Minggu , Desember 4 2016
Breaking News
You are here: Home / Update / WAKTU DAN PERUBAHAN

WAKTU DAN PERUBAHAN

Wahyu Allah SWT dalam Al Qur’an pada surat di atas, sudah sangat dikenal dan dihafal. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Di samping karena pendek susunan kata-katanya juga menjadi salah satu bacaan pembiasaan baik di sekolah, madrasah, dan TPQ yang terus diulang-ulang, dengan harapan bisa terpahami secara utuh sejak dini sebagai bekal dalam mengarungi bentangan waktu kehidupan ini. Surat Al Ashr tergolong surat yang pendek karena hanya terdiri dari 3 ayat. Hal ini menunjukkan bahwa waktu kehidupan kita sesungguhnya sangat pendek, sekaligus terjadinya perubahan yang sangat cepat. Jika waktunya hanya disia-siakan tanpa ada karya-karya amal soleh yang membanggakan, maka kerugianlah yang didapatkannya.

Hidup di dunia yang hanya sekali tetapi rugi, baik dari ukuran ekonomi, sosial, moral dan agama, sehingga keberadaannya tidak bermakna. Perannya sangat tidak diperhitungkan, kemampuannya jauh dari keunggulan, perangainya sungguh memalukan karena kehinaan yang ditampilkan, jika sudah demikian maka berkecenderungan melakukan pengrusakan, menebar permusuhan, dan terus terbelenggu dalam kebodohan, keangkuhan, kekufuran, kemunkaran dan kemaksiatan.  Betapa runyamnya kehidupan ini ketika berharta tetapi disalah gunakan untuk pembiayaan kemungkaran yang besar. Ketika berkuasa disalah gunakan untuk memaksa, menindas dengan penuh murka. Persepsi kehidupan merugi telah kacau, bahkan semakin dibanggakan meski curang dan  menjadi pecundang, merasa lebih terhormat dibandingkan dengan yang lain meski tidak bermartabat.

Manusia yang seharusnya mulia, telah berubah dalam rentangan waktu kerugian yang berjalan singkat dan cepat hingga menjadi hina yang berkepanjangan. Manusia yang telah dibekali potensi kesempurnaan, karena terjerat nafsu keserakahan dalam rentang waktu kerugian, sehingga berubah menjadi semakin sempurnalah arogansinya. Kualifikasi keunggulan dalam surat Al Ashr, bahwa  manusia sebagai orang beriman yang beramal soleh, komitmen dengan kebenaran dan kokoh dengan kesabaran, akan menjadikan  waktu kehidupannya untuk meraih kemenangan, kesuksesan, bukan untuk kerugian.

Buya Hamka dalam Tafsirnya Al Azhar terkait surat di atas, mengutip pendapat Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Miftahu Daris-Sa’adah” menerangkan: “Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, hasillah tujuannya menuju kesempurnaan hidup. Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkan kepada orang yang belum pandai memakaikannya. Keempat: Sabar di dalam menyesuaikan diri dengan Kebenaran dan mengamalkan dan mengajarkannya. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini.

Untuk perubahan dalam rentangan waktu yang ada, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan ini. Karena keberadaan kita saat ini merupakan hasil dari proses perubahan yang kontinu. Maka dinamika selama perubahan berlangsung sesungguhnya mampu menyadarkan kepada kita bahwa kerugian yang selalu menyertai dalam kehidupan ini akan berubah menjadi kesuksesan, kemenangan, kesempurnaan dalam martabat kemuliaan. Jika kualifikasi pribadi keungulan dalam surat al Ashar selalu diwujudkan. Seberat apapun tantangan yang menghadang akan dihadapi dengan ketegaran, kebenaran, dan kesabaran, justru tantangan yang berat itu semakin menunjukkan kualifikasi kompetensi diri yang dimiliki untuk meraih kesuksesan yang lebih besar. Ketegarannya mampu menyingkirkan keraguan dan ketakutan. Kebenarannya mampu mengalahkan kebatilan, dan kesabaran yang kokoh akan mampu memantapkan rasa syukur.

Proses perubahan selama rentang waktu itu harus dikawal dengan ketegaran karena keimanan yang kuat, kebenaran yang sempurna, dan kesabaran yang tangguh ketika berhadapan permasalahan kehidupan yang melemahkan, menyakitkan dan menghinakan, sehingga menjadi pemenang dalam berbagai kompetisi kehidupan. Karena kerugian akan berdampak melemahkan dan merusak sehingga proses-proses yang mengarah pada kerugian segera dikembalikan menuju jalan-jalan kemenangan. Ali Bin Abi Tholib memberikan nasehat kepada kita, bahwa : Aib paling besar adalah kembali melakukan kesalahan yang pernah dilakukan; Balaslah orang yang berbuat buruk kepadamu dengan berbuat baik kepadanya; Ketamakan adalah keburukan abadi; Orang yang tidak bisa bersabar akan dihancurkan oleh kesulitan; Binasalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya; Semangat adalah separuh keberhasilan; Orang yang sabar pasti menang, meski kadang butuh waktu lama tuk capai kemenangannya.

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Waktu, bagi orang beriman merupakan peluang meraih kesuksesan dan kemenangan, serta tidak ingin terperosok dalam berbagai bentuk kerugian, sehingga dengan amal soleh, saling menasehati dalam kebenaran untuk komitmen dengan kesabaran, telah menjadi bagian hidupnya. Berbahagialah mereka yang sadar akan adanya perubahan dalam waktu ini untuk meraih kemenangan, dan merugilah mereka yang tidak sadar akan perubahan ini sehingga tergilas percepatan roda waktu. Perubahan waktu, adalah perubahan untuk selalu menuju kemenangan dan kesuksesan, bukan bangga dengan kerugian.

Oleh : Andi Hariyadi

About Klik Muhammadiyah

Situsweb Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya @ Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Sutorejo 73-77 Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top