAH
KOTA SURABAYA
A.   Berdirinya Pemuda Muhammadiyah
Sejarah berdirinya Pemuda Muhammadiyah Surabaya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Hizbul Wathan. Pada tahun 1922 diresmikan Hizbul Wathan sebagai satu bagian Pemuda dan Keolahragaan dari Muhammadiyah Cabang Surabaya. Ketua Hizbul Wathan Cabang Surabaya pertama adalah M.Idris. Tokoh-tokoh lain yang turut berjasa dalam pendirian HW selain M.Idris adalah H.Asy’ary, M.Machin, H.Ismail, Somo, Soekardi, Soeprapto, M.Kaspan, M.Wisatmo. dan masih banyak tokoh lain yang tidak mungkin disebutkan karena terbatasnya ruang.
Saat itu HW mempunyai amal usaha seperti pendidikan Hizbul Wathan (sekarang bernama MUFIDA), Barisan musik HW, Persatuan Sepak Bola HW yang mempelopor sekaligus anggota klub  PERSEBAYA sampai saat ini. Yang menarik HW juga mempunyai group musik yang bernama BARISAN MUSIK HW.  Sedangkan pemuda Muhammadiyah memiliki perpustakaan yang  dikenal dengan nama  TAMAN PUSTAKA PEMUDA MUHAMMADIYAH CABANG SURABAYA selain itu juga mempunyai  KOPERASI yang bergerak dibidang Penatu (Wassery) yang diberi nama PENATU SUCI.
B. Pemuda Muhammadiyah masa perjuangan
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Pemuda Muhammadiyah berperan aktif untuk merebut kemerdekaan. Diantaranya seperti  Anang Hasyim seorang orator ulung  yang senantiasa mengobarkan semangat perjuangan merebut kemerdekaan. Ia juga berjasa membersihkan budaya dan pengajian-pengajian Islam yang banyak diselundupi hadits palsu. Tokoh lain seperti Sa’id Umar yang wafat karena ditangkap dan disiksa tentara Inggris, ia gugur sebagai pejuang membela Islam di Surabaya. Sang ketua Malikin wafat dalam perjalanan akibat kapal yang ditumpangi dibom sekutu. Muhammad Sabjan seorang anggota Pemuda Muhammadiyah yang aktif mengurusi koperasi juga wafat dibunuh tentara Inggris – Gurkha.
Pendek kata, Pemuda Muhammadiyah pada masa perjuangan turut andil memanggul senjata dan mempelopori perlawanan terhadap penjajahan khususnya di kota Surabaya.
C. Pemuda Muhammadiyah Masa Orde lama
       Di masa orde lama ini gerakan dakwah Muhammadiyah sangat tertekan dikarenakan PKI pada saat itu berkuasa. Surabaya dari Walikota sampai Kepala Dinas saat itu dipegang oleh PKI. Suasana dakwahpun tidak menggembirakan. Kita masih diuntungkan dengan adanya Presiden Bung Karno yang masih tetap menyatakan sebagai anggota Muhammadiyah. Pemberontakan PRRI Permesta yang dituding didalangi Muhammadiyah berimbas di Surabaya. Banyak aktifis Muhammadiyah kala itu yang dikerjar-kejar polisi dan ada yang sempat dipenjara misalkan Pak Moeslimin BBA saat itu berumur 17 Tahun.
       Saat HW melebur tahun 1958 menjadi Pemuda Muhammadiyah Surabaya, maka pada tahun 1961-1964 lewat beberapa musyawarah dengan beberapa aktifis Islam membentuk Pemuda Muhammadiyah Cabang Surabaya dengan Ketua Moeslimin BBA (Mantan anggota DPRD Jawa Timur dari PPP) kantor sekretariatnya di Jl. Genteng Muhammadiyah No. 28 Surabaya (saat ini menjadi perguruan Muhammadiyah Genteng)
       Ada hal yang menarik saat Pemuda Muhammadiyah terbentuk yaitu HW putri menjadi terpecah di Nasyiatul Aisyiyah yaitu NA Sewek’an dan NA Rok’an yang NA Rok’an (modern) ikut Pemuda Muhammadiyah jadi pada saat itu anggota Pemuda Muhammadiyah masih ada NA Puteri.
       Amal Usaha atau aktifitas kegiatan yang diadakan :
1.    Pengajian rutin dan PHBI yang dipusatkan disekretariat
2.    Mendirikan kursus Mikro Biologi bekerjasama dengan RSUD Dr. Soetomo
3.    Bersama Aisyiyah mendirikan SGPTK (Sekolah Guru Pendidikan Taman Kanak-kanak) yang dipusatkan di Jl. Plampitan VIII/7 (sekarang TK ABA 1). Sebagai peserta pertama sebanyak 50 Orang. Namun sayang kegiatan SGPTK ini hanya berlangsung sampai 2 tahun.
4.    Mengadakan kursus Tari Srampang Dua Belas
5.    Menghidupkan PS HW dan pada tahun 1963 mengadakan persahabatan dengan PS. Bintang Timur (yang pemainnya banyak dari Nasrani)
6.    Bakti sosial pengecetan Panti Asuhan Muhammadiyah Gersikan
7.    Pemberian bea siswa 6 orang yang sekolah di SMU Muhammadiyah Genteng diantaranya salah satu siswanya adalah tokoh yang sekarang sukses sebagai mubaligh yaitu Farid Anwar, BA
Dikarenakan terbatasnya kader yang mau jadi pengurus sehingga Pak Moeslimin, BBA harus merangkap jabatan ke PWPM Jatim menjadi sekretaris serta menjadi Sekretaris Muhammadiyah Cabang Surabaya Utara.
Mencari tokoh Pengurus Pemuda Muh sangat sulit karena adanya tekanan dari Penguasa diantara Pengurus yang mendapat intimidasi : Mahmud, Nurhasim, Muslimin,
Tahun 1961 Ketua PM SBY mengadakan pengajian tiap Minggu di Jl. Genteng Muhammadiyah saat itu Muslimin sebagai Ketua Daerah Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Surabaya (Ketua PWPM saat itu adalah Ainurrofiq/P Oen. Ihsan Amin.
KOKAM JATIM  ada setelah G 30 S/PKI diluar itu ada pergerakan Ashabul Kahfi (Aktifis Muhammadiyah) diantaranya Muslimin, hisyam yahya, Rafiq Ghani, Anang Fanan, dr. Muslim Gunawan (Pamannya Ketua Kadin JATIM namanya Ir. AIRLANGGA SATRIAGUNG), dr. Muslim Gunawan Posko di Masjid Mujahidin), yang mendanai Hisyam Yahya karena secretariat Muhammadiyah di Jl. Makam Peneleh terus diawasi sehingga pindah ke Mujahidin. KOKAM Mempunyai pasukan perlawanan.  Dan membentuk lagi gerakan FAK (Fron Anti Komunis). Yang dilakukan, Askhabul Kahfi seperti pembakaran Gedung Balai Pemuda sebab disini digunakan sebagai Posko PKI. Daerah Kantong PKI seperti Jl. Kapas Krampung, Jagir, Perak,
SUSUNAN PERSONALIA PWPM JATIM
Untuk PWPM Jatim urutan-urutan Pimpinannya sebagai berikut :
Periode 1                                              : Ahmad Gani   (Ketua)
                                                                    Moeslimin, BBA    (Sekretaris)
Periode 2                                              : Nurhasan Zein    (Ketua)
                                                                    Moeslimin, BBA     (Sekretaris)
Periode 3                                              : Rahmat Djatmiko     (Ketua)
                                                                    Moeslimin, BBA     (Sekretaris)
Periode 4                                              : Pardi     (Ketua)
                                                                    Moeslimin, BBA    (Sekretaris)
Periode 5                                              : Asmara Hadi      (Ketua)
                                                                    Moeslimin, BBA     (Wakil Ketua)
Periode 6                                              : Markum Anwar      (Ketua)
Periode 7                                              : Cholil Subarie      (Ketua Tahun 1980)
Periode 8                                              : Ir. Nadjib      (Ketua)
                                                                    Ito    (Sekretaris)
                                                                  : Ezif M. Fahmi Wasian     (Ketua hasil Ressafel)
Periode 9                                               : Nanang H Kaharudin      (Ketua)
                                                                     Nadjib Hamid      (Sekretaris)
Periode 10                                            : M. Mirdasy     (Ketua)
                                                                    Tamhid Mashudi     (Sekretaris)
Periode 11                                            : Imam Sugiri     (Ketua)
                                                                    Suli Daim      (Sekretaris)
D. Pemuda Muhammadiyah Dari Masa ke Masa
Untuk menggambarkan Perjalanan Pemuda Muhammadiyah kotaSurabaya dari masa-kemasa, berikut ini personalia pimpinan dari periode awal sampai periode 2002-2006, serta  aktifitas  keorganisasian.
 1. Personalia Pimpinan Pemuda Muhammadiyah
     Tahun 1937
     Ketua : Malikin
Anggota : Masdar Wahab, Sueb Said, Nurhasan Zein, Mas Selamet, Said Umar, Amir Umar,  H. Umar Sirad, M. Marzuki, Anwar Zein, Ating Sabdjan
Tahun 1961-1964
Ketua                                                  : Moeslimin, BBA
Anggota                                             : Maimun
Ketua                                                  : Kholil Subari
Sekretaris                                          : Agus Suwondo
Tahun 1985 – 1989
Ketua                                                  : Abdurrahim
Sekretaris                                          : Umar Bahaswan